
🌾🌾🌾🌾🌾
Semakin akrab saja hubungan Bimo CS dengan Tasya. Mereka bahkan selalu mengikuti Tasya kemanapun dia pergi. Jelas itu malah membuat Rasa kesal bukan main karena terus menerus ada mereka.
"Kalian kenapa sih ngikutin terus, apa nggak ada kerjaan?" pertanyaan Tasya terdengar begitu judes.
"Kita kan teman, bukannya teman harus selalu bersama ya?" Kipli berbicara.
"Iya, tapi nggak harus gini juga kan. Aku nggak suka kalian terus ikutin gini, masak iya mau ke toilet juga di ikutin. Sana pergi-pergi!" usir Tasya.
"Biarkan kami menjagamu, Tasya. Kalau sampai ada penjahat tiba-tiba masuk toilet dan ngapa-ngapain kamu bagaimana?" sekarang Dadang yang berucap.
Agus hanya mengangguk sementara Bimo dian tanpa ekspresi dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
"Halah, bilang aja kalian yang takut. Pergi sana! kalau tidak aku yang akan pergi dari kalian," ancam Tasya.
Tak susah untuk Tasya bisa pergi dari mereka, entah punya ajian ngilang atau apa tapi sangat mudah bagi Tasya hilang dari hadapan mereka. Sebenarnya itu karena tubuhnya yang kecil dan terlalu gesit sih.
"Eh, Jangan-jangan! oke kami akan tunggu kamu di sana," Agus berucap dengan tangan yang terangkat dan menunjuk ke arah lain.
Tasya tak peduli dan langsung menghilang di saat keempat pria itu sama-sama menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Agus.
"Lah, Tasya ke mana?" Kipli yang awal menyadari kalau Tasya sudah hilang dari pandangan mereka. Semua ikut bingung sekarang dan berusaha mencari keberadaan Tasya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Langkah Tasya begitu buru-buru, tapi tak berapa lama nafasnya sangat lega setelah akhirnya bisa kabur dari keempat pria yang selalu mengikutinya.
"Hem, sudah kayak penjahat saja terus di awasi. Kalau seperti tuan putri dengan banyak pengawal mah enak, lah ini?"
Tasya terus melangkah entah akan kemana kakinya membawa dia pergi. Sudah begitu jauh dari pasar bahkan pasar itu juga sudah tak terlihat di matanya.
"Lah, kenapa aku ke sini? sebenarnya aku mau kemana?" Tasya merasa bingung sendiri karena dia yang tak menyadari.
Di gedung tua dan sangat besar dan jelas tak berpenghuni Tasya di bikin terperangah saat melihat beberapa mobil yang terparkir di depan gedung.
Bukan karena mobilnya yang membuat Tasya terperangah tapi orang-orang bertubuh kekar juga bertato yang tengah menurunkan beberapa orang dan membawanya masuk ke dalam gedung.
"Eh, mereka siapa. Kenapa mereka membawa orang-orang itu di saat tidak sadar. Apakah ini penculikan?" gumam Tasya.
Tasya masih bersembunyi, setelah semua orang masuk baru Tasya mengendap-endap dan masuk pekarangan gedung.
Tasya sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi dan siapa yang mereka bawa.
Dengan tubuh kecilnya Tasya bisa bergerak dengan gesit untuk bisa melihat para orang-orang yang mereka bawa.
Tasya tidak masuk, hanya melihat dari jendela ke jendela yang ada di luar gedung.
"Sadis amat. Astaga, mereka orang-orang tua loh. Kenapa mereka tega sekali," gumam Tasya begitu pelan. Ada lima orang yang di bawa. Dua laki-laki, dan tiga perempuan.
Terlihat ada beberapa orang yang sudah menunggu di dalam, yakin dia adalah bos dari para penjahat itu. Terlihat dia yang begitu bahagia saat para bawahannya membawa semua orang.
"Astaga, kuat-kuat tapi di gunakan untuk kejahatan seperti ini. Dasar pada nggak punya otak nih mereka," gumamnya lagi.
Tasya malah uring-uringan sendiri gara-gara melihat perlakuan mereka semua pada beberapa orang yang masih tak sadarkan diri.
"Ternyata hidup di kota memang sangat keras. Memang banyak orang baik tapi juga lebih banyak orang yang jahat. Harus bisa hati-hati dan terus waspada jika hidup di kota apalagi hidup di jalanan seperti ku."
Begitu banyak argumen yang Tasya ucapkan dengan mata yang terus melihat orang-orang yang terus bertindak sesuka hati mereka.
"Apa harus lapor polisi?"
"Tapi mana mungkin polisi akan percaya pada anak jalanan seperti ku ini. Mana kemarin aku berdebat lagi," gumamnya. Entah ada masalah apa tapi Tasya memang pernah berdebat dengan seorang polisi.
"Hahaha, sebentar lagi keluarga Saputra akan habis. Sebentar lagi hanya tinggal nama. Hahaha!" Tawa orang itu begitu keras.
"Kamu, kamu! hanya akan tinggal nama," dengan begitu sadisnya pria itu menjambak seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayah Tasya.
Bukan hanya dia saja, tapi juga menarik hijab nenek tua hingga wajahnya mendongak. Benar-benar kejam dia bahkan itu dia lakukan pada orang yang masih tak sadarkan diri.
Tangan Tasya mengepal, dia sangat geram dengan orang-orang yang seperti ini. Sebesar apapun masalah seharusnya tidak di selesaikan dengan cara seperti ini kan? semua bisa di lakukan dengan cara baik-baik.
Tasya percaya, ada dendam di hati orang itu. Dendam yang begitu besar hingga menutup hatinya.
"Apakah aku harus menolongnya sekarang?" gumamnya lagi.
"Tidak-tidak! aku belum tau dia orang yang seperti apa. Mana mereka semua bawa senjata api lagi? jelas jika aku masuk sekarang aku yang akan menjadi sasaran dari mereka."
Menunggu waktu yang pas adalah jalan paling benar untuk Tasya lakukan. Tak masalah dia harus menunggu. Di samping harus menolong mereka semua Tasya juga harus memikirkan keselamatannya juga kan?
Tak boleh grusa-grusu kata orang tua mah.
Dari jendela Tasya terus melihat aktifitas di dalam hingga Tasya semakin tercengang saat melihat para anak buahnya menaruh beberapa rakitan bom.
"Gila, ini benar-benar gila. Dia ingin meledakkan tempat ini dan akan membunuh mereka semua. Gila ini benar-benar gila."
"Dasar orang tak waras tak punya otak. Apakah dengan melenyapkan mereka hatinya akan tenang dan dendam akan hilang? dasar!" Semakin tak habis pikir Tasya pada orang itu.
"Cepat lakukan. Semua harus berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak mau ini gagal. Keluarga Saputra harus lenyap dari muka bumi ini!"
"Ih! pengen aku getok tuh kepalanya pakai bomnya sendiri biar dia tau rasa!"
Tasya menoleh ke arah jalan dan terlihat ada motor yang datang, di susul dengan mobil.
"Mereka siapa?" bingung Tasya kala melihat seorang pria yang turun dari motor dan melepaskan helmnya.
Tak lama pintu mobil juga terbuka, kali ini Tasya tau itu. Dia tau meski belum kenal siapa namanya, tapi dia adalah yang memberikan jaket yang sekarang dia pakai.
"Dia kan? pria itu??"
Tasya beralih melihat orang-orang yang ada di dalam semua masih saja belum sadar.
Tasya menoleh lagi dan mobil-mobil berdatangan dengan orang-orang yang sama, bertubuh kekar sama seperti yang ada di dalam.
"Ini pasti masalah yang sangat serius."
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....