Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Semua Selamat



🌾🌾🌾🌾🌾


Faisal beserta kedua abangnya juga adik iparnya terlihat lemas setelah menyaksikan ledakan yang sangat luar biasa dahsyatnya dari salah satu ruangan. Mereka sangat yakin, itu adalah ruangan dimana tempat penyekapan keluarganya.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin," Faisal begitu syok. Tidak percaya kalau mereka akan kehilangan keluarganya secepat ini dan dengan cara yang seperti ini.


Kenapa masalah di masa lalu masih saja menghantui keluarga mereka. Mereka sudah terus berjuang untuk bisa menyingkirkan semuanya, mengendalikan supaya tidak lagi terjadi di hari-hari berikutnya tapi tetap saja itu terjadi.


"Bang, ini tidak mungkin kan? ini tidaklah benar kan?" tanya Faisal yang merasa tak berdaya juga tak percaya.


Dendam dan dendam yang selalu saja mereka rasakan dampak dari kejadian di masa lalu. Sebenarnya bukan masalah mereka, bukan masalah dari sang oma yang seorang mantan Mafia. Tapi kesalahan terdapat dari para musuh yang sangat iri dengan kesuksesan sang Oma yang sekarang di wariskan kepada anak cucunya.


Dari anak-anak Omanya semua menguasai keahlian oma dalam hal bertarung. Bahkan ketiga saudara Faisal juga menguasainya, tapi tidak dengan Faisal sendiri. Dialah salah satu keturunan yang tidak terlalu bisa dalam hal bertarung.


Padahal sang papa selalu mengatakan ilmu bela diri bukan berarti untuk menghakimi orang lain, bukan juga untuk di pamerkan pada orang lain, tapi untuk melindungi diri dan keluarga.


Meski sang Oma adalah mantan Mafia bukan berarti semua itu harus di hilangkan begitu saja, mereka masih tetap bisa menggunakan ketangkasan juga keahlian itu untuk melindungi keluarga juga orang lemah yang membutuhkan. Tapi Faisal tidak tertarik dengan itu, Faisal lebih tertarik dengan apa kebiasaan sang Opa yang begitu kalem dan lemah lembut. Faisal ingin seperti opanya.


Memilih jalan yang berbeda dari ketiga saudaranya yang masih mempunyai kelompok keamanan juga mempunyai markas-markas sendiri yang Faisal sendiri tidak tau bentuk dan kegunaan markas tersebut.


Itu sebabnya kedua abangnya datang dengan orang-orang yang bertubuh kekar, merekalah bagian dari kelompoknya.


"Mereka pasti baik-baik saja," ucap sang abang menenangkan hati Faisal meski hatinya sendiri tengah kacau sekarang.


Setelah gedung itu di rasa aman pencarian mulai di lakukan, mereka semua masuk ke ruangan itu untuk mencari-cari keluarga mereka.


"Cari cepat!" titah Akhsan.


Tentu sang anak buah langsung mencari dengan cepat. Begitu juga dengan mereka yang juga ikut mencari.


"Tuan, kamu sudah mencari, tapi kami tidak menemukan satupun keluarga tuan." ucap salah satu dari anak buah Akhsan.


Mereka semua terdiam dan kembali berpikir kalau semua keluarga tidak ada berarti mereka tidak ada di sana. Bisa jadi mereka di bawa pergi setelah mereka datang.


"Siapa sebenarnya yang melakukan ini," Faisal begitu bingung.


"Bang, ini bagaimana?" tanya Faisal.


"Kita cari di tempat lain. Sepertinya orang ini pintar juga," ucap Ikhsan.


Di saat semua ingin bergegas ada seorang pria datang, dia adalah Bimo.


"Apakah di antara kalian ada yang bernama Akhsan?" hanya nya.


"Ya, saya," jawab Akhsan.


Padahal Bimo pikir yang namanya Akhsan itu adalah orang yang biasa bertemu dengan Tasya, tapi ternyata itu yang berbeda. Lalu dia namanya siapa?


"Oh anda, saya pikir?" Bimo malah menatap Faisal karena dia pikir Faisal yang bersama Akhsan.


"Ya, ada apa ya?" tanya Akhsan.


"Semua keluarga kalian selamat, mereka di tolong oleh teman saya. Mari ikut saya," ajak Bimo.


'Benar nggak nih? atau jangan-jangan hanya jebakan?' batin Ikhsan.


"Baiklah," Akhsan langsung setuju.


"Bang, maaf. Saya nggak bisa ikut. Saya ada keperluan penting," Rico pamit.


"Hem, hati-hati." jawab Faisal.


Mereka pun bergegas mengikuti Bimo dengan harapan Bimo tidak berbohong apalagi hanya membutuhkan sebuah jebakan saja.


🌾🌾🌾🌾🌾


"An, sekarang apa yang harus kita lakukan pada orang-orang asing itu? kita tidak mengenal mereka sepertinya mereka juga tidak mengenal kita. Apa kita harus tetap melindungi mereka di sini?" tanya Dadang.


Pletakkk...


"Kamu pikir untuk menolong orang harus orang yang kita kenal! ish..., dasar kau ini." Tasya begitu kesal mendengar penuturan dari temannya itu.


"Ya nggak gitu juga sih. Hemm..., apa kita akan mendapatkan imbalan dari mereka? Ya, hitung-hitung uang lelah gitu. Kita kan juga butuh isi perut untuk bertahan hidup." ucapnya lagi.


"Kamu mau makan? mau isi perut? nih buat isi perut karet mu!" dua bungkus permen karet di ambil oleh Tasya dari kantongnya dengan cepat dia memberikannya di tangan Dadang jelas itu membuatnya berdecak.


"Bagaimana nggak perut karet? setiap hari makannya kayak gini mulu!" jawabnya kesal.


Tak peduli lagi si Tasya, dia diam namun mulutnya terus berkecamuk karena mengunyah permen karet bahkan dia juga sesekali membuatnya menggembung dia juga sesekali membunyikannya.


"Maaf, saya tidak bisa membawa kalian ke tempat yang lebih pantas. Tapi saya akan usahakan untuk mencari tumpangan mobil yang akan mengantarkan kalian pulang." ucapnya dengan begitu dingin.


"Terimakasih, Nak. Duduklah sini bersama kami, kamu pasti juga sangat lelah karena menolong kami," Nenek tua itu menarik pergelangan tangan Anastasya, dan membuatnya duduk di sebelahnya.


"Siapa namamu?" tanya sang nenek dengan sangat lembut.


"Ana, Anastasya. Bisa panggil Tasya juga," suaranya selalu terdengar begitu tebal akan keangkuhan.


Sang nenek tersenyum, dia menoleh ke anak-anak dan menantunya yang juga tersenyum mendengar nama Anastasya.


"Kenapa? apa namaku sangat buruk?" Anastasya mengernyit.


"Bukan, Nak. Nama kamu bagus. Sangat bagus malah. Hanya saja namanya sama dengan nama Oma, Anastasya." Sang nenek mengelus punggung Anastasya, sesekali dia juga memainkan rambutnya yang begitu hitam dan lembut.


Tasya sedikit tertegun sesaat karena ternyata namanya sama dengan nama sang nenek.


"Oh!" Sekilas saja Tasya menjawab.


Anastasya melihat tangan satunya nenek itu yang terluka, dilihatnya dengan teliti, "Apa sangat sakit?" tanyanya. Nek Ana hanya tersenyum kecil menanggapi.


Tak mengatakan apapun lagi Anastasya mengambil sapu tangan merah yang dia ikatkan di saku celananya dia gunakan untuk membungkus luka Nenek Ana. Sedikit bingung Tasya untuk memanggilnya, Nek Ana atau nek Tasya.


Sama-sama Anastasya, Tasya benar-benar mirip dengan nek Ana saat masih muda. Tak ada ketakutan pada siapapun. Jelas, dulu dia adalah seorang Mafia.


"Dengan ini darahnya tidak akan keluar lagi. Tapi Nyonya harus menjaganya supaya tidak terkena air. Jangan sampai nanti infeksi." bibirnya terus berucap tapi tangannya terus bergerak membungkus. Akhirnya, panggilan Nyonya yang Tasya pilih.


Anak jalanan gak semuanya nakal, tak semuanya selalu membuat masalah. Pasti akan ada salah satu di antara mereka yang baik meski penampilannya juga terlihat sangat buruk.


"Ana, terimakasih. Kalau saja tidak ada kamu dan teman-temanmu mungkin kami semua tidak akan pernah selamat." ucap Rayyan.


"Kami semua berhutang budi padamu, Nak." Keisha sang mama Faisal menambahi.


"Tidak, ini juga bentuk balas budi Anastasya. Beberapa hari yang lalu anak kalian juga membantuku, jadi kita impas." jawab Ana tanpa melihat siapa yang dia ajak bicara.


"Anak?" mereka semua mengernyit bingung.


"Iya, anak! Anak kalian yang mengisi pengajian di Desa Mawar beberapa hari yang lalu."


"Faisal?"


"Mungkin?"


"Tasya, Bimo sudah berangkat ke tempat kejadian, dia bilang mau mengatakan kalau mereka semua selamat kepada anak-anak mereka yang tadi datang."


"Bagus, kita tunggu saja mereka datang. Dan kamu, Gus! tidak usah cari mobil keluarga mereka pasti akan kesini dengan mobil." Ana beranjak dia menjauh dari semua dan berjalan keluar.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...


🌾🌾🌾🌾🌾


Maaf ya para para reader's ku tersayang. Mungkin ada salah satu dari kalian yang bingung dengan cerita ini.


Sebenarnya ini adalah cerita pengembangan dari cerita,


'Cinta Ustadz Tampan dan Gadis Mafia'


Jadi kalau mau tau urutan ceritanya bisa baca di...



Cinta Ustadz Tampan dan gadis Mafia


Akhsan dan Ikhsan


dan yang ketiga adalah


Izinkan Hati Yang Memilih.



Dengan itu kalian akan tau darimana musuh itu datang.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™