
🌾🌾🌾🌾🌾
Faisal membuka mata perlahan, kali ini bukan Tasya yang lebih dulu bangun tapi dirinya. Seperti biasa meski sudah selalu ada guling sebagai pembatas untuk mereka tidur tapi tetap saja akhirnya Faisal akan memeluk Tasya.
Guling_nya sudah berpindah tempat di sebelah Tasya dan tentu di timpa oleh lengannya.
Terlihat begitu damai Tasya dalam tidurnya, tangannya juga menggenggam tangan Faisal seolah tak ingin di lepaskan padahal kalau sadar saja dia selalu ingin menjauh dan tak mau di sentuh. Aneh sih.
Cup...
Sedikit menyesal, kenapa harus menjadi pencuri hanya sekedar ingin mencium pipi saja. Tapi kalau tidak seperti itu Faisal bahkan tak bisa menciumnya.
Mata Tasya terlihat sedikit berkedip dan dengan cepat Faisal pura-pura menutup mata, sekarang giliran Faisal yang pura-pura tidur.
Tasya menoleh tentu dia akan melihat Faisal yang terlelap. Jantungnya seakan bergemuruh ketika menyadari tangan Faisal ada di atas perut dan memeluknya. Tasya panik dalam sesaat, tapi dia tak mau menyingkirkan dan membuat Faisal terbangun.
'Perasaan tadi ada yang mencium ku tapi mas Faisal masih tidur apakah aku hanya bermimpi?' batin Tasya.
Tasya beralih miring ke arah Faisal melihat wajah suaminya itu yang begitu damai.
"Maafkan Tasya ya Mas. Tasya belum bisa memberikan apa yang memang menjadi hak kamu. Aku memang takut, tapi jika saja mas memintanya Tasya akan berikan. Kata mama akan berdosa kalau menolak keinginan suami karena itu Tasya tidak mau berdosa."
Ucapan Tasya jelas-jelas akan di dengar oleh Faisal, ada angin segar untuk Faisal dia bisa memintanya dan Tasya akan berikan. Tapi, Faisal masih tak ingin kalau Tasya memberikannya tidak karena keinginannya sendiri tapi hanya karena takut.
Faisal tidak mau hubungan yang mungkin akan di lakukan pertama kalinya hanya berdasarkan ketakutan bukan saling ridho juga saling cinta. Faisal tidak mau semua akan menjadi penyesalan di kemudian hari.
"Sekarang Tasya percaya, mas adalah orang baik, tidak akan mungkin mas meninggalkan Tasya," imbuhnya.
Benarkah Tasya akan bersedia melakukan nya setelah mengakui?
'Kalau aku melakukannya apakah aku seperti pencuri?' batin Tasya, melihat bibir Faisal Tasya begitu ingin mengecupnya. Dia belum pernah merasakan bagaimana perasaannya ketika dia yang melakukan itu karena biasanya Faisal yang lebih dulu melakukan ketika mereka selesai shalat berdua.
Entah apa yang membuat Tasya lebih berani kali ini, dia melihat wajah Faisal penuh pesona, dia perlahan mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan di bibir Faisal. Tasya yang melakukannya tapi dia sendiri yang merasa sangat malu, pipinya bahkan langsung memerah padahal Faisal sendiri dia tertidur? Tapi bohong.
Tasya melepaskannya, menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Faisal yang masih tetap sama.
"Terima kasih morning kiss nya," ucap Faisal dengan mata yang perlahan terbuka. Faisal juga tersenyum, dia sangat bahagia mendapatkan kecupan itu dari Tasya. Setidaknya ini adalah awal yang bagus.
Mata Tasya membulat, pipi merah merona karena menyadari kelakuannya sangat memalukan. Dia telah mencium Faisal tidak tanggung-tanggung dan langsung mengarah pada bibirnya.
"Ma_mas, mas sejak kapan bangun?" Tasya begitu gugup.
"Sejak kamu belum bangun," jawab Faisal, dia merasa menang saat ini. Tasya saja bisa pura-pura tidur kenapa dia tidak?
"Mas bohongin Tasya?" Tasya terlihat kesal karena itu.
"Hem, maaf."
Tasya ingin beranjak, dia ingin pergi dari hadapan Faisal dia sangat kesal padanya karena merasa di bohongi. Seperti itukah rasanya ketika ada orang yang membohongi, bagaimana perasaan Faisal saat Tasya juga melakukan hal yang sama, bahkan Tasya bukan hanya sekali saja.
Sebelum Tasya benar-benar pergi Faisal langsung memeluknya dari belakang menahannya supaya tidak pergi.
"Mas minta maaf, mas menyesal. Janji tidak akan mengulangi lagi. Di maafin kan?" ucap Faisal yang begitu erat memeluk Tasya.
"Di maafin kan?" kembali Faisal berucap.
"Lepasin, Mas," sepertinya Tasya masih tak mengerti.
"Tidak mau," kini giliran Faisal yang merengek.
Tasya tak menjawab dia benar-benar marah sepertinya. Tapi, diamnya Tasya malah membuat Faisal semakin asyik di belakangnya.
Tangan Faisal menyingkirkan rambut yang menutupi tengkuk Tasya dan setelahnya dia menghujani kecupan di sana. Membuat Tasya merasakan geli-geli nikmat yang terasa amat berbeda.
Jantungnya bekerja lebih keras dengan darah yang mulai berdesir panas. Ada perasaan yang aneh yang datang dan belum pernah Tasya rasakan sebelumnya.
"M_mas..." Tasya melenguh, matanya terpejam merasakan sensasi yang luar biasa. Ingin dia menolak tapi rasanya tak mampu. Perasaan apa ini?
Rasanya sangat aneh, semakin geli tapi juga semakin mendatangkan nikmat. Sapuan lembut dari bibir Faisal benar-benar terasa memabukkan.
Tubuh Tasya semakin merinding tapi juga merasa panas sungguh sensasi yang tak biasa.
"M_mas," suara Tasya sudah bergetar tak karuan. Dia ingin menolak tapi dia juga ingin lebih. Sungguh munafik tapi itulah kebenarannya. Tasya takut tapi juga sangat penasaran dengan rasa selanjutnya.
Faisal mengangkat wajahnya, melihat ekspresi Tasya yang sangat menggemaskan. Ternyata istrinya begitu menikmati akan sentuhannya tapi juga terlihat jelas ada ketakutan di wajahnya.
Faisal ingin melanjutkan, tapi dia tidak ingin melihat ketakutan itu di wajah Tasya. Faisal ingin penyatuan mereka benar-benar saling ridho dan ikhlas hingga keduanya benar-benar akan mendapatkan kepuasan setelahnya. Bukan puas namun masih terbesit penyesalan.
"Kita shalat sekarang?" tanya Faisal.
"Hah!" Tasya terkesiap dia membuka matanya dan ternyata Faisal sudah duduk. Sejak kapan Faisal duduk, kenapa Tasya tak menyadari pergerakannya apakah karena dia begitu menikmati tadi?
"Kenapa, apakah kamu benar-benar mau kita melakukannya sekarang?" tanya Faisal dengan mata mengerling nakal.
Ingin menjawab apa?
Tasya begitu malu, ingin mengatakan tidak tapi dia tadi begitu menikmati dan dia masih merasa penasaran dengan rasa yang aneh itu. Ingin mengatakan iya, tapi dia sangat takut.
"Kita lanjutkan jika kamu benar-benar sudah siap, Mas akan setia menunggu," ucap Faisal.
"Sekarang ambil wudhu, kita shalat tahajud sebelum waktu subuh tiba," pinta Faisal.
"I_iya," Tasya begitu gugup, dia perlahan duduk dan turun perlahan dari ranjang. Jantungnya masih saja bekerja dengan sangat cepat bahkan meski dia sudah ada di kamar mandi.
"Perasaan apa tadi, benarkah aku juga menikmatinya? kenapa aku tidak bisa menolak, ish, sepertinya kau sudah gila Sya," gumam Tasya yang merutuki diri sendiri ketika di dalam kamar mandi.
Sementara Faisal yang masih menunggu di luar hanya bisa tersenyum dengan kenakalannya di pagi ini. Hatinya begitu berbunga-bunga karena bisa melakukan itu tanpa ada penolakan dari Tasya.
"Ya Allah, baru seperti ini saja rasanya sudah nikmat sekali." gumam Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...