
🌾🌾🌾🌾🌾
Malam sudah semakin larut, tapi Tasya sama sekali belum bisa tidur. Dia masih saja melihat foto-foto Faisal dan teman-teman di ponsel Faisal.
Di sana juga ada Tasya yang ikut serta, meski tidak banyak dan terus bergantian. Hanya beberapa foto saja yang lengkap enam orang.
Hari Tasya begitu indah hari ini. Tak dia sangka bakal bertemu dengan teman-temannya yang entah sudah berapa bulan tidak bertemu.
"Assalamu'alaikum... Loh, kok belum tidur?" Faisal baru saja masuk setelah selesai mengisi kajian di masjid. Nampak terkejut melihat istrinya yang masih terjaga.
"Wa'alaikumsalam.., Belum ngantuk, Mas." Tasya duduk dengan tegak menyambut suaminya yang langsung menghampiri dan duduk di hadapannya.
"Sudah lihatnya, sekarang tidur sudah malam." Terpaksa Faisal mengambil ponselnya dan menaruhnya di atas nakas. Tasya tidak akan berhenti kalau tidak langsung di minta begitu saja.
"Tapi Tasya belum ngantuk, Mas." Tasya terlihat merengek.
"Kenapa, apakah kamu lapar?" tanya Faisal dan Tasya langsung menggeleng.
"Sudah tidur yuk, aku kelonin." Faisal beranjak, melepaskan baju kokonya dan hanya menyisakan kaus oblong saja yang berwarna putih.
Faisal langsung menyusul Tasya, naik di ranjang tepat di sebelah Tasya yang merebahkan tubuh dengan terpaksa.
Selimut Faisal tarik untuk menghangatkan tubuh mereka berdua, tangan Faisal seketika memeluk Tasya dan satunya menjadi bantal untuk Tasya. Biasanya akan ampuh dengan cara seperti itu.
Di peluk dengan erat, di nyanyikan shalawat dan juga di elus keningnya mengunakan tangan yang menjadi bantal.
Perlahan Tasya mulai mengantuk, matanya mulai terpejam setelah berkali-kali mulutnya menganga akibat rasa kantuk yang semakin besar.
Faisal tersenyum, sungguh ampuh dengan cara seperti itu.
Baru saja matanya tertutup wajah Tasya beberapa mengerut, semakin sering dan semakin jelas seperti menahan rasa sakit.
"Sya, kamu kenapa? Sya.." Faisal yang memang belum tidur langsung melihatnya, dia berusaha membangunkan Tasya dengan wajah yang panik.
"Sya, kamu kenapa?" Kembali Faisal bertanya.
Wajah Tasya yang semakin mengerut dan semakin jelas membuat Faisal semakin panik, bahkan Faisal langsung duduk ingin membangunkan Tasya yang sudah membuka mata sekarang.
"Mas perut Tasya sakit. Aw!" Tasya semakin meringis kesakitan, tangannya sudah terus memegang perutnya yang terus saja berkontraksi. Apakah mungkin dia akan melahirkan?
"Apa mungkin kamu mau melahirkan, Sya?" Faisal semakin panik. Dia langsung turun dari ranjang dan berlari memutar hingga ke sebelah Tasya yang satunya.
"Mas, sakit." Semakin jelas rasa sakit yang Tasya rasakan terlihat dari wajahnya yang terus saja mengerut dan semakin kuat.
Faisal langsung membuka selimut yang menyelimuti Tasya dia semakin panik setelah melihat kasur yang ditempati Tasya sudah basah, itu artinya ketuban rasa sudah pecah dan benar dia akan melahirkan sekarang.
"Sebentar," Faisal langsung menyambar ponsel yang ada di nakas dia buru-buru menghubungi mamanya untuk segera datang ke sana.
Setelah selesai berbicara dan mengatakan apa yang terjadi kepada Tasya Faisal kembali berlari, mengambil jilbab Tasya Dia membantu memakaikannya itupun juga dengan tergesa-gesa.
Tok tok tok..
Faisal buru-buru membukanya dan ternyata benar dia adalah Keisha dan juga Rayyan.
"Kita harus segera ke rumah sakit, Ma." Faisal kembali berlari masuk ke dalam kamar, semuanya sudah dipersiapkan di dalam tas Faisal langsung mengangkat Tasya untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Keisha juga langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh Faisal, dia yang membawa tas untuk perlengkapan semuanya sementara Rayyan dia juga membuntuti.
"Cepat, Sal." ucap Rayyan yang juga sangat khawatir.
Semuanya menjadi panik, rasa kantuk mereka hilang dalam sekejap dan berubah menjadi kepanikan juga rasa khawatir.
🌾🌾🌾🌾🌾
Penuh perjuangan untuk bisa melahirkan sang buah hati. Tidak mudah bagi perempuan untuk bisa melakukan persalinan. Pengorbanan besar dan juga rasa sakit yang dirasakan tentu membuat air mata sesekali jatuh bersamaan dengan rasa sakit yang semakin luar biasa luar biasa.
Ditemani Faisal di ruang persalinan Tasya terus berjuang berusaha mengeluarkan anaknya dari dalam kandungannya. Terus mengikuti arahan dari dokter sembari menahan rasa sakit yang begitu tak tertahan namun berusaha dia tahan demi sang buah hati bisa melahirkan selamat.
Berkali-kali Faisal menuntun Tasya untuk selalu beristighfar dan terus mengingat sang pencipta dan meminta pertolongan untuk dilancarkan persalinannya.
Faisal merasa ngilu dan juga merasa sakit ketika melihat Tasya yang kesakitan. Ternyata perjuangan seorang istri sangatlah besar.
"Akk!!" teriak Tasya.
Faisal terus menggenggam tangan Tasya dan terus mengelus wajahnya. Memberi kekuatan dan juga terus menghapus air mata dan peluh yang keluar di wajah Tasya.
"Akk!" Teriakan semakin menggema.
Oe oe oe....
Lega rasanya, begitu bahagia mendengar tangis sang buah hati yang pertama kali. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu.
Tangisan mengiringi hati yang begitu bahagia. Akhirnya..., usahanya yang sangat besar telah melahirkan anaknya dengan selamat.
Bukan hanya Tasya yang menangis, tapi Faisal dia lebih lagi. Tersedu dengan terus memberikan kecupan berkali-kali di wajah Tasya. Rasa syukur begitu besar.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih." ucap Faisal.
Akhirnya, sempurna sudah hidup Faisal. Memiliki istri dan sekarang memiliki anak yang semakin menyempurnakan kebahagiaannya.
"Selamat ya, Pak. Anak bapak laki-laki dan sangat tampan." ucap dokter.
Semakin bahagia Faisal. Memiliki seorang putra yang akan menjadikan penerusnya kelak. Yang akan ikut membantu dakwahnya dan membesarkan pesantren.
"Alhamdulillah." ucap Faisal yang masih berderai air mata.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....