Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Alhamdulillah



🌾🌾🌾🌾🌾


Sesuai apa yang telah Faisal katakan akhirnya Ilham benar-benar melakukannya. Dia datang secara langsung ke panti hanya untuk menemui Dina dan ingin mengatakan apa yang dia inginkan.


Dengan penuh keberanian dan juga penuh dengan percaya diri Ilham datang sendiri, lagian di panti juga ada pengasuh jadi dia tidak akan sendiri ketika berbicara dengan Dina.


"Assalamu'alaikum," sapanya sebelum dia masuk. Dia sempatkan menyapa dan juga mengetuk pintu yang sebenarnya tengah terbuka meski tidak terlalu lebar.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di dalam.


Semuanya menoleh, mereka tersenyum senang menyambut kedatangan Ilham yang sama sekali belum terbaca akan niatnya datang ke tempat itu.


Memang tidak ramai yang ada di ruang depan itu hanya ada pak pengasuh juga beberapa anak yang sedang belajar. Sementara istrinya tidak ada bahkan Dina sendiri juga tidak terlihat.


"Masuk sini, Nak," pinta pengasuh panti tersebut.


Setelah kedatangan Ilham semua anak-anak terlihat langsung membereskan semua buku-buku mereka dan pamit ke belakang, mereka juga menyempatkan menyalami Ilham dulu sebelum masuk dan meninggalkan Ilham dan pengasuh itu hanya berdua saja.


"Sini duduk, Nak," pinta pengasuh laki-laki itu dan Ilham cepat melakukan apa yang dia mau.


Ilham duduk di hadapannya dengan terlihat begitu gugup. Bagaimana tidak, dia datang sendiri hanya untuk bertemu dengan Dina dan juga untuk melamarnya.


"Kamu mencari siapa nak, Dina ya?" Apa yang Ilham pikir langsung dapat di tebak langsung oleh pengasuh laki-laki itu. Dia tersenyum kala melihat Ilham yang terlihat terkejut dengan pertanyaannya.


Dia seketika menoleh matanya membulat saking terkejutnya.


"I_iya, Pak. Di_Dina_nya ada?" Ilham tak mau buang-buang waktu lagi sepertinya dia juga langsung mengatakan kalau dia memang datang untuk mencari Dina.


Semakin lebar senyum dari pengasuh laki-laki itu, kali ini dia paham apa tujuan Ilham datang meski tidak tau kedatangannya untuk melamar, dia pikir hanya untuk bertemu dan mendekatkan diri hingga suatu saat menjadi hubungan yang semakin serius lagi.


"Nah, itu nak Dina_nya," Pengasuh itu langsung menoleh ke arah pintu samping ketika melihat Dina yang baru masuk dengan membawa pakaian yang baru saja dia angkat dari jemuran.


"Nak Dina! Kesini lah setelah kau menaruh baju-baju itu," suaranya sedikit berteriak karena takut Dina tidak mendengar.


"Hem?" Dina terlihat gugup namun juga bingung setelah mendengar keinginan pengasuh itu apalagi setelah dia melihat ada Ilham juga di sana.


"I_iya, Pak," akhirnya Dina menyetujuinya setelah beberapa saat dia tercengang melihat Ilham yang juga melihat ke arahnya.


'Kenapa mas Ilham melihatku seperti itu, apakah ada tujuan tertentu dia datang? Apa mungkin dia datang untuk...? Ah, tidak-tidak! Jangan mimpi ketinggian Dina nanti kalau jatuh bisa sakit. Iya kalau hanya sakit kalau sampai patah tulang?' batin Dina.


Dina tersenyum sebelum dia pergi dari sana dan Ilham langsung menunduk karena merasa sudah terlalu lama dia melihatnya.


Jantung Ilham semakin tak karuan sekarang ini. Ada rasa tidak sabar untuk bisa secepatnya mengatakan apa yang menjadi tujuannya tapi juga merasa takut kalau sampai nanti tujuannya datang di tolak oleh Dina.


Ya! Meski Dina selalu merayunya tapi belum tentu kan kenyataannya? Bisa saja dia selalu seperti itu karena iseng saja dan hatinya ternyata mengatakan hal lain? Hem, semoga saja tidak seperti itu.


Tak lama Dina kembali keluar namun dia tidak sendiri karena ada ibu pengasuh yang menemaninya.


Dia pikir meminang wanita yang menjadi pujaannya tidak akan segugup ini dan akan biasa-biasa saja dan ternyata? Benar-benar di luar dugaan.


Baru mau meminang saja perasaannya sudah tak karuan bagaimana kalau menghadapi hari pernikahan? Pasti akan sangat luar biasa rasanya.


"Dah dari tadi, Nak?" tanya bu pengasuh yang terlihat hanya basa-basi saja.


"Ba_baru saja kok, Bu. Belum lama," Ilham melirik ke arah ibu pengasuh namun belum berani menoleh ke arah Dina.


Kedua wanita beda usia itu sudah duduk di hadapan Ilham memandangi dengan senyuman sementara Dina? Dina juga terlihat ikut gugup.


'Apa yang ingin mas Ilham katakan? Kenapa dia terlihat aneh sekali?' Dina hanya kembali membatin tentu tak berani mengatakan langsung.


'Ya Allah, kuatkan hamba untuk mengatakan niat hamba datang ke sini. Jangan biarkan hati ini terlalu bahagia jika di terima dan jangan biarkan terlalu sedih kalau di tolak,' batin Ilham.


Terlihat semua menjadi diam, menunggu apa yang ingin Ilham katakan pada semuanya. Perkataan yang mungkin menjadi maksud kedatangannya.


"Pak, Bu, Di_Dina..., ke_kedatangan saya kesini sebenarnya untuk silaturahmi," Ilham menghentikan kata-katanya dia menghela nafas lebih dulu sebelum melanjutkan lagi kata-katanya.


Jelas mereka semua juga tau kalau kedatangan Ilham ke sana untuk silaturahmi, bahkan setiap saat dia datang juga pasti mengatakan hal itu. Tapi, kali ini jelas terlihat sangat berbeda maka dari itu mereka semua terlihat menunggu dan tidak mau menyela.


"Dan... Dan kedatangan saya sebenarnya yang lebih serius adalah... Sa_saya ingin... Saya ingin melamar Dina untuk menjadi istri saya," akhirnya, berhasil juga Ilham mengatakan niatnya.


Mata Dina langsung membulat dan menatap Ilham, benarkah apa yang dia dengar barusan? Apakah telinganya tidak sedang bermasalah?


Mana mungkin Ilham akan melamarnya, dia sadar hanya perempuan yaitu piatu yang tak punya keluarga juga tak punya apa-apa, sementara Ilham? Dia terlihat seperti orang kaya dan juga ternama, bagaimana mungkin Dina yang di pilih?


"Bagaimana nak Dina, apakah kamu menerimanya?" tanya pak pengasuh.


"Sa_saya..." Dina kembali melihat ke arah Ilham yang kini kembali melihatnya. Mencari keyakinan bahwa dia tidak salah dengar tadi.


Ilham terus diam menunggu tapi jantungnya terus dag dig dug karena menunggu jawaban dari Dina.


Ilham sudah sangat tidak sabar Tapi dia juga tidak boleh memaksa Dina untuk buru-buru menjawab. Ini adalah hubungan untuk selamanya bukan satu atau dia hari jadi harus di pikirkan dengan sangat serius.


"Nak, apa jawaban mu. Kasihan nak Ilham tuh sudah menunggu," ibu pengasuh menyentuh pundak Dina dan berhasil menyadarkannya.


"Sa_saya... saya menerimanya," Dina menunduk malu-malu setelah menjawab. Keyakinan telah dia dapatkan dari tatapan mata Ilham yang penuh kejujuran.


"Alhamdulillah..." puji syukur terucap di ketiga bibir yang ada di sana tentu juga dengan bibir Ilham. Dia sangat bahagia karena akhirnya niatnya di sambut dengan baik.


Sementara Dina? Dia tak berani lagi untuk mengangkat wajah untuk melihat Ilham, dia sangat malu.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....