
🌾🌾🌾🌾🌾
Pagi begitu indah, sang surya begitu cerah, dihiasi dengan nyanyian-nyanyian dari burung-burung yang berkicau dengan begitu merdu menghiasi indahnya pagi.
Bukan hanya alam saja yang terlihat begitu bahagia dan cerah, tetapi seluruh anggota keluarga besar juga sangat bahagia karena hari ini adalah hari di mana yang sangat sakral, ya itu hari pernikahan antara Ilham dan Dina.
Bukan hanya dari keluarga inti saja tetapi dari keluarga Ilham dan juga seluruh tamu undangan yang satu persatu sudah mulai hadir, mereka tampak begitu gembira terlihat dari senyum mereka yang terus merekah begitu indah dipandang mata.
Anggota keluarga dengan berseragam berwarna peach sudah berbaris menyambut tamu yang hadir, begitu juga dengan para laki-laki yang mengenakan jas berwarna hitam yang juga berjajar dengan begitu rapi mereka juga menyambut para tamu.
Satu satu para tamu yang berdatangan langsung menghampiri para keluarga dan menyalami, bukan hanya pihak keluarga pengantin saja yang terlihat begitu antusias tetapi juga para tamu pun juga sama.
Setelah menyalami, mereka semua dituntun untuk menuju ke arah tempat yang sudah disediakan. Sambutan bukan hanya dari pihak keluarga saja, melainkan juga dari hadroh yang dinyanyikan oleh para santri yang begitu menggema meramaikan acara pernikahan ini.
Pernikahan yang begitu sangat meriah dan juga sangat mewah dengan dekorasi yang sangat menakjubkan.
Meski Faisal sudah terlihat baik-baik saja namun Tasya yang terlihat tidak baik, Tasya masih sangat mengkhawatirkan Faisal.
Terus saja Tasya melihat kearah Tasya yang ada di depannya meski di tengah-tengah tersekat dengan jalan keluar masuk. Kekhawatiran Tasya jelas dapat di lihat oleh siapapun yang ada di sana, tidak terkecuali oleh Oma juga mamanya.
Kadang-kadang Tasya sampai kelewatan ketika menyalami tamu undangan yang ada di hadapannya karena dia lebih fokus ke arah Faisal. Fokusnya Tasya benar-benar sangat terganggu oleh keadaan Faisal yang sudah membaik.
Membaik? bagaimana mungkin bisa dikatakan membaik kalau tadi pagi saja apa yang terjadi kepada Faisal kemarin terjadi lagi. Faisal masih terus muntah seperti kemarin bahkan pagi tadi terlihat begitu parah sampai-sampai wajahnya begitu pucat dan tubuhnya begitu lemas.
Tasya sangat heran, dia benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Faisal, tetapi yang dia pikirkan saat ini adalah setelah selesai acara pernikahan dia akan mengajak Faisal untuk periksa ke dokter, siapa tahu kesehatan Faisal sedang tidak dalam keadaan baik.
Tasya sudah mengajaknya tadi pagi sebelum acara dimulai, sebenarnya mereka pergi sebentar untuk ke rumah sakit tidak akan masalah mereka juga tidak akan telat, tetapi Faisal menolak karena takut terlambat dia merasa tidak enak kepada Ilham jika dia tidak bisa menghadiri acara yang paling sakral untuk temannya itu.
Tasya yang terus melihat ke arah Faisal saat itu disadari oleh Faisal, Faisal memberikan isyarat dengan matanya bahwa dia tidak ada masalah dan juga baik-baik saja, tetapi baik Tasya tetap saja tidak percaya.
Jika Faisal baik-baik saja dia tidak akan mengalami hal seperti tadi pagi, dan itu tidak terjadi hanya sekali saja tapi sudah dari kemarin juga sudah mengalaminya.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Oma yang menyadari pergerakan Tasya.
Gerak-gerik dari Tasya sangat terbaca oleh sang Oma yang berada di sampingnya. Bagaimana mungkin Oma tidak akan memahami apa yang sedang dipikirkan oleh cucu menantunya itu.
"Ti_tidak apa-apa, Oma." Tasya tersenyum kaku, berusaha menyembunyikan Apa yang sedang dia rasakan saat ini bahwa dia sedang khawatir kepada suaminya.
Semuanya belum jelas dan Tasya tidak berani mengatakan, karena dia takut semua keluarga akan khawatir dan mengira bahwa Faisal sedang mengalami sesuatu yang sangat berat, seperti apa yang sedang dia pikirkan.
'Sebenarnya apa yang sedang Tasya pikirkan?' pikir sang Oma.
Melihat gerak-gerik yang terjadi kepada Tasya jelas saja membuat sang Oma berpikir kalau ada sesuatu yang telah dia pikirkan. tetapi Oma tidak ingin bertanya saat ini karena ini bukanlah waktu yang tepat.
Tasya terlihat semakin gelisah ketika tiba-tiba Fahmi duduk di saat begitu banyak orang yang datang, seharusnya Fahmi tetap berdiri dan menyalami semua orang, tetapi kenapa sekarang tidak? Apakah ada yang pernah dia rasakan?
Tasya ingin menghampiri, namun tidak mungkin dia langsung berlari begitu saja di tengah keramaian pasti semua juga akan mengkhawatir jika Tasya melakukan hal itu. Tasya terdiam sejenak memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang ini.
'Tuh kan, sudah dibilang juga kenapa malah ngeyel sih! Jadinya seperti ini kan?' batin Tasya yang sangat kesal karena Faisal menolak keinginannya tadi pagi.
Jika Faisal tidak mau diperiksakan ke dokter setidaknya dia istirahat lebih dulu, dan setelah benar-benar baik barulah dia datang, tetapi itu tidak baik saya lakukan dan malah pergi dari awal.
Wajah Faisal terlihat semakin pucat, Bahkan dia juga terlihat semakin lemas untuk berdiri saja terlihat begitu susah, apakah Faisal bener-bener sedang mengalami masalah yang serius?
'Tidak, aku harus mengajak mas Faisal masuk saja. Kalau dia tidak mau awas saja,' Tasya kembali membatin.
Tasya melihat dengan tajam ke arah Faisal yang duduk, dan saat itu Faisal juga melihatnya. Tatapan mereka bertemu, Tasya meminta Faisal untuk masuk dengan menggunakan bahasa isyarat sementara Faisal juga menolak dengan menggunakan isyarat juga. Sungguh keduanya seperti anak kecil yang sedang marahan.
Keduanya yang terus saja saling bertatapan disadari oleh sang Oma, dan membuat Oma tersenyum karena merasa sangat lucu dengan tingkah mereka berdua. Mengingat dulu dia ketika masih muda tidak sampai seperti ini, ini melebihi dirinya bagaimana mungkin Oma tidak merasa lucu dengan mereka berdua.
'Sebenarnya mereka kenapa sih? apakah mereka sedang ada masalah? apakah mereka sedang berantem?' batin Oma.
Jelas saja Oma berpikir seperti itu karena melihat bagaimana tatapan mereka berdua yang saling melotot, dan seperti sedang menyampaikan amarah mereka meski hanya menggunakan isyarat mata.
Tetapi, tidak lama Oma terus berpikir seperti itu karena tiba-tiba saja Faisal menutup mulutnya sendiri seperti orang yang ingin memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Sekarang Oma pun juga ikut mengkhawatirkan cucunya itu yang terlihat sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
'Apakah Faisal masih sakit?' batin Oma lagi.
Oma menoleh ke arah Tasya dan terlihat sangat jelas bahwa Tasya semakin melotot tajam ke arah Faisal, mungkin inilah yang membuat Tasya begitu khawatir dari tadi karena Faisal sedang dalam keadaan tidak baik.
Faisal langsung berlari pergi dari sana, membuat Tasya juga ikut bergegas.
"Oma, saya pergi dulu," Tasya langsung berlari setelah Oma mengangguk.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...