Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Dia Siapa?



🌾🌾🌾🌾🌾


"Hey, berhenti! Nih makanan tidak di kasih racun kan!" teriak Ana.


Ana panik saat melihat anak kecil yang ada di sebelahnya itu terus batuk-batuk.


"Astaghfirullah hal Azim," Faisal dan Hasan berlari mendekat.


Teriakan Ana yang begitu menggelegar membuat Hasan juga Faisal ikutan panik, mereka mendekat karena anak yang ada di sebelah Ana itu benar-benar batuk dan terlihat kesakitan, bahkan dia juga berusaha untuk mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.


"Kamu tidak apa-apa kan? hey hey!" Ana begitu panik, baru kali ini dia di hadapkan dengan kejadian yang seperti saat ini.


Tangannya terus mengelus pelan punggung anak itu dan satu tangan menyodorkan minuman mineral yang juga dari kotak nasi itu.


"Dek dek," Faisal berjongkok di depan anak itu juga ikut mengelus punggung di satu sisinya. Tentu, Faisal juga sangat panik dan takut.


Anak itu merebut air mineral dari tangan Ana dan meminumnya dengan tergesa-gesa dan setelahnya dia mengangkat wajahnya dengan perasaan lega.


"Aku tidak apa-apa kok, Kak. Ini karena Salwa buru-buru saja makannya jadi keselek deh. Makanannya enak kok tidak ada racunnya." ucapnya, ternyata namanya adalah Salwa.


"Alhamdulillah," Faisal begitu lega ternyata ketakutannya tidak nyata padahal dia tadi benar-benar sangat takut.


Sementara Ana, Ana masih terpaku menatap Salwa tak berkedip, dia begitu syok tadi bahkan sampai sekarang kepanikan rasanya belum berakhir dalam dirinya dan terlihat dadanya yang naik turun tak beraturan.


"Hey, kamu tidak apa-apa kan?" kini Faisal yang terlihat khawatir karena melihat Ana yang terdiam.


Mata Ana masih terus membulat dengan nafas tersengal juga tubuh yang sedikit gemetar. Hadeuh, sang jawara begitu ketakutan karena kejadian itu.


"Kak, kenapa kakak diam saja, kakak tidak kenapa-napa kan?" teriak Salwa.


"Hem!" akhirnya Ana tersadar. Matanya seketika beralih ke arah Salwa namun tangan satunya langsung.


Plukk...


"Semua ini gara-gara kamu, hampir saja aku kena serangan jantung!" omelnya, dan tentu Faisal yang di salahkan juga tangan yang juga memukul pundak Faisal.


Padahal jelas-jelas bukan Faisal yang salah tapi karena Salwa yang tak hati-hati saat makan. Seharusnya yang di omelin Salwa kan bukan Faisal.


Deg...


Jantung Faisal mulai bekerja saat ini saat tangan Ana bertengger di atas bahunya. Nih cewek apa nggak bisa membedakan mana pria alim yang tak bisa di sentuh dengan pria yang bar-bar yang gampang di sentuh pa ya?


"Kalau saja jantungku kenapa-napa kamu harus bertanggung jawab," imbuhnya lagi.


"Hem, maaf," Faisal berdiri tentu dia akan menghindar dari Ana. Bisa bahaya kan kalau lama-lama.


"Hem, aku bau ya?" sadar diri kalau Ana bau tapi bukan itu yang membuat Faisal menghindar tapi karena mereka bukan mahram dan tak akan membiarkan saling bersentuhan.


"Maaf ya, jaket ku memang belum aku cuci dari kemarin. Nanti deh," tak ada rasa malu untuk jujur, mengatakan apa yang memang sebenarnya.


Ya, Ana sadar kalau dia memang jorok tapi mau bagaimana lagi dia belum ada rezeki untuk membeli baju ganti. Kadang dia hanya akan memakai jaket saja saat kausnya di cuci dan begitu sebaliknya. Miris.


"Hem," Faisal tersenyum kecil padahal bukan karena itu yang menjadi masalah untuk Faisal tapi Ana salah tangkap.


Faisal berjalan menuju mobilnya mengambil jaketnya yang biasa dia pakai lalu kembali ke tempat Ana.


"Nih buat kamu, maaf bukan baru tapi masih bisa di pakai. Ini juga bersih," ucap Faisal seraya menyodorkan jaket itu pada Ana.


"Tidak usah, ini juga masih bisa di pakai kok! tinggal di cuci nanti juga bersih," tolak Ana.


"Tidak apa-apa, bisa buat ganti," Dengan ragu dan juga sudah berpikir Faisal langsung memakaikan di punggung Ana tentu itu memantik perhatian Hasan yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan.


Deg....


Kini Jantung Ana yang bereaksi, jarak mereka begitu dekat meski tak saling menyentuh. Bahkan Faisal memakaikan jaketnya juga tidak menyentuh apapun dari Ana.


Mata Ana memandang wajah Faisal yang begitu meneduhkan, seakan ada sinar yang memancar di wajahnya. Mungkin itu karena air wudhu.


'Keren juga nih cowok. Tampan dan sangat menenangkan. Ah! apa sih Ana. Jangan aneh-aneh ya,' batin Ana yang berusaha menolak akan kekaguman pada Faisal.


Tak ingin dekat terlalu lama Faisal langsung menjauh.


"Hem, kami pergi. Assalamu'alaikum," pamit Faisal.


"Wa_wa'alaikum sa_salam," Entah karena gugup atau karena tidak hafal tapi suara Ana tersendat-sendat. Pipinya memerah dengan mata yang memandangi Faisal yang sudah berjalan.


"Kak, pipi kakak kenapa merah? kakak tidak demam kan?" tanya Salwa yang melihat perubahan pada pipi Ana. Apakah begitu jelas?


"Ti_tidak, kakak tidak sedang demam. I_ini, mataharinya panas banget," elaknya.


"Ya jelas lah, Kak. Kalau matahari memang panas," Salwa kembali menikmati makanan itu dan kini dengan perlahan tak mau sampai dia tersedak lagi dan akan membuat orang lain merasa khawatir.


"Di habiskan," kata Ana.


"Iya, Kak. Pasti habis kok kan makanannya enak. Jarang-jarang kan bisa makan enak seperti ini. Mana gratis dan tanpa bekerja lagi," ucapnya dengan mulut yang penuh.


"Kalau lagi makan itu jangan sambil bicara," Ana menegur.


"Lah, kan kakak yang ngajakin bicara. Bagaimana sih."


"Iya ya, udah! sejarah makan dulu." Keduanya menikmati makanan bersama.


Sesekali Ana menoleh melihat semua anak-anak yang juga sedang menikmati makanan yang sama persis dengan mereka berdua.


Hatinya terasa tergelitik, dulu dia selalu mengomentari anak-anak jalanan yang dia pikir sangat meresahkan. Mencari uang di jalan raya, berkeliaran tanpa mempedulikan keselamatan dan sekarang dia sendiri malah menjadi salah satunya.


Mungkinkah ini adalah teguran dari Sang Pencipta kalau apapun keadaan kita kita tidak boleh menghina dan juga menghakimi siapapun dengan komentar menyakitkan yang keluar dari mulut kita. Kita tidak tau esok hari akan seperti apa. Bisa saja kita juga mengalami hal yang sama atau mungkin malah lebih parah.


Sementara Faisal masih diam mengamati di dalam mobil. Mobil yang hanya tinggal berjalan kini malah mematung di tempat dan tak bergerak.


"Kenapa tidak di ajak pulang saja kalau tidak rela meninggalkannya?" celetuk Hasan.


"Untuk apa?" jawab Faisal.


"Ya terserah mau di jadikan apa. Siapa tau di jadikan sang belahan jiwa."


"Sembarangan!"


"Hadeuh, Ustadz Faisal yang paling tampan, baik hati dan paling santun. Jangan nolak-nolak seperti itu, hati orang siapa yang tau. Sekarang bisa bicara tidak tapi tidak tau kan nanti atau besok."


"Hem, makin ngelantur kamu ngomong."


Faisal bergegas menjalankan mobilnya namun masih saja mencari pandang ke arah Ana tanpa sepengetahuan Hasan.


'Sebenarnya dia siapa?' batin Faisal merasa penasaran.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....