Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Bingung Mencari Tasya



🌾🌾🌾🌾🌾


Bimo dan teman-temannya terus melangkah mencari-cari keberadaan Tasya. Mereka sudah mendatangi panti tapi tempat itu begitu sepi, bahkan pintu gerbang juga terkunci.


Mereka sangat yakin kalau Tasya pergi keluar mereka begitu yakin kalau Tasya pasti pergi ke pasar atau kalau tidak pergi ke jalan-jalan sekedar untuk melangkahkan kaki seperti biasanya.


Mereka begitu bingung karena sudah jalan begitu jauh tetapi belum ada tanda-tanda mereka akan menemukan keberadaan Tasya.


"Bos, kita akan mencari kemana lagi? Aku sudah lelah bos, kaki ini juga terasa mau patah," keluh Agus.


"Iya, Bos. Kita berhenti dulu ya di sini, nggak usah lama-lama sih yang penting istirahat sejenak setelah lelahnya hilang baru kita berangkat lagi mencari Tasya," Dadang juga sama.


"He'em. Lelah banget, Bos." Kipli pun tak mau kalah.


"Payah sekali sih kalian baru juga segini sudah mengeluh. Nggak nggak! Kita harus secepatnya bergerak untuk mencari keberadaan Tasya kita tidak pernah tahu apa yang terjadi kepadanya. Bagaimana kalau orang-orang yang mencarinya kemarin berhasil menangkapnya?" Bimo tetap kekeuh untuk terus mencari keberadaan Tasya yang dia sendiri pun juga tidak tahu.


"Tapi, Bos," Dadang benar-benar merasa sangat kelelahan.


Langkah mereka sudah begitu lelah begitu pelan juga sempoyongan. Udara juga begitu panas hingga wajah mereka terlihat begitu merah dengan keringat yang terus keluar juga terus mereka usap dengan tangan.


"Ya sudah, kalau kalian memang tidak mau mencari Tasya biar aku saja yang mencarinya," Bimo terlihat sangat kesal dengan mereka bertiga karena merasa mereka memang tidak berniat untuk mencari keberadaan Tasya.


Bimo melenggang dengan cepat dia tetap tidak mau berhenti sekedar istirahat meski dia sendiri juga sangat lelah dia sudah sangat khawatir dengan Tasya yang beberapa hari ini tidak pernah dilihat. Mungkin karena dia juga sangat merindukan gadis itu.


"Bos, tunggu!" Akhirnya mereka bertiga kembali berjalan mengejar Bimo meski sangat lelah, Mungkin memang benar mereka harus secepatnya menemukan Tasya siapa tahu sekarang Tasya membutuhkan bantuan mereka bertiga.


Di depan hotel yang sangat mewah dan begitu sangat ramai akan para pengunjung dengan balutan baju yang istimewa mereka berempat berhenti di depan Hotel itu, apalagi tengah ada pembagian nasi kotak pada siapapun yang melintas di sana.


Dua orang dengan membawa masing-masing dua kotak mendekati mereka berempat sepertinya mereka berniat untuk memberikan nasi tersebut kepada mereka.


"Ini ada makanan untuk kalian, silahkan di terima ya," ucap satu orang mewakili.


"Ini ada acara apa yang, Mas?" Dadang iseng bertanya dengan tangan yang menerima uluran nasi kotak tersebut dari orang pria yang mendekatinya.


"Oh ini. Ada pasangan yang sedang merayakan kebahagiaannya karena telah menikah beberapa hari yang lalu dan sekarang mereka tengah mengadakan resepsi di hotel ini. Ini juga dari mereka karena ingin berbagi bahagia dengan siapapun yang melintas."


"Oh begitu ya, Mas. Terima kasih ya, semoga pernikahan mereka selalu langgeng dan juga selalu bahagia," Jawab Dadang.


"Semoga cepat dapat momongan banyak! Sekalian sebelas biar jadi pemain sepak bola," ucap Kipli menambahi.


"Stts.." Agus menoleh dan menyenggol lengan Kipli dengan lengannya sendiri karena merasa omongan Kipli terlalu berlebihan.


"Terima kasih, ucapkan pada pasangan semoga bahagia," ucap Bimo meski terdengar begitu acuh dia juga menerima nasi kotak tersebut.


"Terima kasih atas doanya. Semoga kalian juga suka dan menikmati makanannya," kedua orang tersebut langsung pergi meninggalkan mereka berempat.


Kebetulan mereka juga sangat lelah dan juga lapar setelah mendapatkan makanan itu mereka berempat mencari tempat untuk duduk dan menikmati makanan.


Tidak jelas siapa yang telah berbahagia hari ini dan membagi kebahagiaan kepada mereka dengan cara membagikan makanan yang enak tentu dengan gratis.


Jelas mereka juga sangat menikmati makanan tersebut.


Bimo menghentikan makannya ketika melihat Ilham juga Hasan yang masuk ke hotel jelas Bimo sangat mengenal mereka berdua karena beberapa kali pernah bertemu.


Bimo hanya tercenung sejenak namun tidak ada rasa curiga sama sekali, bahkan dia juga tidak ingin tahu siapa pasangan yang tengah berbahagia saat ini dia hanya berpikir mungkin salah satu dari keluarga mereka.


"Tidak," Jawab Bimo dan kembali menikmati makanan tersebut. Namun, di saat mereka berempat tidak menyadari ternyata semua anak-anak yang mereka kenal masuk ke hotel dengan di dampingi bu Yulia dan sang Suami bahkan ada Dina juga yang ikut serta.


Bimo kembali melihat namun sudah terlambat, mereka semua sudah masuk.


🌾🌾🌾🌾🌾


Begitu bahagia semua orang ketiga dalam acara resepsi yang telah di adakan. Tak henti-hentinya para tamu yang berdatangan untuk mengucapkan selamat dan memberikan doa-doa terbaik untuk Faisal juga Tasya.


Keadaan semakin meriah ketika anak-anak panti berdatangan dan langsung menyerbu panggung untuk menghampiri Tasya dan Faisal.


Bukan hanya anak-anak saja yang terlihat begitu bahagia melihat kebahagiaan pasangan yang ada di atas panggung, tetapi Tasya juga Faisal lebih bahagia lagi karena mereka semua datang.


Mereka langsung menghampiri, mengucapkan selamat juga memeluk Tasya dan Faisal secara bergantian juga menggoda keduanya hingga suara tawa terdengar begitu meriah di acara tersebut.


Sungguh, kebahagiaan Tasya terasa begitu lengkap dengan kehadiran mereka semua. Tasya seakan memiliki keluarga besar yang sangat sangat peduli dengannya.


Tangis haru bercampur dengan tawa, itulah yang sekarang Tasya alami. Dia sangat bahagia hingga air mata kebahagiaan itu lolos satu persatu dari matanya.


"Kak Tasya jangan nangis dong. Ini kan hari bahagia jadi nggak boleh nangis. Kak Tasya juga tidak boleh cengeng kan sekarang sudah ada kak tampan yang akan selalu bahagiain kakak, iya kan Kak tampan?" ucap Salwa.


"Pasti dong. Kakak akan selalu bahagiakan kak Tasya," Faisal tersenyum dia juga langsung merangkul pundak Tasya dan satu tangannya menghapus air mata Tasya.


"Jangan menangis lagi, nggak enak di lihat anak-anak," Bisik Faisal.


"Ih, kakak tampan ya. Udah main bisik-bisik sama kak Tasya," protes Salwa sangat tak suka melihat Faisal yang bisikin sesuatu pada Tasya.


"Hehe, nggak kok. Hanya lihat telinga kak Tasya saja. Kayaknya ada semut tadi mau masuk," Faisal meringis.


"Ih, kak tampan bohong mana ada semut masuk telinga," Ternyata Salwa anak yang pintar, dia tak mudah di bohongi oleh Faisal.


Semua tersenyum melihat apa yang ada di hadapan mereka semua. Semua itu terlihat sangat lucu juga begitu menggemaskan.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Hem..." Ragu-ragu Ilham menyapa Dina yang ada di hadapannya. Kemarin-kemarin gadis itu begitu cerewet tapi entah kenapa dia diam saja sekarang.


"Ha_hay, mas Ilham," Dina menyapa dengan gugup. Tangannya juga langsung terangkat untuk menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Hem, bagaimana keadaan mu?"


"Ba_baik, Mas." Jawabnya.


"Hem, aku jadi nyamuk ini di sini. Aku pergi dulu ya, Mas. Ingat, jangan dempet-dempetan bukan mahram. Kalau mau pengen dempet-dempetan cepetan halalin juga seperti mas Faisal," Hasan bergegas pergi.


"Hem," Ilham menggeleng.


Dina semakin pendiam sekarang.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....