
🌾🌾🌾🌾🌾
Begitu tak berani Tasya untuk menyentuh wajah Faisal ketika lagi-lagi dia bangun lebih awal daripada Faisal. Wajah tampan yang ada di hadapannya terlihat begitu damai dalam tidur. Mungkin dia tengah bermimpi indah sampai-sampai Tasya melihat sudut bibir Faisal terangkat untuk menarik senyum.
Tasya ikut tersenyum melihat itu sangat lucu ketika melihat orang tidur tapi tersenyum, sebenarnya apa yang dimimpikan oleh Faisal hingga dia tersenyum begitu manis.
Mata Tasya kembali fokus pada luka lebam di wajah Faisal yang mulai pudar dan luka di ujung bibirnya juga mulai kering. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Faisal sampai-sampai dia mengalami hal yang seperti ini.
Tasya juga sangat penasaran apakah Faisal pergi mencarinya kemarin atau tetap diam di rumah hanya menunggu dia pulang. Tetapi, kalau Faisal tidak mencarinya lalu dari mana Faisal mendapatkan luka yang ada di wajahnya.
Jari-jemarinya terangkat memberanikan diri menyentuh luka lebam yang ada di pipi Faisal. Tasya melakukan itu pun dengan tangan yang gemetar dan berharap Faisal tidak akan bangun atau menyadari apa yang dia lakukan.
"Pasti ini sangat sakit kan?" ucap Tasya begitu lirih. Pastilah memang sangat sakit dengan luka yang seperti itu.
Meski dengan ragu akhirnya jari-jari Tasya berhasil menyentuh pipi Faisal mengelusnya pelan namun hanya sebentar lalu Tasya kembali menarik tangannya untuk menjauh.
"Bagaimana kalau luka ini terjadi karena aku, tetapi siapa yang telah melakukan ini, tidak mungkin kan yang melakukan ini adalah ayah karena ayah telah berada di kantor polisi. Lalu siapa?"
Tasya masih sangat bingung memikirkan pelaku yang sama sekali tidak dia ketahui.
"Atau jangan-jangan yang melakukan ini adalah musuh dari keluarga ini, bukankah mereka juga memiliki masalah dengan orang lain?"
Kembali Tasya berbicara dan berpikir bahwa pelakunya adalah orang yang sama yang telah menculik keluarga Faisal waktu itu.
Tasya menjadi penasaran dengan masalah yang terjadi dengan keluarga Faisal. Mereka semua adalah orang baik tidak mungkin kan mereka memiliki masalah yang cukup serius kepada orang lain sampai-sampai orang itu begitu tegas ingin melenyapkan semua bagian dari keluarga Faisal yang kini menjadi keluarganya juga.
Deg...
Jantung Tasya berdetak begitu cepat ketika tiba-tiba mata Faisal terbuka dan bibirnya tersenyum begitu manis ke arahnya.
"Kenapa, apakah kamu mulai jatuh cinta padaku?" begitu percaya diri Faisal mengatakan hal itu kepada Tasya yang mana dengan kata-kata sederhana itu mampu membuat mata Tasya terbelalak dan wajah ingin secepatnya menghindar.
"Kalau menghindar berarti itu benar," ucap Faisal lagi.
"Apa sih Mas, enggak ya. Siapa juga yang mulai jatuh cinta kepada kamu," tetap saja Tasya tidak mau mengakui kalau sebenarnya dia memang sudah mulai ada rasa kepada Faisal.
Dia sudah begitu nyaman dengan Faisal meski kadang dia selalu saja membesarkan egonya sendiri dan terus melakukan apapun yang dia kehendaki juga yang jelas tak mengakui perasaannya.
"Benarkah, tapi kenapa wajahmu merah, tidak mungkin kan karena kepanasan. ini masih sangat pagi udaranya masih sangat sejuk." Faisal terus berbicara, menyudutkan Tasya dan berharap Tasya akan mengakui apa yang dia rasakan kepadanya.
"Ti_tidak," tetap Tasya tidak mengakui apa yang dia rasakan, dia tetap menghindar memalingkan wajahnya dari Faisal.
"Baiklah, sekarang ambil wudhu dan kita salat lagi."
"Lagi? Kemarin kan sudah." Tasya begitu terkejut karena Faisal mengajaknya shalat malam ini lagi. Dia pikir hanya cukup sekali saja kemarin dan ternyata dia mengajaknya lagi malam ini.
"Apakah kamu cukup dalam seumur hidup makan hanya sekali saja? Begitu juga dengan ibadah kita tidak akan cukup melakukannya hanya sekali saja dosa kita terlalu banyak jadi setiap hari kita harus menjalankan perintah Allah untuk menggugurkan semua dosa." ucap Faisal menjelaskan.
Keduanya ke kamar mandi secara bergantian bersih-bersih juga mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat malam bersama.
Begitu membahagiakan saat shalat ada yang menjadi makmum dan ketika berdoa ada yang mengaminkan doanya itulah yang dirasakan oleh Faisal sekarang dia merasa lengkap dalam hidupnya.
Seperti kemarin setelah shalat Faisal juga mengajarkan Tasya mengaji dan juga menjelaskan hal-hal tentang Islam yang belum Tasya ketahui.
Meski Tasya bukanlah orang yang pintar tetapi bukan berarti dia tidak mudah memahami semua yang Faisal jelaskan dia cepat memahami dengan baik. Jika ada hal yang dia tidak tahu dia tidak malu untuk bertanya dan Faisal akan menjelaskan dengan cara yang benar baik juga dengan sangat lembut.
Kitab telah Faisal tutup setelah selesai mengajarkan kepada Tasya, sebentar lagi adalah waktu subuh dan Faisal memberikan waktu sejenak untuk istirahat tetapi Tasya tidak mau hingga akhirnya mereka berdua tetap duduk bersama Di Atas Sajadah dengan saling berhadapan.
"Mas, sebenarnya Mas mendapatkan luka itu dari mana, siapa yang melakukan itu?" rasa penasaran dari Tasya membuat dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Faisal tentang apa yang terjadi padanya dan membuat sejumlah luka di wajahnya.
"Bukan apa-apa, hanya belajar kuat," jawab Faisal menirukan jawaban dari Tasya waktu Tasya mengalami hal yang serupa seperti sekarang yang dia alami.
Kecewa, jelas itulah yang Tasya rasakan Kenapa Faisal tidak mau jujur apa yang telah menimpanya dan lebih memilih menyembunyikan dari Tasya.
Suasana menjadi canggung ketika keduanya diam, Tasya terus menggerakkan tangannya Dia terlihat salah tingkah ketika Faisal terus memandangnya, memandang wajahnya yang terlihat begitu cantik ketika mengenakan mukena.
"Kenapa Mas melihatku seperti itu, aku jelek ya," Tasya begitu tak percaya diri pada dirinya sendiri dia berpikir kalau dia sangat jelek hingga membuat dia terus menunduk.
"Ya, kamu sangat jelek sampai-sampai mataku tak ingin berpaling dari wajahmu." jawab Faisal dan membuat wajah Tasya menjadi merona karena malu.
Jelek? Bagaimana mungkin orang jelek terus dilihat bahkan tidak rela untuk mengalihkan pandangannya.
"Mas jangan bohong," ucap Tasya tak terima.
Faisal mendekat menyentuh dagu Tasya dan mengangkatnya perlahan hingga wajah mereka saling berhadapan dengan-mata yang saling melihat.
"Terus, bagaimana kalau aku mengatakan kamu cantik?" ucap Faisal.
Kembali jantung Tasya bekerja dengan sangat kuat. Tatapan mata yang begitu dekat dari Faisal membuat suhu tubuhnya merasa panas dingin.
Perasaan yang sangat aneh hadir di hati Tasya, perasaan yang sangat asing yang belum pernah ada sebelumnya.
Beberapa kecupan di sejumlah wajah membuat Tasya seketika menutup matanya. Merasakan perasaan yang hadir secara perlahan.
Kening, kedua mata, kedua pipi dan yang terakhir adalah bibirnya yang mendapat sapuan bibir milik Faisal. Hal itu membuat Tasya terpaku diam dan terus menutup matanya.
Dia merasa malu, tapi dia tak mampu untuk menolak dan berakhir membiarkan yang Faisal lakukan.
"Kamu sangat cantik, Sya." ucap Faisal setelah bibir itu menjauh dari wajahnya.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...