Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Menghindar



🌾🌾🌾🌾🌾


Hingga sampai rumah ternyata Tasya belum juga pulang, entah di mana anak itu berada sangat bingung Faisal sekarang. Ada rasa kesal juga tidak di hargai, tapi mau bagaimana lagi? ini adalah sebuah tantangan untuknya.


Tak akan mudah untuk meluluhkan hati ataupun membuat harimau bisa menjadi jinak seperti kucing. Semua butuh proses dan tidak akan bisa instan begitu saja.


Faisal harus lebih sabar dan terus berusaha untuk bisa membuat Tasya menjadi lebih baik dan memiliki aturan yang benar sesuai pelajaran yang sudah dia dapatkan.


Saat sampai di depan kamar ternyata ada oma yang tengah menunggu, dia duduk di bangku samping kamar.


"Assalamu'alaikum, Oma. Oma ada perlu dengan Faisal?" tanya Faisal.


"Wa'alaikumsalam, Oma..." kata-kata oma terhenti saat melihat kearah wajah Faisal yang lebam dan juga terdapat luka di bagian sudut bibirnya.


Oma begitu terperangah, baru kali ini Faisal pulang-pulang dengan keadaan babak belur seperti ini. Ini adalah hal baru jika untuk Faisal yang sangat kalem itu.


"Astaghfirullah hal adzim, Sal. Ini kenapa? kamu nggak berantem kan? kamu nggak ikut-ikutan tawuran kan?"


Oma begitu khawatir tapi dia juga tak mau kalau apa yang terjadi pada Faisal adalah sesuatu yang dia katakan barusan. Jangan sampai Faisal berantem atau tawuran.


"Nggak kok, Oma. Tadi ada orang yang salah sasaran saja. Jadi begini deh," jawab Faisal yang tak mau jujur kalau sebenarnya itu terjadi karena ada orang yang menginginkan Tasya.


"Astaghfirullah hal adzim, kenapa mereka tega sekali sih. Masuk sini biar oma obati. Oh iya, Tasya kemana, kok nggak ada?" tanya oma sembari masuk ke dalam kamar Faisal yang tentu di ikuti oleh Faisal juga.


"Hem... Hem.., Tasya lagi ke rumah panti, Oma. Dia lagi bantu-bantu bu Yulia," kembali Faisal berbohong. Sebenarnya Faisal tak mau melakukan itu, dia sadar itu tidak benar tapi mau bagaimana lagi?


"Oh, terus kapan dia akan pulang. Kenapa jamu tidak menjemputnya?"


"Sebentar lagi dia pulang kok Oma," Daud tersenyum kecil.


Faisal duduk di sofa menyerahkan obat kepada sang Oma dan Oma juga langsung bergerak mengobati luka Faisal.


Begitu telaten Oma mengobati Faisal, meski sesekali Faisal meringis menahan sakit tapi Oma tetap melakukan dan Faisal berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya.


"Pelan-pelan, Oma. Sakit," keluhnya.


"Maaf maaf," oma lebih hati-hati melakukannya dan perlahan rasa sakit itu perlahan mulai hilang.


Di saat oma masih sibuk dengan mengoleskan obat pada Faisal pintu kamar terbuka keduanya menoleh dan ternyata yang pulang adalah Tasya.


Mata Tasya sedikit membulat saat pertama kali melihat Faisal yang terluka, tadi dia berangkat Faisal baik-baik saja dan sekarang? apa yang terjadi?


"A_assalamu'alaikum," Tasya begitu gugup ketika mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab oma dan Faisal bersamaan.


Oma terus melihat Tasya yang mulai melangkah bahkan oma juga tersenyum tapi berbeda dengan Faisal yang memalingkan wajahnya dari Tasya.


Oma menoleh ke arah Faisal, diamnya dan wajahnya yang sangat berbeda membuat oma yakin kalau ada masalah pada keduanya. Apalagi keadaan Faisal yang seperti saat ini apakah ada sangkut pautnya dengan Tasya.


"Oma kembali ke kamar, udah mau maghrib," Oma menaruh obat juga kapas yang ada di tangannya padahal oma juga belum selesai mengobati Faisal.


Oma beranjak, berjalan dengan perlahan hingga sampai di hadapan Tasya.


"Tolong obati Faisal ya," pinta Oma.


"I_iya, Oma." jawab Tasya.


Oma kembali berjalan dan benar-benar meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Semoga saja, entah ada masalah apapun di antara mereka berdua keduanya bisa menyelesaikan dengan baik dan tak akan semakin berlarut-larut.


Tasya mendekat dengan ragu, dia ingin melakukan apa yang di minta oleh Oma tadi. Tetapi, sepertinya itu tidak di sambut baik oleh Faisal dia juga langsung beranjak setelah Tasya berhasil duduk di sebelahnya.


Faisal begitu bergegas masuk ke kamar mandi dia menghindar dari Tasya, dia seperti marah padanya sampai-sampai dia menutup pintu sedikit kasar.


Tasya terdiam melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup dari dalam. Dia tidak ikutan kesal atau apa, tapi kini Tasya menyadari kesalahannya, Faisal pasti marah padanya karena dia pergi tanpa pamit.


"Sepertinya mas Faisal benar-benar sangat marah padaku, aku harus minta maaf padanya," gumam Tasya.


Tasya terus menunggu di tempat yang sama, berharap Faisal akan cepat keluar dan dia bisa minta maaf.


"Kenapa lama sekali?" Tasya semakin tak sabaran. Sebenarnya apa yang Faisal lakukan sampai-sampai Faisal begitu lama di dalam kamar mandi.


"Apa aku ketuk saja ya? bagaimana kalau mas Faisal kenapa-napa, bagaimana kalau dia pingsan."


Tasya beranjak dan melangkah menuju kamar mandi, tapi belum juga sampai pintu sudah terbuka. Faisal sudah terlihat segar dan rambutnya juga sudah basah.


Dengan kaus rumah berwarna putih dan sarung hitam Faisal tetap terlihat begitu mempesona, padahal wajahnya juga tidak baik-baik saja.


"Mas, a_aku..." belum juga Tasya menyelesaikan ucapannya Faisal sudah berlalu melewatinya dan pergi ke arah lemari. Membuka lembaran dan mengambil koko berwarna biru muda juga langsung dia pakai.


Faisal terus diam, membuat Tasya benar-benar merasa sangat bersalah sekarang.


Tasya berinisiatif untuk membantunya, menghilangkan rasa takut juga gugupnya yang terpenting bisa mendapatkan maaf dari Faisal tapi belum juga berhasil Faisal sudah kembali berjalan, mengambil peci berwarna hitam dan dia pakai untuk menutupi kepalanya.


Sepertinya Faisal benar-benar sangat marah pada Tasya sampai-sampai dia tak membiarkan Tasya mendekat padanya. Faisal langsung mengambil buku yang akan dia gunakan untuk mengajar anak-anak. Dia sudah melewatkan mengajar setelah dhuhur dan ashar dan dia tidak akan melewatkan lagi untuk yang ba'da maghrib.


"Mas," Faisal tak mempedulikan Tasya saka sekali dia langsung keluar dari kamar.


"Mas Faisal benar-benar sangat marah padaku. Hem, kamu yang bodoh, Sya. Kamu tuh harus menghargai orang lain, apalagi suamimu sendiri. Pantas kalau mas Faisal marah karena kamu memang sangat bodoh dan selalu memikirkan dirimu sendiri," gumam Tasya yang merutuki diri sendiri.


Tasya terduduk lemas sekarang di sofa. Ternyata sangat tidak enak saat di diamkan seperti ini. Meski mereka berdua belum apa-apa tapi tetap saja tidak enak.


Terasa ada yang hilang ketika Faisal terus diam padanya seperti sekarang. Dunianya terasa sepi.


🌾🌾🌾🌾🌾


Hingga malam tiba Faisal sudah kembali ke kamar, dia sudah selesai shalat isya dan kembali untuk istirahat.


Ternyata Tasya belum tidur seperti kemarin malam dia masih duduk di ranjang dan menyandarkan punggungnya di sandaran. sepertinya masih menunggu Faisal.


Faisal masih saja diam, setelah mengucapkan salam Faisal menaruh buku-bukunya, melepas peci dan juga kokonya dan dia gantung di belakang pintu.


Begitu mengabaikan Tasya hingga kini Faisal langsung menuju ke kasur dan tidur miring memunggungi Tasya.


Tasya melihat Faisal yang sudah memunggungi dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya itupun masih dengan diam tanpa kata tapi dengan sejuta ekspresi.


"Mas," panggil Tasya tapi Faidzin hanya diam.


"Mas," ulang Tasya lagi dan masih saja tetap sama.


"Mas, Tasya minta maaf," ucapan Tasya sudah sangat lirih dan penuh dengan penyesalan.


"Mas," kembali Tasya memanggil. Matanya sudah berkaca-kaca saat ini dan ini adalah hal yang pertama bagi Tasya yang ingin menangis karena seseorang.


"Tidur, Sya. Udah malam. Apa kamu nggak lelah setelah pergi seharian?" Faisal berkata tapi tetap tak melihat Tasya.


"Nggak mau," jawab Tasya.


Faisal sudah diam lagi dan tak mau berkata.


"Mas, mas marah sama Tasya?" ucapnya begitu polos padahal jelas-jelas Faisal marah padanya.


"Mas, jangan diamkan Tasya seperti ini, mas."


"Aku nggak protes ketika kamu diam saja, bahkan saat kamu pergi diam-diam saja aku juga tetap diam. Apakah sekarang diam ku menjadi masalah untukmu?"


Baru kali ini Tasya benar-benar melihat kemarahan dari Faisal meski hanya dengan kata-kata saja tapi kenapa rasanya sangat sakit.


"Tasya minta maaf, Mas. Tasya janji tidak akan mengulanginya lagi." suara Tasya sudah terdengar mulai serak.


"Aku tidak minta apapun pada kamu, Sya. Aku hanya minta kamu menghargai ku sebuah suami mu. Apa kamu tau, Sya. Bahkan malaikat akan mengutuk perempuan bersuami yang pergi tanpa izin dari suaminya. Kalau sudah seperti itu siapa yang akan berdosa, Sya. Suami!"


Kini Faisal sudah beralih duduk menghadap Tasya yang terus menunduk dan mulai menangis.


"Maaf," Tasya benar-benar menyesali perbuatannya itu. Dia terus menunduk dan tak berani melihat ke arah wajah Faisal.


"Mas minta, jangan ulangi lagi. Mas tidak akan pernah melarang mu pergi kemanapun, tapi mas hanya minta kamu bilang kalau kau pergi. Jangan seperti tadi lagi." kata-kata Faisal sudah berubah lebih halus daripada yang tadi.


"Kalau ada apa-apa yang terjadi padamu, siapa yang akan merasa berdosa, mas. Mas yang akan merasa berdosa."


"Maaf," kini tangis Tasya sudah sangat pecah.


"Sudah, jangan menangis lagi dan sekarang tidurlah," ucap Faisal.


"Mas udah maafin Tasya kan?"


"Iya, mas sudah maafin. Sekarang tidurlah," ucap Faisal lagi.


Faisal menghapus air mata Tasya dan saat itu mata mereka saling bertemu. Faisal tersenyum dan perlahan Tasya mulai merebahkan tubuhnya.


Faisal lebih dulu menyelimuti Tasya dan dirinya sebelum dia menyusul di sebelahnya dengan keduanya saling berhadapan dan mata mereka kasih bertemu.


Faisal mengangkat sedikit kepalanya, melantunkan doa seperti kemarin lalu meniupkan pada Tasya. Dan lagi-lagi Tasya langsung mengantuk.


'Maafkan aku jika terlalu keras padamu, Sya. Maaf,' Faisal pun menyesali perbuatannya barusan.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....