
🌾🌾🌾🌾🌾
Begitu takut Tasya ketika melihat Faisal yang harus menghadapi semua anak buah dari Tuan Alex, bagaimana kalau sampai Faisal tidak mampu untuk menang dari mereka?
Tasya terus berdoa sebisa mungkin. Apapun dia rapalkan untuk meminta keselamatan dan juga kemenangan Faisal yang secara jumlah sangat mustahil untuk bisa menang dari mereka semua.
Ternyata, Faisal yang hanya berlatih secara diam-diam itu ternyata mampu dan bisa mempelajari semuanya dengan sangat baik. Faisal bisa melawan mereka meski sesekali dia juga mendapat pukulan.
Sementara Tasya? dia sangat ingin keluar dan membantu Faisal tapi dia tidak berani melakukan karena terhalang izin dari Faisal. Dia ingin menjadi istri yang patuh dan akan selalu melakukan apa yang suaminya katakan. Kalau Faisal mengatakan tidak maka dia tidak akan bisa keluar dari mobil.
Tasya terus berteriak setiap kali Faisal terkena pukulan oleh orang-orang itu. Bahkan Tasya teriak begitu histeris dan dengan takut.
Dia diam di sana karena sebuah keamanannya tapi jika Faisal sampai kalah bukankah sama saja Tasya juga tidak akan pernah aman? pastilah Tasya juga akan tertangkap dan saat itu dia tidak akan bisa menang.
"Apakah aku harus benar-benar tetap berada di sini dan terus diam saja melihat mas Faisal yang terus di pukuli?" gumamnya.
Tasya tetap bingung antara mau tetap berada di dalam mobil atau mungkin keluar untuk membantu Faisal supaya bisa mengalahkan mereka semua.
Meski yang Tasya bisa tidak begitu banyak tapi Tasya sangat yakin akan bisa mengalahkan mereka jika bersama dengan Faisal.
Tapi, bagaimana dengan perintah Faisal yang tetap meminta Tasya untuk tetap berada di dalam mobil itu.
Bugh...
"Akk!" teriak Tasya ketika Faisal kembali terkena pukulan.
Tasya pikir Faisal sudah tidak akan kuat lagi untuk bisa melawan tapi ternyata dia masih bisa bertahan untuk tetap menghalangi mereka yang ingin mendekati Tasya.
"Ya Allah, dimana mas Hasan dan juga mas Ilham," Tasya terus menanti-nanti kedatangan mereka berdua yang sudah dia panggil melalui sambungan telfon.
Kring kring kring....
"Akk!" Tasya malah terkejut ketika ponsel bersuara karena ada yang telah menghubunginya.
Dengan pelan Tasya melihat siapa yang telah memanggil dan ternyata...
"Bang Ikhsan?" pekik Tasya dan ternyata abangnya Faisal yang telah memanggil.
Mungkin Ikhsan memanggil karena mereka berdua yang tak kunjung sampai ke rumahnya.
Tasya memberanikan diri untuk mengangkat panggilan dari Ikhsan mungkin dia juga harus mengatakan apa yang telah terjadi pada mereka sekarang.
"Assalamu'alaikum, Bang," dengan suara yang gemetar Tasya menerima panggilan itu dan menyapanya.
"[Wa'alaikumsalam, eh kamu Sya. Oh ya! kalian jadi datang tidak sih? kalau tidak kami akan pergi ini,]" suara Ikhsan begitu jelas.
"Ba_bang..., ka_kami..."
"Bang, kami di hadang orang jahat di jalan *** dan Mas Faisal sedang melawan mereka. Akk!" teriak Tasya yang tiba-tiba saja ada yang mengetuk kaca di sebelahnya.
"[Oke, kamu jangan takut aku akan segera datang!]"
Tiba-tiba saja panggilan telfonnya do matikan oleh Ikhsan mungkin dia benar-benar akan datang karena katanya jalan kami berada ini sudah dekat dengan rumah Ikhsan.
"Hey, keluar!" teriak salah satu orang itu.
Jelas Tasya tidak akan membukanya. Dia lebih patuh kepada perintah Faisal daripada keluar dan sama saja seperti menyerahkan diri.
Dia bisa saja melawan mereka karena dia juga mempunyai keahlian untuk melawan, tapi dia yang tidak mendapat izin dari Faisal bisa saja akan kalah.
Izin suami adalah hal yang terpenting oleh istri. Semua bisa terjadi jika tidak mendapat izin, begitu juga sebaliknya jika ada izin meski selemah apapun pasti akan bisa mengalahkan.
"Hey, buka!" teriaknya lagi yang kini terlihat begitu geram.
Orang yang tidak hanya satu orang itu berusaha keras untuk bisa membuka pintu, di sebelah Tasya, di tempat pengemudi bahkan pintu dua di belakang juga.
Apakah mereka akan benar-benar bisa membuka pintu lalu akan berhasil membawa Tasya pergi?
"Tidak tidak! aku tidak boleh keluar." kekeuh.
Ternyata Tasya begitu patuh dengan Faisal dan tetap bertahan meski orang-orang yang ada di luar terus memaksa untuk membuka pintu.
"Heyyy!!!"
Suara teriakan yang begitu keras Tasya dengar meski dia ada di dalam mobil yang tertutup. Tasya melihat Faisal, dia masih terus berusaha melumpuhkan orang-orang yang melawannya, lalu siapa?
Kini Tasya menoleh ke belakang dan ternyata ada enam orang yang datang. Tasya sangat mengenal mereka semua.
"Dadang, Agus, Kipli, pak... siapa ya kok aku lupa," gumamnya.
Hatinya merasa tenang karena kedatangan mereka, Tasya yakin kedatangan mereka untuk membantu Tasya juga Faisal.
"Hey, jangan ganggu mereka!" seruan Agus yang kini sudah dekat.
Tatapan mata mereka sama-sama begitu nyalang akan keberanian dan juga penuh dengan tantangan.
"Hem, berani juga kalian. Sok mau jadi pahlawan?" sinis anak buah tuan Alex.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....