Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Mengagumi Diri Sendiri



🌾🌾🌾🌾🌾


"Astaghfirullah, gerimis gerimis begini kenapa rasanya malah gerah begini ya?" adu Tasya yang benar-benar merasa kegerahan di dalam kamar.


Malam sudah larut, gerimis juga sedang melanda bahkan AC juga sudah di nyalakan tapi Tasya tetap saja merasa panas. Entah apa yang terjadi kepada dirinya sendiri saat ini.


Semuanya baik-baik saja, hanya saja Tasya barusan makan sup hangat juga pedas mungkin itulah yang mengakibatkan dia merasa gerah seperti sekarang ini.


Tasya masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya sekedar untuk menghilangkan rasa gerahnya tapi ternyata itu tak mudah, tetap saja rasa panas itu begitu menyiksanya.


Tasya kembali keluar dia langsung melepaskan hijabnya dan dia lempar begitu saja di sofa. Sepertinya kebiasaan dalam kerapian belum bisa Tasya tanamkan pada diri sendiri seperti Faisal yang selalu memperhatikan kerapian.


Faisal selalu saja menaruh apapun di tempat semestinya tapi berbeda dengan Tasya yang masih sering melempar begitu saja hijab yang barusan dia pakai.


Tasya mencari remot AC, dia operasikan hingga udara di kamar menjadi begitu dingin tapi kenapa masih belum mampu menghilangkan rasa panasnya.


"Ganti baju aja deh," Tasya yang sudah sempat duduk langsung berdiri lagi dan menghampiri lemari, mencari-cari baju yang akan sangat enak dan terasa dingin ketika di pakai.


"Semua baju berlengan panjang, aku harus pakai yang mana?" Tasya nampak bingung.


Tangannya berhasil meraih baju berwarna ungu berbahan dari satin yang dulu sempat Faisal pilihkan namun dia menolak dan akhirnya tetap dia beli juga.


Terlihat dia mengeluarkan dari lemari tapi dia tampak menimang-nimang apakah benar dia akan memakainya.


"Tapi ini begitu seksi kan?" ucapnya.


Tangannya membuka lebar baju tersebut menempelkannya di tubuhnya. Rasanya sangat enak jika di pakai dan sangat lembut juga dingin.


"Kalau pakai ini kalau mas Faisal tau bagaimana?"


Namun rasa gerah tak dapat di tahan lagi hingga akhirnya Tasya benar-benar ingin memakainya. Dia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan keluar lagi setelah mengganti bajunya.


"Sebentar saja nggak masalah. Mas Faisal juga belum kembali kalau mas Faisal masuk aku bisa cepat-cepat menggantinya."


Tasya berdiri di depan cermin melihat dirinya yang berbalutkan baju tidur yang sebenarnya pilihan Faisal tersebut, dia tersenyum karena rasanya memang sangat nyaman. Ternyata Faisal memang pintar memilih.


"Lumayan," katanya. Senyumnya begitu manis dengan sesekali dia menggerakkan dirinya sendiri ke kanan dan ke kiri.


"Baru kali ini aku benar-benar terlihat seperti perempuan, biasanya kan kayak laki-laki, hehehe," Tasya terkekeh sendiri melihat perbedaan sekarang dah biasanya. Mungkin ini benar-benar sangat berbeda.


Tasya duduk di bangku dengan meja rias tersebut, sesekali dia tersenyum dengan menyisir rambutnya dengan menggunakan jari-jarinya.


"Benarkah ini kamu, Sya?" tanyanya seolah tak percaya pada dirinya sendiri.


Wajahnya terlihat segar dan cantik, rambut di gerai panjang dengan balutan baju tidur, ini benar-benar bukan seperti Tasya pada biasanya.


Hal yang paling membuat Tasya merasa geli sendiri adalah dia yang begitu percaya diri dan mengakui kalau dia cantik. Pede sekali kan dia, tapi emang sebenarnya sangat cantik hanya saja Tasya yang tak menyadari akan semua hal itu.


Tasya mengambil sisir, menyisir rambutnya dengan sangat pelan hingga rambut itu benar-benar tertata rapi. Rambut panjang adalah mahkota kedua untuk seorang perempuan.


Yang pertama kehormatannya dan yang kedua adalah rambutnya. Keduanya sangat harus benar-benar di jaga dengan baik dan itu kenapa sampai sekarang Tasya selalu memanjangkan rambutnya. Jaman sudah berubah-rubah, sudah banyak yang terbalik. Kemarin Tasya belum bisa benar-benar menjadi selayaknya seorang perempuan dengan pakaiannya tapi setidaknya dia memiliki rambut panjang yang akan menjelaskannya.


Kini, Tasya sudah berhasil menjaga keduanya. Menjaga rambutnya hingga begitu panjang dan membuat dia semakin cantik dan dia juga menjaga kehormatannya yang hanya akan dia berikan kepada laki-laki yang telah halal untuknya. Keduanya hanya untuk suaminya saja. Meski sampai sekarang dia belum memberikannya.


Tasya hanya masih takut jika laki-laki itu semua sama, dia tidak ingin menderita seperti ibunya yang benar-benar memberikan semuanya pada seorang laki-laki dan akhirnya dia terus di sakiti.


"Benarkah mas Faisal itu berbeda dari ayah?" matanya memandangi pantulannya sendiri dengan kosong dia masih berpikir kalau Faisal itu akan sama seperti ayahnya.


Kenapa begitu susah untuk membuat Tasya takluk dan menerima Faisal. Semua laki-laki tidak sama semua ada sisi yang berbeda. Tak semuanya kejam dan tak semuanya jahat.


"Tapi sejauh ini mas Faisal sangat baik. Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya sendiri. Kalau doa benar-benar seperti ayah pasti dia sudah memaksa ku untuk memberikan haknya tapi dia tidak melakukan. Dia memilih menunggu sampai aku memberikannya sendiri."


"Lalu, apa yang kamu ragukan darinya, Sya?" ucapnya.


Apakah karena itu Tasya selalu menjauh dari Faisal dan selalu menghindar saat Faisal berbicara tentang hal-hal yang intim?


"Dia tidak sama, Sya. Dia sangat berbeda. Dia tidak seperti ayahmu yang mata duitan dan selalu membuat perempuannya menderita, dia tidak seperti itu?"


"Jadi stop kamu meragukan kebaikan dan ketulusannya, Sya. Dia benar-benar baik," terus Tasya menasehati dirinya sendiri.


Mencoba menerima apa yang dia katakan dan menjauhi dari semua pikiran negatif yang ada dalam pikirannya.


"Ta_tapi..., tapi aku belum siap?" ucapannya begitu lirih.


Hingga akhirnya matanya langsung terbelalak dan wajahnya seketika menoleh ke arah pintu setelah dia mendengar perlahan pintu akan terbuka.


Sudah di pastikan pasti Faisal yang sudah kembali dari masjid, dia pasti sudah pulang.


Sebelum Faisal benar-benar masuk Tasya meletakkan sisirnya dia berlari dan lompat ke kasur. Tentu dia akan menutupi apa yang dia pakai sekarang.


"Assalamu'alaikum," Faisal mengucapkan salam seperti biasa.


Daud menoleh dan melihat Tasya sudah ada di atas kasur dan menutup seluruh tubuhnya. Hanya sebatas leher ke atas saja yang terlihat tapi dia juga pura-pura tidur.


'Wa'alaikumsalam,' jawab Tasya dengan membatin.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....