Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Antusiasnya Salwa



🌾🌾🌾🌾🌾


Entah apa yang akan di beli oleh Hasan di pasar. Terlihat dia begitu antusias dan terus melangkah dengan sangat semangat.


Sementara Faisal terus mengikuti Hasan. Jelas sedikit kesal karena Hasan tak kunjung membeli apa yang menjadi tujuannya tapi malah terus berputar-putar.


"Hasan, sebenarnya kamu cari apa sih. Dari tadi hanya muter-muter terus. Nih sudah sampai di sini lagi, entah sudah yang keberapa kali kita melewati tempat ini," tanya Faisal.


"Maaf ya, aku lupa tempatnya. Di mana ya?" Hasan terlihat kebingungan sendiri, wajahnya terus menoleh ke arah-arah yang dia yakini, tapi apakah itu benar?


"Sepertinya ke sebelah sana," Hasan begitu yakin dengan jari telunjuk yang menunjukkan arah yang akan menjadi tujuannya.


"Benar, kamu nggak bohong kan? kamu tidak sedang ngerjain aku kan?" selidik Faisal dengan penuh rasa curiga.


"Tidak lah, siapa juga yang mau mengerjai ustadz. Yuk!" ajak Hasan lagi dengan semangat.


Sementara di sudut pasar ada Tasya yang sedang makan bersama Salwa. Tentu ada ke empat pria yang berdiri menunggu mereka seperti seorang bodyguard.


"Kalian benar-benar nggak mau makan?" tanya Tasya pada Bimo dan kawan-kawannya.


"Ti_tidak usah. Kami sudah makan kok tadi," tentunya Agus hanya berbohong saja. Padahal sebenarnya perutnya juga sudah terus menggelitik dan terus berbunyi.


'Astaga, sini yang bekerja dengan susah payah tapi malah dia yang menikmati makanannya. Astaga, nih perut rasanya lapar sekali sih,' batin Agus penuh penyesalan.


Kini Tasya benar-benar kenyang, dia juga sangat senang karena bisa melihat Salwa begitu lahap makannya.


Ke empat pria yang terus berdiri hanya bisa menelan ludah sendiri karena sebenarnya menginginkan apa yang di makan oleh Tasya juga Salwa.


"Hem, setelah ini kamu mau kan jadi bagian dari kami?" tanya Bimo.


"Kami sudah melakukan apapun yang kami inginkan loh. Kami sudah masuk selokan juga bekerja keras untuk bisa membeli nasi untuk kamu dan Salwa. Kamu tidak akan mengingkari apa yang sudah kamu katakan kan?" imbuh Bimo.


Tasya menoleh ke arah Bimo, keningnya mengerut hingga begitu banyak.


"Tunggu-tunggu, sepertinya saya tidak mengatakan kalau dengan kalian melakukan apapun yang aku mau lantas aku mau bergabung dengan kalian deh. Aku tidak mengatakan itu loh!" tegas Tasya.


Nah kan benar, inilah yang di takutkan oleh Agus. Bisa jadi cewek itu hanya mengerjainya saja dan ternyata benar kan.


"Ka_kamu!" Agus langsung emosi lagi kan. Cewek ini jelas akan membuat ubun-ubunnya mendidih. Sudah mereka melakukan apapun dan sekarang dia begitu entengnya mengatakan itu.


"Gus, berhenti," cegah Bimo.


"Tapi dia sangat ngeselin, Bos. Kita hanya di kerjain olehnya, sia-sia saja kan apa yang kita lakukan. Dia benar-benar keterlaluan, Bos!" sepertinya Agus benar-benar sudah tak bisa di toleran lagi kemarahannya.


"Sabar, Gus," pinta Bimo.


"Sabar? bagaimana bisa saya sabar, Bos! dia benar-benar mempermainkan kita!"


"Iya, saya juga tau." Bimo masih sangat berharap kalau Tasya akan mengubah kata-katanya barusan.


"Jangan mudah marah, Bro. Nggak baik untuk kesehatan. Seharusnya kamu dengar dulu kata-kataku sampai habis, aku belum selesai loh kamu udah main marah-marah saja," begitu angkuh Tasya mengatakannya.


"Jangan banyak bicara deh loh. Jangan merasa sok kuat sendiri deh di sini!" Agus sudah mulai nyolot dia tentu sudah tak sabar.


"Iya, akan saya katakan nanti. Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan semoga saja akan memuaskan kami," tidak seperti Agus yang selalu emosi tapi Bimo lebih tenang dan lebih penyabar mungkin itulah yang membuat dia di nobatkan menjadi ketua mereka.


"Begini ya, kalau aku harus bersatu dan menjadi anggota dari kalian maaf saya tidak bisa, tapi kalau kalian memang mau jadi teman tidak masalah. Kita bisa menjadi teman."


"Dan untuk apa yang kalian takutkan, aku akan membantu sebisaku jika kalian memerlukan ku. Jadi jangan takut aku akan lari. Bukan hanya kalian saja yang bisa aku bantu tapi semuanya. Karena aku ingin bisa membantu semua orang, bukan hanya kalian. Mengerti kan sekarang?" Tasya menjelaskan.


Mungkin Tasya melakukan itu karena dia ingin bebas dan tak terikat pada siapapun, mungkin.


Meski sedikit kecewa tapi mereka tetap sepakat. Tak menjadi anggota tak masalah yang terpenting di saat mereka butuh bantuan Tasya akan selalu siap.


"Kak Tasya mantap deh, Salwa seneng dengernya," begitu jelas kekaguman Salwa terhadap Tasya bahkan anak kecil itu juga langsung memeluk Tasya erat.


Terasa ada yang mengamati membuat Tasya langsung menoleh jelas yang dia lihat adalah Faisal yang berdiri mematung dengan jarak tak begitu jauh dan sedang mengamatinya.


Mata yang saling tatap dengan waktu yang lama membuat Bimo ikut menoleh dan melihatnya jelas yang dia lihat adalah Faisal.


"Ustadz, kok malah berhen_ti..." akhirnya Hasan tau apa yang membuat Faisal berhenti.


"Memang ya, kalau jodoh pasti di mana pun akan selalu bertemu," ucap Hasan namun Faisal masih tetap diam.


"Tasya, kamu mengenalnya?" tanya Bimo dengan mata hanya melirik Tasya sebentar.


"Kakak!" dan malah Salwa yang langsung berdiri dan berlari menghampiri Faisal yang akhirnya tersadar dan kini melihat Salwa.


"Kakak ngapain di sini, mau ketemu kak Tasya ya?" ucap Salwa yang kini sudah mendongak dan melihat wajah Faisal.


"Ti_ti... eh! mau dia ajak kemana?" belum juga Faisal menyelesaikan kata-kata yang awal sudah lebih dulu di tarik oleh Salwa.


"Kita samperin kak Tasya, Kak," begitu antusias Salwa ingin mendekatkan Faisal dengan Tasya.


Tasya berdiri dengan rasa canggung, tumben dia punya rasa seperti itu biasanya kan tidak sama sekali.


"Kak, apa kakak tau? kak Tasya sangat menyukai jaketnya loh, bahkan tidur saja di peluk terus," ucap Salwa.


'Dasar kecil-kecil mulutnya lemes amat nih, pengen rasanya tak jitak tuh kepalanya,' batin Tasya.


Padahal sangat jelas dia memeluk jaket itu karena dia gunakan untuk menghangatkan tubuhnya karena dinginnya angin malam, tapi nih anak. Bener deh.


Keduanya kembali saling tatap, dengan rasa canggung yang berada di tengah-tengah keduanya.


Ada sepasang mata yang menatap tak suka, padahal dia juga tidak menyukai Tasya tapi dia tetap tak suka Tasya dekat dengan laki-laki lain. Atau mungkin itu karena dia belum menyadarinya? dia adalah Bimo.


"Kak, kita jalan-jalan yuk ke taman," nih anak emang bener-bener ngeselin. Dengan percaya dirinya dia menggandeng jari telunjuk Tasya dan Faisal dan melangkah menuju taman yang tak jauh dari pasar.


Keduanya begitu menurut tak ada protes juga tak ada kata-kata untuk menolak.


"Subhanallah, benar-benar seperti keluarga bahagia," gumam Hasan jelas menambah ketidak sukaan Bimo sekarang.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....