
🌾🌾🌾🌾🌾
Agak sedih sih tidak boleh ikut Faisal, padahal niatnya ingin ikut biar sekaligus bisa menambah wawasan atau mungkin menambah silaturahmi, tapi Faisal tetap tidak mengizinkan.
Pekerjaan padahal juga tidak begitu banyak karena Tasya sudah hampir menyelesaikannya, jika di tinggal untuk ikut ke acara pengajian jiga tidak masalah, tapi kenyataannya?
"Padahal ingin banget ikutan," gumam Tasya dengan sangat malas. Ya! Dia jadi malas untuk melakukan apapun padahal hanya melipat baku saja tapi tetap saja malas.
Bukannya di lipat tapi baju itu hanya di letakan di pangkuan saja, sementara tatapannya mengarah ke tempat lain.
Tok tok tok...
"Tasya, ini Oma! Oma boleh masuk?"
Suara sang Oma terasa terdengar begitu menggelegar hingga membuat Tasya tersadar, padahal kuga tidak keras juga.
"Iya Oma!" Tasya seketika beranjak ingin menyambut sang Oma yang datang. Sang Oma atau siapapun tentu akan bisa langsung masuk karena pintu terbuka lebar.
"Assalamu'alaikum," sapa Oma. Langkahnya begitu perlahan, itupun sudah dengan bantuan tongkatnya.
"Wa'alaikumsalam, Oma. Sini masuk Oma," Dengan sigap Tasya langsung meraih lengan Oma, membantunya untuk jalan hingga sampai ke kursi. "Hati-hati, Oma."
"Terimakasih, Nak." Sangat pelan Oma duduk, jelas saja kan?
"Kenapa Oma capek-capek kesini, kalau ada sesuatu biar Tasya yang ketempat Oma."
"Tidak apa-apa, Nak. Oh iya, Faisal sudah berangkat?"
"Sudah, Oma. Ada apa?"
"Tidak, entah kenapa Oma ingin bertemu dengannya, mungkin Oma merindukannya," Oma hanya bisa tersenyum seraya mengatakan hal itu.
"Oh, nanti kalau mas Faisal pulang biar Tasya minta untuk menemui Oma. Tadi Mas Faisal jiga ingin menemui Oma lebih dulu sebelum pergi tapi katanya sudah mepet jadinya langsung pergi."
"Oh, tidak apa-apa. Oh iya, bagaimana dengan kamu dan kandungan mu, baik-baik saja kan? Oma nggak sabar pengen gendong cicit."
"Alhamdulillah, Oma. Kami berdua sehat." Tasya tersenyum, apalagi ketika Oma mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Alhamdulillah," Bukan hanya Faisal daja sebenarnya yang ingin di temui Oma, tapi juga Tasya karena ingin mengetahui keadaannya. Dan alhamdulillah semuanya baik-baik saja.
"Oma mau minum?" tanya Tasya.
"Boleh, teh tawar saja ya," pesan sang Oma.
Tasya mengangguk, dia juga secepatnya beranjak dari tempatnya. Tak lama dia sudah ada di dapur, membuatkan teh tawar yang di minta Oma.
Sangat hati-hati Tasya membuatnya, dia juga melakukannya dengan begitu senang. Setidaknya dengan kehadiran Oma mampu membuat kekesalannya hilang.
Pyarr!
"Akk!" Tasya terpekik, cangkir yang baru di isi dengan teh tiba-tiba saja terjun bebas ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Tentu saja Tasya sangat terkejut, iya kan?
"Tasya, ada apa!" Teriak Oma setelah mendengar teriakkan Tasya. Oma juga langsung beranjak untuk melihat apa yang terjadi.
"Tidak apa-apa, Oma!" Tasya berteriak, tapi ternyata Oma sudah masuk ke dapur.
"Tidak tau Oma, tiba-tiba saja..." Pikiran Tasya langsung tidak enak. Tidak seharusnya dia menghubungkan sesuatu pada sesuatu yang tidak mungkin, tapi Tasya sungguh sangat khawatir, dan pikirannya seolah melayang jauh ke tempat Faisal.
'Astaghfirullah, ada apa ini? Kenapa aku jadi tidak tenang seperti ini? Ya Allah, jaga di manapun suami hamba.' batin Tasya. Penuh harap.
"Kamu kenapa?" Oma mengejutkan Tasya yang tengah melamun, tangannya menyentuh bahu Tasya hingga membuatnya langsung tersadar.
"Hem, tidak apa-apa O..."
Kring... kring... kring...
Belum juga Tasya menyelesaikan jawabannya ponsel yang ada di sakunya berbunyi, dia harap itu adalah Faisal dan menghilangkan semua kekhawatirannya.
"Sebentar, Oma." Tasya izin untuk mengangkatnya, dan sang Oma hanya mengangguk.
Melihat layarnya saja sudah membuat Tasya sangat senang, Faisal yang telah menghubunginya. Cepat-cepat Tasya mengangkatnya, dia ingin sekali mendengar suaranya.
"Assalamu'alaikum, Mas. Mas baik-baik saja kan?" Tasya langsung nyerocos.
"[Wa'alaikumsalam, apakah ini benar dengan istri dari pemilik ponsel ini?]"
Tasya mengernyit, suaranya bukan suara Faisal. Lalu di mana Faisal, kenapa ponselnya bisa ada pada orang lain?
"Iya, ada apa ya? Dan di mana suami saya?" Semakin tidak tenang pikiran Tasya.
"[Saya hanya ingin memberitahukan pada Anda, bahwa suami anda mengalami kecelakaan. Dan sekarang ada di rumah sakit Medika.]"
"Ke_kecelakaan?" Seperti sumber mata air, mata Tasya langsung mengeluarkan air mata, begitu deras meski dia masih tidak percaya, tidak mungkin itu terjadi kan?
"Terus bagaimana keadaannya, Pak?"
"[Saya tidak tau, Bu. Saya hanya mengantarkan saja sampai rumah sakit, dan juga ada temannya.]"
Ilham, ya! Temannya adalah Ilham.
Tubuh Tasya langsung lemas, kakinya seolah tak mampu menompang tubuhnya sendiri, Tasya terhuyung dan terbentur tembok di belakangnya. Tatapannya kosong tapi terus mengalirkan air yang begitu deras.
"Nak, Faisal kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?" Oma jelat juga langsung khawatir.
Tasya tak menanggapi, dia masih terlalu syok dengan berita ini.
"Oma," Tiba-tiba Tasya langsung memeluk Oma, derai air mata jelas akan membasahi bahu sang Oma.
"Sabar, berpikir positif, Faisal pasti baik-baik saja," Oma berusaha memberikan ketenangan pada Tasya, di pasti sangat terpukul.
"Kamu bersiap, biar Oma bilang sama papa dan mama mu. Kita ke rumah sakit sama-sama. Oh iya, Oma juga akan kasih tau Dina, Faisal jadi pergi dengan Ilham kan?" Tanya Oma dan Tasya mengangguk tak berdaya.
"Sudah, kamu tenang, Faisal pasti baik-baik saja," Oma mulai bergegas.
"Mas Faisal pasti tidak apa-apa, dia baik-baik saja," Tasya langsung berlari masuk ke kamar, menyambar tas ranselnya dan langsung berlari keluar. Dia sangat tidak sabar ingin bisa secepatnya datang ke rumah sakit dan melihat keadaan suaminya. Semoga saja tidak terjadi hal buruk pada suaminya. Amin.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....