
🌾🌾🌾🌾🌾
Tak sabar Tasya untuk memeriksakan keadaan Faisal, dia harus secepatnya tau apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya akhir-akhir ini yang selalu membuat dia begitu khawatir.
Dia sangat takut jika ada hak yang sangat serius dan dua tidak tau, bisa-bisa dia akan menyesal kan?
"Ayo, Mas. Kita harus cepat ke rumah sakit," Tasya begitu tak sabaran, bahkan mereka juga masih memakai baju yang dia pakai di acara pernikahan Dina juga Ilham tadi.
"Sebentar, Sya. Mas masih mual banget ini," ucap Faisal. Keadaan Faisal yang masih belum membaik juga membuat Faisal sangat malas untuk pergi sebenarnya, tapi dia tidak bisa menolak apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
Jika saja bisa, dia akan lebih memilih tidur saja di kamar daripada pergi ke rumah sakit, tapi dia tidak bisa karena Tasya terus saja memaksa dari tadi.
Tak sabar Faisal yang berjalan begitu pelan membuat Tasya langsung mendekat dan menarik tangan Faisal, dia tidak sabar melihat pergerakan Faisal yang sangat pelan itu.
Faisal tak lagi bisa menolak, dia langsung berjalan dengan cepat karena tarikan yang di sebabkan oleh perbuatan Tasya.
Tak sedikit yang melihat kepergian mereka, jelas semua sangat penasaran akan pergi kemana mereka karena acara juga baru saja selesai. Bahkan ada beberapa tamu juga yang belum pulang tapi mereka sudah pergi.
Tetapi mereka tidak ambil pusing karena mereka yakin kepergian Tasya juga Faisal pasti ada alasan yang pasti namun tidak mereka semua ketahui.
Tasya sangat khawatir dengan Faisal tapi di dalam mobil tetap Faisal yang menyetirnya, tak ada orang yang mengantarkan karena Faisal merasa masih mampu hanya sekedar mengendarai mobil.
Tetapi itu juga tidak berlaku begitu saja, mereka berdua tentu berdebat lebih dulu tadi sebelum akhirnya mereka pergi. Tasya menginginkan Hasan yang menyetir karena takut Faisal kenapa-napa, tapi Faisal yang tetap kekeuh. Dan akhirnya seperti inilah yang terjadi.
"Hati-hati loh, Mas. Tasya tidak mau sampai kenapa-napa," ucap Tasya mengingatkan.
"Iya, Sayang. Mas pasti akan hati-hati," jawab Faisal. Jelas dia akan hati-hati, bukan hanya dirinya saja yang harus di jaga keselamatannya tapi juga ada Tasya juga. Dan itu yang lebih utama.
"Idih, pakai sayang-sayangan," Tasya terlihat nyinyir karena ucapan Faisal yang ada embel-embelnya sayang. Padahal tidak masalah kan sebenarnya?
"Terus kenapa? Masak aku panggil nama saja, kan aneh. Juga tidak mesra, sayang kan lebih mesra, lebih romantis gitu," ucap Faisal. Dia tersenyum sembari mengatakannya, tingkah Tasya selalu saja membuat dia tersenyum bahagia.
"Terserah," Tasya memalingkan wajahnya ke arah lain, ke arah sebelah dan melihat sisi jalan yang begitu ramai, begitu padat hari ini.
Ckittt...
Wajah Tasya terhuyung, hampir saja terbentur dasbor tapi untung zaha dia cekatan menahan dengan tangan kalau tidak mungkin keningnya sudah benjol sekarang.
"Ada apa sih, Mas!" pekik Tasya. Begitu kesal Tasya saat ini, bagaimana tidak, lagi-lagi Faisal mengerem mendadak.
"Sayang, ada rujak," Faisal terlihat begitu senang, dia bahkan tersenyum begitu sumringah.
Dengan cepat Tasya mengikuti arah pandang Faisal dan ternyata benar, ada penjual rujak di sebelah jalan.
Tin...
Tasya cepat menoleh kebelakang dan sudah pada antri mobil-mobil di belakang mereka. Untung saja di belakang tidak begitu ramai saat Faisal mengerem mendadak, kalau tadi ramai pasti akan terjadi kecelakaan.
Ini nih yang di takutkan oleh Tasya, sudah dia kali Faisal melakukan ini. Dia selalu saja bertingkah seperti anak kecil saat dia menginginkan sesuatu.
"Beli rujak dulu ya, Sayang." Cepat Faisal kembali menjalankan mobilnya, tapi bukan untuk melanjutkan perjalanan untuk menunju ke rumah sakit melainkan untuk menepi dan mencari tempat parkir untuk membeli rujak yang Faisal ingin.
"Tapi, Mas. Kita harus ke rumah sakit," jawab Tasya.
Mobil berhasil berhenti dan menepi di tempat yang aman, dengan buru-buru Faisal keluar, dia begitu tidak sabar untuk mencicipi makan asam itu.
Hufff...
Tasya hanya bisa pasrah, dia tidak bisa menolak lagi kalau sudah seperti ini. Dia tidak akan bisa membujuk Faisal kalau sudah kumat.
Tasya ikut turun, menyusul Faisal yang lebih dulu jalan menuju tempat penjual rujak. Terlihat dia sudah berbicara dengan penjual, mungkin dia sudah memesan.
"Sudah pesan?" tanya Tasya.
"Sudah," Faisal mengangguk.
Tasya duduk di tepi trotoar, dia sangat lelah karena tadi dia lebih banyak berdiri saat di acara pernikahan. Sementara Faisal, Faisal terus menunggu di depan penjual dan melihat semua prosesnya. Entah mau belajar atau memang sangat penasaran dengan cara-cara atau memastikan semuanya baik untuk dimakan.
Sesekali Tasya menoleh ke arah Faisal, tapi juga sesekali dua menoleh ke arah lain. Matanya mengernyit, memastikan orang yang tengah berjalan tergesa-gesa mendekat.
"Bimo?" gumamnya.
Semakin jelas Tasya melihat dan ternyata benar, Bimo yang berjalan kearahnya. Mungkin dia ingin menghampiri dan mengatakan sesuatu, semoga saja dia tidak lagi memiliki niat buruk.
"Tasya," Bimo menyapa dengan begitu pelan. Dia sangat ragu dan terlihat jelas kalau dia sangat takut.
Tasya melengos tak menanggapi.
"Sya, aku mau minta maaf. Aku tau akau salah, aku telah di butakan oleh perasaan ku. Aku minta maaf, Sya," ucap Bimo. Terdengar sangat tulus dan sangat meyakinkan permintaan maaf Bimo pada Tasya tapi Tasya masih sangat kesal dengan kelakuan Bimo.
Tasya susah sangat percaya pada Bimo, dia tidak pernah menyangka kalau Bimo akan melakukan ini tapi apa kenyataannya? Bimo telah mengkhianati kepercayaannya.
"Sya, aku minta maaf," Kembali Bimo berbicara.
"Saya sudah maafkan," jawab Tasya. Wajahnya tetap melengos seakan tak sudi untuk melihat.
"Bohong, kamu belum memaafkan aku. Kalau jamu memaafkan aku kamu pasti akan melihatku, tapi itu tidak jamu lakukan kan? Itu artinya kamu belum memaafkan aku."
"Aku tidak bohong, aku sudah memaafkan mu," Tasya terus saja berbicara dengan begitu dingin.
"Loh, ada Bimo juga, mau makan rujak Bimo?" Faisal menoleh, melihat Bimo langsung saja dia tawarin rujak. Sepertinya Faisal sudah melupakan semua yang terjadi tidak seperti Tasya. Atau mungkin karena Faisal lagi eror saja jadi dia seperti itu.
"Tidak, saya hanya mau minta maaf."
"Oh, minta maaf, tapi tadi Tasya sudah memaafkan. Kenapa kamu masih cemberut, kamu lapar?"
Tepok jidat deh akhirnya Tasya karena Faisal.
Bimo yang tidak tau apa yang terjadi hanya merasa biasa-biasa saja. Dia malah berpikir kalau Faisal juga pasti sudah memaafkan. Faisal adalah orang baik, dia tau agama jelas dia akan mudah memaafkan itulah yang Bimo pikirkan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...