
🌾🌾🌾🌾🌾
Begitu cepat hari-hari berganti, semua juga berjalan dengan sangat baik setelah tak ada lagi gangguan yang menimpa keluarga kecil Tasya juga Faisal.
Mereka berdua menjadi lebih semangat dan fokus dalam menguras segalanya. menyambut kedatangan sang buah hati yang tak akan lama lagi.
Seiring berjalannya waktu Faisal juga tidak lagi merasakan mual yang berlebihan. Tidak seperti dulu yang selalu setiap hari tapi sekarang hanya beberapa hari sekali saja, itupun juga hanya sebentar.
Tasya semakin bahagia, mendapatkan perhatian penuh dari Faisal juga dari semua keluarganya, mereka sangat memperhatikan Tasya bahkan tak akan di biarkan Tasya untuk mengerjakan apapun lagi.
"Mas, mas pasti sangat lelah. Istirahatlah dulu, Mas." ucap Tasya. Melihat Faisal yang tengah mencuci piring membuatnya sangat kasihan. Dia ingin melakukan tapi apalah daya kalau Faisal tidak mengizinkan. Tasya tidak akan mungkin mengajak berdebat lagi hanya karena masalah itu.
"Tidak apa-apa, Sya. Sebentar lagi juga selesai, lebih baik kamu tunggu di depan saja." jawab Faisal dengan terus mengerjakan pekerjaannya.
Tak akan malu bagi Faisal untuk mengerjakan semua kerjaan rumah. Pekerjaan rumah bukan hanya wanita yang harus mengerjakan, tapi juga laki-laki.
Semua mendapatkan peranan itu dan bebas melakukannya. Mereka juga bisa saling membantu supaya terwujud keluarga yang harmonis.
"Aku tunggu kamu saja, Mas." Tasya malah duduk di bangku sana. Menunggu Faisal yang hampir selesai.
"Oh iya, Mas. Katanya mbak Dina sekarang sudah hamil loh. Aku dengar dari Oma tadi."
"Oya! alhamdulillah kalau begitu. Jadi anak kita akan mendapatkan teman yang hampir sebaya umurnya." Faisal menoleh sejenak. Dia sangat senang mendengar kabar itu.
"Iya, alhamdulillah. Tapi kasihan, mbak Dina jadi nggak doyan makan. Semua yang masuk selalu kembali keluar. Berbeda dengan kita, aku bisa makan sepuasnya karena mas yang mengalami semuanya."
Faisal tersenyum, itu juga bukan keinginannya. Mereka juga hanya tinggal menjalani saja kan?
Memang sewajarnya kalau semua yang mengalami para wanita, hanya sedikit saja para suami yang akan mengalami hal itu.
"Berarti aku sangat beruntung ya, Mas." ucapnya lagi.
"Aku yang beruntung. Beruntung karena bisa merasakannya dan bisa mengurangi beban kamu." perlahan Faisal mendekat sembari tangannya mengelap pada lap yang dia bawa.
"Kita yang beruntung, Mas." Tasya tersenyum, memandangi suaminya yang sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang sangat berbinar.
"Iya, kita yang beruntung." Faisal ikut duduk di bangku yang ada di hadapan Tasya, menghadap ke arah istrinya dan langsung mengelus perutnya.
"Sayang, cepat keluar ya. Supaya abi juga bisa gendong kamu. Kasihan Umi kalau dia yang gendong terus, nanti umi kecapean," ucap Faisal.
Wajahnya terangkat, melihat wajah istrinya yang menunduk dengan tersenyum.
Bukan hanya di elus saja, tapi juga mendapat kecupan lembut. Sungguh, Tasya merasa sangat tenang saat-saat seperti ini.
Tasya begitu bahagia, dan akan selalu seperti itu.
"Mau di bikinin susu?" tanya Faisal.
"Tidak usah, biar Tasya sendiri yang bikin. Mas pasti sangat lelah dari tadi kerja terus." Tasya perlahan beranjak.
Memang sudah mulai kesusahan karena keadaan perutnya yang kian membesar. Tapi itu tidak masalah karena dia masih kuat melakukannya.
"Tidak apa-apa, lelah ku belum apa-apa dibanding dengan lelah kamu mengandung anak ku." Faisal ikut beranjak, membantu Tasya untuk membuat susu hamilnya.
Tasya langsung mengambil susunya sementara Faisal yang mengambil gelas juga sendok. Mereka melakukannya bersama-sama.
Tak ada yang merasa di beratkan dalam semua aktivitas mereka, semua saling ridho hingga membuat semua menjadi mudah.
Tidak ada yang saling memberatkan atau saling menyuruh, semua di lakukan dengan senang hati tanpa ada rasa terpaksa.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, sini biar mas yang ambil airnya." pinta Faisal, mengambil gelas yang sudah ada bubuk susu di dalamnya.
"Terima kasih, Mas." kembali Tasya mengucapkan terimakasih, hal itu yang membuat Faisal selalu menyunggingkan bibirnya.
"Jangan terlalu banyak terimakasih, Sya. Nanti aku bosan dengarnya."
"Apa sih, Mas. Masak gitu aja bosan."
"Ya, habisnya kamu berterima kasih terus padaku. Lalu aku harus berapa kali berterima kasih dalam sehari karena kamu telah menjaga anakku?"
"Dia anakku juga, Mas."
"Iya, anak kita berdua." keduanya tersenyum setelahnya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....