
🌾🌾🌾🌾🌾
Menikmati sore menjemput senja sebelum sungguh menyenangkan bagi para pengantin baru yang masih berada di masa anget-angetnya.
Tidak perlu muluk-muluk untuk mendapatkan bahagia hanya sekedar datang di tempat wisata yang memperlihatkan pemandangan senja sembari menikmati minuman hangat begitu saja sudah sangat membahagiakan.
Ya! Setelah baju pesanan untuk Tasya telah datang kini Tasya dan Faisal bisa pergi berjalan-jalan menikmati kebersamaan mereka tanpa ada yang mengganggu.
Di tempat pendopo kecil yang berupa panggung agak tinggi keduanya berada di sana. Menikmati minuman hangat dan menunggu makanan datang sembari menikmati dinginnya angin sore dan melihat senja yang akan segera tiba.
Keduanya duduk bersama dengan menghadap arah yang sama menghadap di mana arah matahari akan segera tenggelam dan menampilkan siluet senja yang pastinya akan sangat indah dipandang mata.
"Bagaimana, apa kamu suka?" Faisal menoleh ke arah Tasya yang terlihat begitu terpaku dan terpesona melihat alam sekitar yang begitu menenangkan juga begitu sangat indah.
Memang tempat tinggal Tasya dulunya sama tempat pedesaan tetapi tidak seindah ini, orang-orang di sekitar begitu pandai menata setiap titik hingga membuat pemandangan semakin indah dan begitu memukau bagi semua para pengunjung yang datang.
"Suka, ini sangat indah," mana mungkin Tasya tidak akan menyukai tempat yang begitu indah seperti itu apalagi dia datang dengan orang yang menjadi orang paling spesial dalam hidupnya dan akan selalu menemani di sepanjang langkahnya dalam kehidupan ini.
Digenggam tangan Tasya dengan begitu erat dan membuat Tasya semakin merasa nyaman.
Tidak lama menunggu pesanan makanan untuk mereka telah datang, ada dua orang sekaligus yang datang dengan membawa semua pesanan.
Sebenarnya pesanannya tidak banyak tetapi karena ada beberapa macam jadi ada dua orang yang datang. Terlihat mereka berdua begitu ramah ketika meletakkan satu persatu makanan tersebut, tentu dengan senyum yang menghiasi wajah mereka berdua.
"Silahkan di nikmati," Katanya.
"Terima kasih, Mbak," tak kalah Faisal juga tersenyum ramah ketika menjawab mereka.
Duanya hanya mengangguk lalu beranjak dan pergi meninggalkan Faisal juga Tasya dan membiarkan keduanya untuk menikmati makanannya.
Tasya terlihat mengerucutkan bibirnya ketika melihat Faisal masih tersenyum dan matanya melihat ke arah dua pelayan tadi yang juga cantik yang kini sudah begitu jauh.
"Mereka cantik ya?" Tanya Tasya, hatinya terasa panas tidak rela kalau Faisal tersenyum kepada wanita lain bahkan terus menatapnya dan mengabaikan dirinya seperti saat ini.
"Iya, mereka cantik," jawab Faisal. Faisal masih belum menyadari bagaimana rupa wajah Tasya saat ini sudah begitu masam karena sangat kesal.
"Heh, kamu kenapa?" Baru Faisal menyadari ketika dia menoleh ke arah Tasya dan melihat bagaimana wajah istrinya yang terlihat sangat berbeda dari yang tadi yang terus tersenyum.
"Tidak," jawab Tasya begitu acuh dengan mata berpaling ke arah lain dan tidak mau melihat Faisal sama sekali. Dia sangat kesal. Apakah ini yang dinamakan cemburu?
"Mereka memang cantik tapi tidak ada yang akan bisa melebihi kecantikan dari istriku ini. Lagian secantik apapun seorang wanita hanya kamulah yang paling cantik, sungguh!"
"Gombal," Tasya masih tidak mau melihat ke arah Faisal yang kini tersenyum karena mengetahui istrinya yang tengah cemburu kepada dirinya karena memperhatikan wanita lain.
"Bukan gombal loh, inilah kenyataannya, cup..." Faisal mendekatkan wajah dan seketika memberikan kecupan pada pipi Tasya.
"Ih, apa sih," Tangan Tasya pun juga langsung terangkat dan menghapus pipi yang terkena kecupan oleh bibir Faisal.
"Cie cie cie... Yang cemburu," Faisal malah senang sekali menggoda Tasya. Dia terus tersenyum, mendekatkan wajahnya dan juga sekaligus kembali mencium pipi Tasya yang tadi.
"Oh, tidak cemburu ya... kalau misalnya mas melakukan hal yang sama seperti barusan berarti dia tidak apa-apa dong kan tidak cemburu?"
"Ah, apa sih. Saya memang tidak cemburu tetapi mana ada istri yang mau melihat suaminya mengagumi para wanita lain di hadapannya sendiri."
Tasya terus berkilah dan tetap tidak mau mengakui perasaan yang ada di dalam hatinya yang membuatnya sedikit tersiksa.
"Berarti hanya karena itu saja, benar-benar tidak ada cemburu?"
"Ih, Mas... Iya, Tasya cemburu dan sangat tidak rela Kalau Mas memperhatikan wanita lain. Tasya begitu kesel melihatnya."
Kini akhirnya Tasya mengakui kalau dirimu benar-benar cemburu kepada Faisal.
Faisal tersenyum, Dia sangat bahagia. Bukankah cemburu tanda cinta dan itu artinya Tasya sudah mencintai meski dia belum pernah mengatakan.
"Alhamdulillah, mas senang dengernya akhirnya semuanya Mas dapat dari kamu, terima kasih ya Tasya sayang," ucap Faisal. Tangannya terangkat dan mengelus pipi Tasya dengan begitu lembut. Hal sederhana tapi mampu membuat Tasya merona karena merasa malu.
"Sekarang kita makan, kamu harus makan yang banyak," ucap Faisal yang kini mulai mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan juga untuk Tasya. Sementara Tasya dia yang mengambilkan lauk untuk mereka berdua.
Keduanya saling bekerja sama meski dalam urusan makan keduanya yakin bukan hanya itu saja tapi semua jika dikerjakan secara bersama-sama seberat apapun pasti akan menjadi ringan.
"Bismillah...." doa dilafalkan sebelum keduanya benar-benar menikmati makan mereka berdua. Keduanya juga harus bergegas karena waktu semakin sore dan mereka harus segera kembali.
🌾🌾🌾🌾🌾
Waktu maghrib telah tiba Faisal juga Tasya yang masih berada di jalan memutuskan untuk singgah sebentar di salah satu masjid untuk melaksanakan salat maghrib.
Sebenarnya sampai rumah pun keduanya masih Terburu tapi bukankah akan lebih baik jika dikerjakan tepat waktu.
Masjid Al Muttaqin, masjid bernuansa putih itu terlihat sangat indah dan juga sangat mewah. Tidak terlalu besar tetapi karena berada di jalan raya sepertinya masjid itu akan penuh meski bukan dari asli penduduk sekitar tetapi juga para pejalan yang hanya sekedar singgah untuk melaksanakan salat seperti mereka berdua saat ini.
Untung saja Faisal selalu mengatakan bahwa Tasya harus selalu membawa mukena ketika pergi kemanapun jadi ketika waktu shalat tiba mereka bisa singgah di manapun tanpa bingung meminjam mukena.
Ternyata benar masjid tersebut langsung penuh ketika suara iqamah berkumandang. Semua berbondong-bondong pada berdatangan untuk memenuhi panggilan Tuhan dan menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba.
Tak lama semua orang mendirikan shalat dengan berjamaah semua terlihat khusyuk menghadap sang Tuhan dengan segala apa yang mereka rasakan. Begitu juga dengan Tasya dan juga Faisal.
Setelah salat selesai mereka berdua keluar dari masjid untuk melanjutkan perjalanan untuk segera kembali ke Villa yang ada di puncak.
"Kamu masih mau kemana atau mau pulang?" tanya Faisal.
"Pulang saja mas, sudah malam emang mau kemana lagi."
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....