Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Usaha penyelamatan



🌾🌾🌾🌾🌾


Akhsan dan Ikhsan akhirnya sampai juga di tempat di mana Faisal berada. Tapi Faisal sama sekali tidak terlihat membuat kedua abangnya itu merasa sangat khawatir.


Mereka memang menemukan mobil Faisal mereka juga langsung mengikuti jejaknya dan menyembunyikan mobil mereka di belakang mobil Faisal supaya tidak bisa di ketahui oleh musuh.


Entah musuh yang seperti apa yang kali ini mereka hadapi dan yang menjadi musuh Faisal sebenarnya.


"Bang, kira-kira Faisal di mana ya? Apa mungkin dia masuk ke dalam rumah itu, tapi lewat mana?" Ikhsan terlihat bingung dengan dia yang bersembunyi di balik pohon begitu juga dengan Akhsan yang sama ada dibelakang Ikhsan.


"Ya mungkin dia memang ada masuk sana. Kalau tidak pasti kita sudah menemukannya," jawab Akhsan dengan sangat pelan tidak mau sampai suara mereka yang sudah hati-hati juga akan di dengar oleh orang-orang.


"Hem, bagaimana kalau kita ledakan saja rumah itu, Bang?" katanya.


Pletakk...


Jitakan keras langsung di dapat dari Akhsan untuk Ikhsan dan tepat di kepala belakangnya. Bagaimana mungkin langsung di ledakan begitu saja, nih adik satu sukanya memang yang sadis-sadis kalau sedang bereaksi.


"Hus, sembarangan kalau bicara! Kalau kita ledakan sekarang juga sama saja kita membunuh adik kita dan istrinya, dasar kucrit!" jelas saja Akhsan akan langsung mengomel karena adiknya itu.


Adiknya itu memang suka seperti itu kalau lagi ada masalah, dia ingin bisa cepat selesai meski dengan cara instan.


"Lagian ya, Bang. Emangnya kita bisa masuk ke rumah itu? Lihatlah dinding pelindungnya, tinggi banget dan tentu juga melingkar penuh sampai belakang. Jadi darimana kita bisa masuk?"


"Heh, kalau Faisal saja bisa masuk tentunya kita juga bisa masuk dong. Masak kalah sama Faisal sih, kan kamu sudah ahli dalam hal begini masak kalah dengan Faisal yang baru merambat belajar," kembali Akhsan mengomel.


"Bukannya kalah, Bang. Tapi lebih tepatnya mengalah, masak sebagai abang tidak mau mengalah dengan adiknya sih?" kilah Ikhsan.


"Alesan!" tentu Akhsan tidak akan percaya kalau itu alasan sebenarnya. Pastilah Ikhsan hanya tidak mau saja kalau udah urusan manjat memanjat, karena dia memang sangat malas untuk itu.


Ikhsan tak lagi menjawab tapi dia hanya meringis saja sebagai jawaban untuk Akhsan yang terlihat sangat kesal. Memang, apa yang di lakukan Ikhsan suka bisa di andalkan tapi biasanya dia lebih grusa-grusu.


"Kita cari celah untuk bisa masuk," ajak Akhsan. "Oh iya, Dek. Kamu bawa senjata itu kan?"


"Tenang, Bang. Ikhsan selalu membawanya dan tidak akan ketinggalan. Jangankan ada masalah begini tak ada masalah saja tak pernah ketinggalan," begitu bangga Ikhsan karena selalu membawa senjata yang di katakan oleh Akhsan entah senjata seperti apa yang dia maksud.


Mereka mulai melangkah untuk mencari-cari jalan yang akan bisa mengantarkan mereka berdua masuk ke dalam, tentunya mereka ingin bisa menyelamatkan Faisal.


Meski sebenarnya mereka tidak tau apa masalah yang sebenarnya dia hadapi karena Faisal memang belum menceritakan kepada mereka berdua, lagian Faisal adalah saudara mereka yang selalu tertutup salah segala masalah dan akan selalu menyelesaikan sendiri. Kalau dia benar-benar tidak bisa baru dia akan meminta bantuan saudaranya.


Ternyata rumah itu begitu luas dan sangat besar, sekedar untuk mencari jalan saja mereka juga lelah berjalan tapi mereka tetap waspada supaya tidak akan di lihat oleh orang-orang suruhan tuan Alex.


Seperti seorang pencuri yang terus mengendap-endap, itulah langkah mereka berdua dalam mencari pintu masuk. Tetapi sejauh ini tidak juga mereka dapatkan.


"Bang, kita mau masuk lewat mana?" Ikhsan menoleh melihat Akhsan yang diam berpikir.


Matanya terus melihat-lihat segala arah untuk mencari apakah benar tidak ada jalan untuk mereka bisa masuk? Tapi Faisal masuk darimana kalau begitu.


"Tidak mungkin kalau tidak ada. Pastilah ada jalan untuk kita bisa masuk kalau tidak Faisal juga tidak akan bisa masuk," jawab Akhsan.


Yang di katakan Akhsan memang ada benarnya tapi masalahnya di mana? Mereka berdua sama sekali tidak melihat celah itu untuk mereka bisa masuk.


"Haa!" mata Akhsan membulat dengan wajah yang terlihat senang sepertinya dia telah menemukan jalan.


"Apa?" Ikhsan menoleh ke arahnya dengan bingung.


"Kita manjat. Faisal pasti manjat lewat pohon itu." tangan Akhsan menunjuk ke arah pohon yang gak jauh ada di hadapan mereka berdua.


Mata Ikhsan mengikuti arah tangan Akhsan yang masih terus menunjuk.


"Ah, tidak tidak!" sepertinya Ikhsan tidak berkenan untuk manjat pohon itu supaya bisa masuk.


"Daripada harus manjat lebih baik aku ledakan saja pintunya," imbuhnya.


"Hadeuh, Ikhsan. Please ya! Jangan mikir bisa cepat bisa masuk dengan cara instan seperti itu. Kita belum tau seberapa berbahayanya musuh jadi kita harus hati-hati, tidak boleh gegabah," tegur Akhsan.


"Tapi, Bang. Ikhsan malas manjat. Ikhsan geli aja kalau ada ulat bulu." katanya tak semangat.


"Halah, ulat bulumu lebih menakutkan daripada ulat bulu di pohon. Ayo cepat!" sanggah Akhsan.


"Iya beda, karena punyamu lebih menakutkan. Cepat!" dengan tak sabar Akhsan langsung mendorong Ikhsan yang masih saja malas-malasan untuk manjat.


"Sadis kau, Bang. Menyamakan ulat buluku yang berharga."


"Sama-sama bikin gatal kan?"


Pletakk!


Sekarang giliran Ikhsan yang memberikan jitakan untuk Akhsan. Tak ada takut-takutnya dia melakukan itu pada abangnya. Apa nggak takut durhaka kali ya.


"Ikhsan," Lama-lama geram juga si Akhsan meladeni kelakuan Ikhsan yang memang kadang-kadang suka keblinger.


"Hehehe, maaf bang. Khilaf," Ikhsan hanya meringis ternyata dia punya rasa takut juga setelah di plototin oleh Akhsan.


Dengan tergesa-gesa Ikhsan langsung menghampiri pohon yang tingginya lebih daripada dinding pembatas itu. Meski akan susah karena terlihat licin tapi mereka pasti bisa nyatanya Faisal saja bisa kan?


Ikhsan dulu yang mulai manjat sementara Akhsan dia masih menunggu di bawah menunggu sampai Ikhsan melihat keadaan dalam dan mereka tidak akan ketahuan.


"Aman, Bang." ucap Ikhsan dan membuat Akhsan langsung manjat juga seperti dirinya.


Mereka harus hati-hati, bukan hanya karena takut ketahuan saja tapi mereka juga takut terluka jika sampai pecahan kaca yang di pasang di atas dinding pembatas itu akan mengenai mereka.


Untung saja hanya kaca dan bukan listrik. Lebih bahaya kalau yang di sana itu adalah listrik.


"Bang, kita kayak maling ya," Lagi-lagi Ikhsan masih bisa bergurau dalam situasi yang darurat seperti sekarang. Mereka tidak tau apa yang sekarang terjadi pada adik dan istrinya, tapi Ikhsan? Ah, memang kebiasaan dia selalu seperti itu.


Jarang-jarang Ikhsan akan serius dalam hal apapun.


"Iya, kamu malingnya!" seru Akhsan semakin dongkol apalagi ketika melihat Ikhsan yang cengengesan di atas pohon.


Begitu banyak orang yang ada di dalam sana, tentu mereka semua adalah penjaga yang di bayar oleh sang pemilik rumah.


"Bang, banyak penjaga sekarang," kini perkataan Ikhsan begitu pelan tak mau sampai orang-orang itu akan mendengar dan mereka akan ketahuan.


"Hati-hati," Akhsan cepat memperingatkan Ikhsan sebelum dia akan sembrono lagi nantinya.


"Iya-iya."


🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya begitu ketakutan ketika sadar dan ternyata dirinya sudah berada di salah satu kamar yang sangat luas namun juga sangat asing, tentu itu bukan kamarnya sendiri.


Memang tidak terdapat ikatan menghasilkan pada tangan atau kakinya tidak seperti yang Tasya bayangkan. Biasanya orang-orang yang diculik pastilah akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik seperti diikat dan di bungkam mulutnya menggunakan sapu tangan tapi sama sekali tidak untuk Tasya.


"Ini di mana, apakah ini di tempat Tuan Alex?"


Tentu Tasya akan bertanya-tanya dengan kebenaran keberadaannya sekarang ini. Tidak ada siapapun yang bisa dia tanya karena di kamar itu hanya ada dia sendiri.


Tasya turun dari ranjang dan bersih untuk melangkah secepatnya Dia ingin keluar dari sana karena dia sekarang saya ingat bahwa Tuan Alex lah yang telah membawanya.


Dengan cepat Tasya mendekati pintu dan ingin membukanya dan ternyata setelah sampai di sana Tasya dibuat kecewa karena pintu itu terkunci tentu dia tidak akan bisa keluar.


Tasya melihat sekeliling tidak ada jendela yang bisa dibuka karena dua jendela yang ada di sana terdapat teralis besi yang tentunya dia juga tidak akan kuat untuk mematahkan.


"Aku harus bagaimana? Mikir Sya, mikir. Kamu harus bisa keluar dari sini." gumamnya.


Tak tak tak...


Terserah langkah kaki dan semakin dekat ke arah kamar dia berada, Tasya sangat panik apa yang harus dilakukan hingga akhirnya dia memilih kembali berlari naik keranjang dan pura-pura belum sadarkan diri.


"Itu pasti tuan Alex," gumamnya yang sangat pelan.


Krek...


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....