
🌾🌾🌾🌾🌾
Kedatangan para laki-laki yang tidak di kenal oleh Tasya membuat dia sedikit menyingkir. Tak ada yang di kenal jelas akan siapa namanya tapi satu yang Tasya pernah bertemu. Dia adalah Faisal yang sampai sekarang juga belum dia tau siapa namanya.
'Mereka sudah datang, syukurlah. Berarti hutang ku lunas pada pria itu. Dia sempat membantu ku jadi inilah balasannya. Dengan aku membantu menyelamatkan keluarganya,' batin Tasya.
Akhsan juga Ikhsan langsung berlari ke tempat orang tuanya. Sementara Faisal juga sebenarnya iya tapi gadis yang terus melipir dan seolah tak ingin di lihat olah nya malah membuatnya semakin penasaran.
Apalagi di tambah dengan jaket yang dia pakai. Jaket itu adalah jaket kesayangannya yang hanya dia berikan pada seorang saja.
"Tunggu!" cegah Faisal. Faisal menghentikan langkah berusaha menghentikan Tasya yang berjalan dengan menoleh ke arah lain dan menyembunyikan wajahnya dengan topi.
'Sial, kenapa dia mengenaliku sih?' batin Tasya lagi. Rupanya panggilan Faisal tidak dia inginkan, dia berusaha menghindar tapi itu tak bisa karena apa yang di pakai Tasya sekarang adalah jaket pemberiannya.
"Apakah kamu yang menyelamatkan orang tua ku?" tanya Faisal.
Tasya mengangguk, tapi dengan tak semangat juga dengan sangat acuh.
"Hem," hanya itu saja yang Tasya katakan. Ternyata dia lebih irit bicara hari ini tidak seperti hari yang sudah-sudah.
"Sa_saya...? Saya Faisal, kamu?" meski tidak mengulurkan tangan tapi Faisal tetap memperkenalkan diri. Setidaknya mereka bisa saling mengenal kan? ini adalah pertemuan yang kesekian kalinya tapi mereka belum saling kenal.
Tapi niat Faisal sepertinya tidak di sambut baik oleh Tasya yang terus diam dan tak menggubrisnya.
"Maaf," ucap Faisal menyesal. Mungkin memang Tasya tak mau berkenalan padanya.
"Sekali lagi terimakasih," ucap Faisal lagi.
"Apa sudah bicaranya? kalau sudah saya harus pergi sekarang." kembali Tasya berbicara sangat panjang.
"Su_sudah," baru kali ini seorang Faisal kehilangan daya pikatnya di depan wanita. Biasanya para cewek-cewek cantik bahkan yang berhijab syar'i pada terkagum-kagum kepadanya, tapi tidak dengan Tasya.
Kepergian Tasya hanya bisa membuat Faisal pasrah. Dia tak akan bisa melakukan apapun dia juga tidak bisa mencegahnya karena dia tidak punya hak untuk itu.
Tapi kenapa Tasya begitu dingin hari ini, tidak sama seperti kemarin yang terlihat biasa-biasa saja.
Bukan hanya Tasya yang pergi tapi juga Bimo dan kawan-kawan yang juga langsung membuntuti Tasya. Mereka berempat berlari dan mengejar tanpa menoleh lagi.
"Kamu mengenalnya, Dek?" Akhsan menghampiri dengan merangkul omanya.
"Tidak mengenalnya, tapi beberapa kali bertemu dengannya." jawab Faisal tanpa menoleh.
"Apa kalian mau tau, gadis itu namanya sama persis seperti oma. Anastasya." ucap Oma dengan mata yang juga mengikuti arah pandang Faisal. Melihat kepergian Tasya yang sudah semakin jauh.
"Dia benar-benar seperti oma. Tidak ada ketakutan dalam dirinya, hatinya selalu tulus dalam menolong orang lain. Tak ada niat untuk meminta imbalan." sepertinya oma begitu mengaguminya.
"Faisal, apakah kamu tau dimana dia tinggal?" tanya Oma lagi.
"Tidak, Oma. Faisal tidak tau jelasnya dia tinggal di mana. Tapi dia pernah bilang, kalau dimana kakinya berpijak di sanalah tempat tinggalnya. Dia datang dari desa dan kini dia hanya tinggal di jalan dan tak punya tempat tujuan untuk pulang," terang Faisal dan kali ini dia menoleh.
"Kalau begitu, buatlah dia memiliki tujuan untuk pulang."
"Maksud Oma?" di tanya seperti itu sang Oma hanya tersenyum saja tanpa ada niat untuk menjelaskan apa sebenarnya yang Oma inginkan.
'Memiliki tujuan untuk pulang, maksud Oma apa?' batin Faisal masih tak mengerti.
🌾🌾🌾🌾🌾
Faisal hanya terus menggigit jarinya saat ini. Saat dia hanya duduk sorang diri di dalam kamar. Memikirkan apa yang sang Oma inginkan.
"Apa sih maksud Oma?" gumam Faisal masih saja tak mengerti.
Tetapi masalahnya sang Oma tidak mau menjelaskan dan terus mengatakan kata-kata yang menurutnya penuh dengan teka-teki.
Faisal terus mencari jawaban dari sedikit kalimat saja. Benar-benar hanya sedikit tetapi maknanya sangatlah besar.
Tok tok tok...
Faisal terkesiap saat mendengar suara ketukan pintu. Dengan pelan Faisal melangkah dan menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang untuk menemuinya.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Wa'alaikumsalam, Mas Ilham. Ada apa Mas?" dan ternyata Ilham lah yang datang.
"Mas Faisal baik-baik saja kan?" terlihat Ilham begitu khawatir membuat Faisal bingung apa yang telah di khawatirkan?
"Saya baik-baik saja, Mas. Emang kenapa?" Faisal mengernyit bingung, tak mengerti apa yang Ilham maksud.
"Bohong, mas Faisal tidak baik-baik saja," kenapa Ilham tidak percaya, padahal apa yang di katakan oleh Faisal adalah benar. Tapi apa?
Ilham hanya tersenyum sembari menggeleng pelan, ada hal yang dia sembunyikan.
"Mas ini jam berapa, Mas Faisal melupakan sesuatu."
"Hem? apa yang saya lupakan?" Faisal semakin mengernyit.
"Benar, mas Faisal sedang tidak baik," bukan hanya tersenyum tapi Ilham malah terkekeh karena Faisal benar-benar telah melupakan pekerjaan yang sudah menjadi aktivitas kesehariannya.
"Apa sih, Mas. Tolong katakan apa yang saya lupakan," masih saja Faisal tak mengingat.
Padahal kedatangan Ilham juga sudah apa yang biasa mereka gunakan.
"Mas, kita harus mengajar qori pada para santri. Semua santri sudah menunggu sedari tadi. Mereka sudah ribut karena mengira mas pergi," jelas Ilham.
"Qori? Astaghfirullah hal azim! aku benar-benar lupa, Mas. Maaf maaf. Saya bersiap dulu!"
Barulah Faisal mengingat apa yang di maksud oleh Ilham. Faisal berlari masuk lagi dengan sangat buru-buru dan secepatnya bergegas.
"Mungkin hatinya Mas Faisal yang lagi kurang baik. Sampai dia melupakan ini. Padahal sudah menjadi rutinitas tapi kok bisa sampai lupa? Mas mas," Ilham menggeleng dengan merasa geli sendiri.
"Sudah, Mas. Yuk kota berangkat," akhirnya Faisal keluar dengan membawa Al-Qur'an dan sudah berpenampilan baru tidak sama seperti barusan saya Ilham datang.
"Sepertinya Mas Faisal membutuhkan obat nih," gurau Ilham.
"Kenapa butuh obat, saya tidak sakit, Mas."
"Bukan sembarang obat, Mas. Obatnya ya yang bikin mas jadi lupa seperti ini. Hayo, Mas Faisal lagi mikirin apa?"
"Nggak ada, Mas."
"Bohong, nggak mungkin nggak ada sampai membuat mas Faisal terlihat gelisah seperti ini.
Gurauan juga godaan Ilham terus lontarkan pada Faisal namun Faisal tetap saja tak mengerti. Apakah sesulit itu untuk Faisal mengerti apa penyebab dari apa yang terjadi padanya saat ini?
Penyebabnya adalah, ANASTASYA.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....