Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Godaan Faisal



🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya menggeliat ketika tidurnya terganggu oleh Faisal yang membangunkannya. Katanya subuh hampir habis dan membuat Faisal terlihat terburu-buru membangunkan Tasya supaya mereka berdua tidak ketinggalan untuk subuh.


"Loh, kita sudah sampai, Mas?" Tasya sangat terkejut mendapati dirinya yang sudah berada di atas ranjang.


Dia pikir mereka masih berada di perjalanan dan baru sampai hingga Faisal baru membangunkannya. Namun ternyata mereka sudah sampai bahkan hari sudah berganti.


"Hem, mas tidak tega membangunkan mu semalam jadi mas gendong," Jawab Faisal.


"Sekarang bangun dan cepat ambil wudhu, subuh akan segera habis," imbuh Faisal.


Jelas Faisal sudah bersiap bahkan dia juga sudah berganti dengan Koko juga sarung dan hanya tinggal melaksanakan salat shalat.


Sebenarnya Faisal sudah bangun untuk menjalankan salat sunnah tahajud namun tertidur lagi ketika menunggu subuh hingga akhirnya kini mereka berdua kesiangan.


"Hem," meski masih merasa sangat malas tetapi Tasya menuruti apa yang Faisal katakan dan langsung beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan juga ambil wudhu dengan cepat.


Shalat subuh berjamaah pertama kali mereka lakukan di sana. Harapan besar juga keinginan yang terbaik pastilah terselip di doa yang Faisal ucapkan dan tentu diaminkan oleh Tasya.


Dengan penuh hormat dan takzim Tasya mengecup punggung tangan Faisal sementara Faisal berganti mengecup kening Tasya.


Perlakuan manis yang sangat mudah dilakukan untuk semua pasangan namun memiliki pahala yang begitu besar setara dengan mencium Hajar Aswad yang ada di Mekah.


Begitu mudah bukan mencari pahala di dalam ikatan pernikahan. Semua hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan saling ridho semua akan terhitung sebagai pahala.


Hanya hal kecil tapi mampu menggugurkan dosa-dosa yang begitu banyak. Itulah kenapa dalam dalam hubungan pernikahan pasti akan selalu begitu banyak cobaan karena di dalamnya juga begitu banyak kenikmatan dan juga pahala yang selalu mengalir di setiap harinya dan itu akan berjalan hingga seumur hidupnya. Selama masih dalam ikatan suci pernikahan.


Suasana begitu terasa hening namun terdapat rasa bahagia juga rasa takut di hati Tasya. Mereka benar-benar hanya berdua saja di sana karena sang sopir juga pulang dan kembali ke kota. Namun tetap saja di sana ada kendaraan supaya bisa digunakan untuk keduanya ketika jalan-jalan dan berkeliling di area sekitar.


Tasya terus menunduk dia terasa sangat gugup meski hal ini memang sudah biasa terjadi tetapi entahlah merasa ada hal yang berbeda dari sebelumnya.


"Kenapa?" Tanya Faisal yang merasa Aneh ketika melihat Tasya yang begitu pendiam saat ini bahkan juga tidak banyak bergerak.


"Hem," Tasya menggeleng dia sendiri juga tidak tahu kenapa tetapi rasanya memang sangat aneh.


"Kita mau jalan-jalan dulu atau sarapan dulu?" Tanya Faisal. Semua yang akan dilakukan adalah tanggung jawab dari Faisal jadi dia harus memastikan bahwa semua akan berjalan dengan baik dan Tasya juga harus baik-baik saja.


"Ikut mas saja. Tapi aku sangat lapar," jawab Tasya dengan sangat jujur bahkan perutnya juga sempat berbuat berapa kali tadi.


"Baiklah, kamu mau bantuin?" Tanya Faisal.


"Hem, aku ganti baju dulu Mas. Dari kemarin masih pakai baju ini, nggak enak. Aku akan nyusul setelah ganti," Jawab Tasya.


"Hem, bagaimana kalau aku tunggu?" Satu mata Faisal berkedip nakal menggoda Tasya dan yang jelas langsung melebarkan mata dan juga mulutnya.


"Mulai deh," ucap Tasya dan hanya membuat Faisal terkekeh geli sendiri melihat wajah Tasya yang begitu lucu dan menggemaskan.


"Nggak, Mas ke dapur dulu jangan lama-lama takut kangen," Faisal semakin terkekeh karena perkataannya sendiri.


"Ihh!" Kesel Tasya langsung mencubit perut Faisal namun membuatnya malah tertawa.


"Hem, udah berani pegang-pegang ya sekarang."


"Ihh, apa sih! Cepat keluar sana," wajah Tasya memerah jelas aja dia sangat malu karena terus digoda oleh Faisal.


Tasya menunduk namun dia tidak untuk menyembunyikan rasa malunya hingga dia tersenyum namun dia sembunyikan.


"Kalau kangen cepat keluar ya, dan ya! Nanti bebas kok pegang-pegang," ucapnya. Kembali pintu tertutup namun mulut Tasya yang terbuka begitu lebar karena tidak percaya ternyata mulut suaminya lemes juga.


Setelah menunggu ada lagi pergerakan pintu Tasya langsung melepaskan mukena dan melipatnya menaruhnya di sofa dia bertugas untuk membuka kopernya.


Tasya berlari ke arah pintu dan bergegas menguncinya lalu dia mengambil handuk yang di tatanan paling atas dan masuk ke kamar mandi begitu saja.


Tak berapa lama Tasya kembali keluar dengan tubuh yang sudah segar dan hanya memakai handuk saja untuk menutupi tubuhnya. Tasya menghampiri kopernya untuk mengambil baju untuk ganti.


Namun apa yang ada di dalam koper membuat Tasya membulatkan matanya begitu juga dengan mulutnya yang menganga sangat lebar.


"Apa-apaan ini?" Tentu Tasya akan terperangap tak percaya karena semua baju yang ada di dalam koper benar-benar hanya baju tidur yang berupa daster-daster mini. Entah perbuatan siapa itu.


"Mana yang harus aku pakai?" ucap Tasya begitu bingung.


Semua baju yang ada di dalam koper punya miliknya tidak ada yang benar, semua adalah baju-baju yang kemarin sangat dihindari oleh Tasya dan sekarang hanya ada baju-baju tersebut.


"Astaghfirullah, Mana mungkin aku akan memakai baju seperti ini terus. Biar bagaimanapun Mas Faisal adalah laki-laki normal kalau aku pakai baju seperti ini entah apa yang akan terjadi?" gumamnya.


Tasya begitu bingung dia terus berpikir apa yang akan dia pakai.


Tak sengaja Tasya melirik ke koper Faisal yang terbuka dan di sana terdapat beberapa sarung, kaos juga koko tetapi mana mungkin Tasya akan memakai baju Faisal lagi.


Terpaksa Tasya memilih daster yang paling sopan tentu yang memiliki lengan meski hanya lengan pendek, itu tak jadi masalah. Tasya juga mengambil sarung punya Faisal dan kembali masuk ke kamar mandi.


Dan akhirnya selesailah masalah Tasya saat ini, tas yang memakai daster yang panjangnya hanya selutut dan ditambah dengan memakai sarung. Tidak begitu terbuka kan sekarang?


Tasya bernapas lega akhirnya dia bisa keluar dengan bebas tanpa merasa takut. Tak peduli apa yang akan dikatakan oleh Faisal nanti yang terpenting Tasya bisa menutupi auratnya.


Ternyata Tasya masih belum benar-benar paham Dia pikir suaminya pun tidak boleh melihat auratnya. Dia pikir semuanya sama hingga dia juga berusaha menutupi auratnya meski sama Faisal.


Tasya keluar dari kamar tentu dia juga memakai jilbab instan yang lebih mudah dipakai, dia pun bergegas menghampiri Faisal yang ada di dapur semoga saja dia bisa membantu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Sudah selesai, Mas?" Tanya Tasya.


Faisal menoleh ke arah Tasya hingga melihat bagaimana penampilan Tasya saat ini. Faisal terpaku melihat Tasya yang seperti itu dia juga merasa saat heran.


"Ini..., bajunya tidak ada yang benar jadi Tasya pinjem sarung punya Mas, boleh kan?" Tasya menunduk antara malu juga takut.


"Boleh, pakai saja. Nggak pakai sarung juga tidak apa-apa."


"Kata mas, kan nggak boleh memperlihatkan aurat," Tasya masih saja berdiri di tempat.


Faisal berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan tanya, dia tersenyum, Faisal sangat senang karena Tasya mendengarkannya untuk menutupi aurat tetapi dia masih kurang setengah dalam menjelaskannya.


"Memang, wajib bagi semua orang untuk menutup Aurat. Tapi, ada orang-orang tertentu yang boleh melihatnya, contohnya adalah pasangan halal. Entah suami atau istri. Jadi aku bisa melihat aurat mu, begitu juga sebaliknya karena kita halal."


"Tapi berbeda jika bukan pasangan suami istri. Tidak boleh bersentuhan juga tidak boleh melihat aurat orang lain. Kamu mengerti?"


Tasya mengangguk. Tapi dia juga masih berpikir, dia mungkin bisa memakai baju-baju yang ada di kopernya tapi pasalnya dia masih sangat malu untuk itu.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....