Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Keberanian Tasya



🌾🌾🌾🌾🌾


Bukan hanya Faisal saja yang sangat bahagia tapi semua keluarga besarnya juga ikutan bahagia setelah tau jawaban apa yang mereka dapatkan dari Tasya.


Semua mendengarkan penjelasan Faisal dengan sangat seksama dan tersenyum setelah semuanya jelas. Apalagi sang Oma, dia yang dari awal begitu antusias pastilah yang lebih bahagia karena tujuannya akan menjadi nyata.


"Ray, sepertinya persiapan harus segera di lakukan. Bunda seneng banget akhirnya sebentar lagi cucu-cucu ku akan berkeluarga semua," ucap Oma dengan sangat bahagia. Rasanya sangat senang karena dia masih di beri umur panjang dan bisa melihat semua cucunya berkeluarga. Apalagi ada buyut-buyut yang semakin menambah kesenangannya.


"Bunda benar. Ini adalah hal kebaikan jadi harus di segerakan," Rayyan pun juga begitu antusias.


Setelah semua anaknya menikah maka bebannya akan berkurang dan tanggung jawabnya sudah selesai. Setelah itu dia hanya tinggal mengawasi dan hanya terus menasehati anak-anaknya saja untuk bisa menjaga rumah tangga mereka dengan baik.


"Bukan begitu kan, Sal?" Kini Rayyan menoleh ke arah Faisal yang nampak menunduk dengan perasaan yang begitu campur aduk. Semua rasa berkumpul menjadi satu dan seolah ingin lebih mendominasi di hatinya.


"I_iya, Pa," wajah Faisal terangkat sebentar sekedar untuk memberikan jawaban pada papanya kalau semua itu memang benar.


Faisal juga sudah tak sabar untuk bisa menjadikan Tasya pendampingnya yang halal, yang bisa menjadi teman, sahabat juga makmum yang akan selalu mengaminkan semua doa-doanya.


Meski usianya masih terbilang muda (25) tapi dalam kedewasaan dan juga kesiapan Faisal sudah tak bisa di ragukan lagi. Bahkan menurut agama dia juga sangat pantas untuk menikah dan menjalin keluarga yang sesuai dengan yang di syariat_kan oleh Sang Pencipta.


"Terus, apa rencana_mu sekarang, Sal?"


"Faisal ingin bisa melamar Tasya secara benar, Pa. Faisal ingin bisa bertemu dengan ayahnya dan membicarakan langkah selanjutnya. Biar bagaimanapun Tasya masih mempunyai seorang ayah. Sepertinya apapun beliau, beliau harus tetap menjadi wali untuk pernikahan nanti," jawab Faisal menjelaskan.


"Kamu benar," Rayyan mengangguk mengerti.


"Terus, kapan kamu akan menemuinya?"


"Faisal akan bicara dulu dengan Tasya bagaimana baiknya, Pa. Karena hanya dia yang tau waktu yang tepat untuk menemui ayahnya."


"Apa papa harus ikut?" seharusnya sih iya.


"Faisal bicara dulu sama Tasya, Pa. Kalau sudah siap berangkat nanti akan Faisal katakan. Memang akan lebih baik kalau papa juga ikut biar ayahnya Tasya tidak meragukan niat baik ini," ucap Faisal menjelaskan.


Semua tampak setuju dengan apa yang Faisal katakan semuanya memang benar.


Sepertinya apapun ayahnya Tasya dia harus tau.


Semoga saja tak akan ada masalah yang di timbulkan oleh Ayahnya Tasya. Semoga semua berjalan lancar sesuai apa yang di kehendaki.


🌾🌾🌾🌾🌾


Begini berani Tasya menghampiri orang-orang yang ada di pasar yang akan merusak lapak dari wanita yang meminta tolong pada Tasya barusan.


Terlihat beberapa orang yang ada di sana dengan tertawa bahagia, tangannya sudah beraksi untuk melakukan apa yang menjadi tujuannya melemparkan satu persatu dagangan.


"Hey! hentikan!" Teriak Tasya dengan begitu berani.


Mata Tasya sudah sangat membulat dengan tangan yang mengepal dan langkah kaki yang buru-buru mendekat.


Orang yang berjumlah empat orang itu menoleh. Memang tidak semua yang merusak dagangan tapi hanya tiga dan yang satunya hanya duduk santai sembari melihat apa yang di lakukan oleh anak buahnya.


"Hey kucrit! bocah tengil! jangan ikut campur dengan urusan kami. Ini sangat pantas suatu dapatkan karena dia tidak mau membayar pada kami! Semuanya sudah saya katakan, semua yang ada di sini harus mau membayar. Kalau tidak maka merupakan harus angkat kaki dari sini," serunya dengan tak suka dengan apa yang di lakukan oleh Tasya.


Semakin Tasya mendekat dengan mata yang tajam malah semakin senang dan semangat orang-orang itu melempar-lempar dagangan.


Sementara sang ibu hanya bisa menangis dari jauh tak berani mendekat. Semua dagangan ingin di hancurkan, semua hasil kerja keras dari awal yang baru sedikit dagangannya dan sekarang sudah lumayan dan akan di hancurkan begitu saja.


"Tolong jangan hancurkan semuanya," gumamnya dengan penuh harap.


"Ada apa, Bu?" Bimo cs datang dan sudah berada di belakang ibu itu.


"Mereka akan menghancurkan semuanya," tangisnya pecah.


"Ibu yang sabar, ibu di sini dulu," Bimo dan teman-temannya langsung menghampiri Tasya. Lagian mereka juga merasa takut kalau Tasya berada di sana sendiri.


"Sya," Panggil Bimo dan Tasya langsung menoleh dengan wajah datarnya. Tidak lama Tasya memandang Bimo dan kawan-kawan hanya sebentar saja lalu kembali melihat keempat orang itu yang semakin merasa bebas tanpa ada rasa takut meski kedatangan Tasya juga Bimo dan teman-teman.


"Hey! kalian bisa berhenti tidak!" seru Bimo dengan tangan menunjuk ke arah ketiga orang itu yang dengan asyik bertingkah. Sementara yang kemungkinan adalah pemimpinnya dengan begitu santainya duduk dengan menikmati apel yang kemungkinan juga dari tangan jailnya yang mengambil milik orang lain.


"Apa yang ingin kamu lakukan, mau menantang kami!" terlihat salah satu dari mereka kesal dan membanting-banting dagangan semakin brutal.


"Apa kalian mau jadi pahlawan, iya! berani melawan kami?! anak-anak ingusan seperti kalian apa yang bisa kalian lakukan!" Satunya lagi berbicara.


Tasya diam tapi dia terlihat semakin kesal, amarahnya semakin besar dengan tangannya yang sudah mengepal seolah siap untuk memberikan hukuman untuk mereka. Tetapi mereka semua malah tertawa terbahak-bahak melihat Tasya yang seperti itu.


"Hahaha, lihatlah dia. Matanya sudah mau copot. Hahaha!" tangannya menunjuk ke arah Tasya.


"Lihatlah ini, ini, ini! hahaha!" kembali dia melempar-lempar dagangan itu bahkan sampai ada yang jatuh di depan Tasya.


"Paman, sepertinya tidak bisa di ajak baik-baik," ucapan Tasya terdengar biasa tapi bagi yang biasa mendengar cara bicaranya dia akan takut karena ada aura yang berbeda yang keluar.


Matanya begitu tajam seakan ingin menerkam habis semua orang yang ada di hadapannya. Diamnya bukan karena takut tapi karena tengah mengumpulkan kekuatan.


Salah satu dari mereka ingin lagi mengambil dagangan itu, dia bersiap melemparkannya tapi dengan gerak cepat Tasya sudah berpindah di depannya, menangkap pergelangan tangannya dan memutarnya hingga berhasil membuat dia meringis kesakitan.


"Hey hey! lepaskan! hey!" seketika dia menjerit.


Teman-temannya langsung melotot dalam amarah dan hendak ingin membantunya.


"Berhenti atau saya patahkan tangan ini" kalian pikir hanya kalian yang bisa berkuasa di sini. Apa kalian pikir hanya kalian saja yang paling kuat di sini! cepat ganti rugi dan minta maaf sebelum saya benar-benar buat kalian lumpuh seumur hidup kalian!" suara Tasya benar-benar terdapat kemarahan.


"Berani sekali kamu bocah tengil!" umpatnya.


Perkelahian akhirnya terjadi di antara ketiga pria itu melawan Tasya, melihat itu Bimo dan teman-teman tak tinggal diam dan langsung membantu.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...