Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Merajuk



🌾🌾🌾🌾🌾


Seperti suami pada umumnya, Faisal begitu antusias dalam segala hal setelah mengetahui istrinya tengah hamil. Melakukan apapun yang sendiri dan juga tidak membiarkan Tasya melakukan apapun.


Faisal terus berusaha menjadi suami siaga, melayani, menemani, dan memberikan apapun yang Tasya inginkan. Bukan itu saja, tapi Faisal juga melakukan semua pekerjaan yang biasanya Tasya yang melakukan.


Tasya hanya duduk manis saja menjadi penonton, tentu tidak dengan senang karena ini bukan kebiasaan Tasya yang selalu aktif kesana-kemari melakukan semuanya.


Bukan hanya melakukan yang sudah bias saja, tapi Tasya malah suka mencari-cari pekerjaan apa lagi yang bisa dia lakukan, tapi sekarang dia harus diam, mana mungkin bisa?


"Tasya, kenapa kamu cembetut seperti itu?" tanya Faisal. Tangannya terus bergerak dengan beberapa sayuran di dapur, melihat Tasya yang hanya duduk saja menjadi penonton.


Tanpa bertanya pun sebenarnya Faisal sudah tau kenapa Tasya seperti sekarang, tapi dia tetap tidak membiarkan Tasya melakukan apapun karena dia takut bakal kelelahan. Faisal sangat mengingat apa yang dokter tadi katakan padanya.


"Tau ah!" Tasya langsung memalingkan wajah dari Faisal karena sangat kesal, dia ingin melakukan banyak tetapi Faisal sama sekali tidak pernah mengizinkannya bagaimana mungkin dia tidak kesal?


Bukan hanya memalingkan wajah saja dari Faisal tetapi Tasya juga ingin beranjak dari sana dan ingin pergi, lebih baik dia pergi daripada dia uring-uringan sendiri karena Faisal.


Melihat Tasya yang ingin beranjak Faisal langsung berlari dan menahan dengan menangkap tangannya, tentu dia akan mengalami Tasya untuk pergi.


"Kami mau kemana?" tanya Faisal.


"Bukan urusan, Mas." Tasya terlihat begitu sangat kesal sampai-sampai dia tidak menoleh ke arah Faisal meski tangannya sudah dipegang.


"Oke oke. Kamu boleh bantuin tapi kamu tidak boleh melakukan yang berat-berat. Sekarang duduklah kembali dan aku kasih kamu pekerjaan," ucap Faisal.


Faisal tau, jika sampai Tasya pergi dia pasti akan melakukan hal lain di tempat yang lain itu. Memang Tasya selalu menurut tapi Tasya kan juga model orang tidak mau di larang-larang, bisa saja dia nekat.


Faisal menarik perlahan Tasya dan membuatnya kembali duduk di tempat yang tadi. Faisal juga langsung berlari, mengambil beberapa sayuran dan menaruhnya di hadapan Tasya, tepatnya di meja.


"Kamu bantuin potongan-potong ini aja, yang lain biar mas yang kerjakan," ucap Faisal. Bukankah hal itu lebih baik daripada dari tadi Tasya kesal. Khawatir boleh, tapi juga tidak harus berlebihan juga seperti sekarang ini.


Siapapun pasti akan berlebihan. Para calon ayah pasti akan sangat takut di saat awal-awal kehamilan istrinya. Takut ini itu, semuanya bisa mereka pikirkan itu juga yang terjadi pada Faisal sekarang.


Padahal kalau di lihat-lihat Tasya sama sekali tidak mengalami keluhan apapun seperti wanita hamil pada umumnya. Dia tidak pusing, mual juga menginginkan ini itu, karena Faisal lah yang mendapat semua itu. Tapi Faisal begitu khawatir. Itulah ciri-ciri suami yang sangat bertanggung jawab, benar begitu kan?


Masih dengan suasana haru kurang baik Tasya mulai memotong sayuran yang Faisal berikan, bibirnya masih saja berkedut dan dia melakukannya tidak semangat, dia masih sangat kesal pada Faisal.


"Senyum dong, masak cemberut terus?" Faisal masih terganggu dengan wajah Tasya saat ini, dia sangat ingin melihat Tasya tersenyum karena itu lebih indah daripada seperti sekarang.


"Hem..." Tasya mengernyit, melihat Faisal yang tiba-tiba menutup hidungnya sendiri. Aneh.


"Kamu kenapa mas?" tanya Tasya. Bukannya menjawab tapi Faisal malah langsung berlari masuk ke kamar mandi dengan satu tangan di perut dan satunya di mulut.


"Nah kan mulai lagi," Tasya ikut beranjak. Meski dia sedang kesal tapi dia tidak tega juga melihat Faisal yang seperti itu.


"Sekarang bau apa lagi, Mas?" tanya Tasya sembari membantu Faisal dengan memijat tengkuknya.


"Bau bawang goreng," jawab Faisal. Ucapannya terdengar begitu lemas, serak-serak basah pokoknya.


Tasya mulai cekikikan, bagaimana mungkin tidak merasa lucu. Faisal melarang Tasya melakukan apapun tapi sekarang dia menyium aroma bawang goreng daja mual.


"Terus sekarang bagaimana? Tetap tidak boleh aku melakukannya?" tanya Tasya yang sudah berhasil menahan diri untuk tidak tertawa dengan berlebihan.


Faisal diam, dia terlihat sangat bingung. Dia tidak menginginkan Tasya melakukannya karena dia takut Tasya akan kelelahan, tapi mengingat dirinya sekarang, maka iya harus beli makanan tiap hari? Tidak mungkin kan.


"Tak masalah," Tasya girang. Akhirnya, dia bisa melakukan pekerjaannya lagi.


"Makanya, pahala jangan mau di ambil sendiri, Mas. Bagi juga dengan istri dong," kata Tasya. Bukankah dengan melakukan pekerjaan rumah untuk melayani suami adalah sumber pahala, kalau semua Faisal yang melakukan bagaimana Tasya akan mencari pahala? Pikirnya.


"Hem, menurut dengan suami pun juga berpahala, Tasya."


"Iya deh, iya." Tasya pasrah, tak mau terjadi perdebatan lagi antara mereka berdua, nanti tidak jadi matang masalahnya. Keburu kelaparan.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Bagaimana keadaan Tasya sekarang ya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Dadang pada Agus juga Kipli.


Mereka bertiga masih saja tidak seberuntung Tasya yang bisa masuk keluarga baik dan juga sangat menyayanginya, tapi mereka bertiga masih selalu berada di daerah pasar.


Tapi perjumpaan dengan Tasya yang hanya di bilang sangat singkat tapi membuat mereka menjaga lebih baik. Dulu mereka brandal bodoh tak punya belas kasihan, tapi sekarang?


Mereka memang masih selalu berkeliaran di pasar tapi tugas mereka menjadi penjaga pasar. Memang tidak mendapat gaji tetap mereka selalu saja mendapat rezeki yang bisa buat mereka makan, bukankah itu sudah cukup?


Dulu mereka berbuat jahat juga untuk makan, sekarang setelah mereka menjadi baik mereka tetap bisa makan kan? Bahkan mereka juga menjadi lebih di hargai oleh orang-orang.


"Nggak tau juga, yang jelas dia pasti baik lah. Dia tinggal dengan suaminya yang sangat saaayang padanya, tentu dia sangat baik juga sangat ba_ha_gia," jawab Kipli.


"Tapi aku kok kangen ya," Agus tercenung.


"Hus! Jangan coba-coba jadi pebinor loh! Aku kepret juga kalo berani," Dadang tak terima.


"Ih, apa kau ini. Aku kangen kejailannya saja bukan kangen dalam istilah lain, suudzon aja sih kau," ucap Agus menjelaskan.


Akhirnya mereka berdua mengangguk, mereka pikir...


"Kirain kamu kayak Bimo mau jadi tukang tikung," Kipli bersuara.


"Aku sadar belum laku juga, tapi aku masih punya otak, aku masih waras," jelas Agus berusaha membela diri kalau tidak pasti para teman-temannya itu akan bertindak sesuka hati mereka.


"Kirain udah ilang separuh."


"Apanya?" Agus menoleh kearah Kipli.


"Otaknya, hahaha!" Kipli tertawa menggelegar dan di sambung Dadang juga ikutan. Sungguh, mereka sangat menyebalkan karena telah menertawakan Agus..


Mereka gak menyadari, ada Bimo yang terus mengamati mereka bertiga dengan gao punya keberanian untuk mendekati.


"Apakah aku tidak akan bisa bersama mereka juga?" gumamnya.


Penyesalan hanyalah tinggal penyesalan, dia ingin memperbaiki semuanya tapi rasanya tak ada jalan untuk itu. Bimo pasrah, tapi dia sangat menyesal dan sangat berharap akan ada jalan untuk bisa bersama-sama mereka lagi.


Bukan itu saja, tapi Bimo juga sangat berharap bisa mendapatkan maaf yang tulus dari Tasya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...