Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Hukuman apa yang pantas



🌾🌾🌾🌾🌾


Begitu susah Tasya menghilangkan permen karet yang ada di rambut Faisal, dia sudah terus berusaha tapi nyatanya malah semakin merembet kemana-mana.


Tasya jadi merasa bersalah apalagi Faisal sama sekali tidak marah padanya dan hanya meminta Tasya untuk membersihkan dan bertanggung jawab akan apa yang telah dia sebabkan.


Faisal duduk dengan tenang di sofa dengan menyandarkan kepalanya di sandarannya sedikit mendongak supaya Tasya yang berdiri di belakang bisa dengan mudah menggapai dan cepat membersihkannya.


Mata Faisal terpejam, merasakan enaknya ketika kepalanya seperti di pijat-pijat oleh Tasya, padahal sebenarnya tidak kan.


"Sya, dari mana kamu beli permen karetnya? Kok mas tidak tau?" tanya Faisal masih setia dengan mata yang tertutup begitu rapat.


"Hem, da_dari taman kemarin, Mas. Pas mas pergi ke toilet ada penjual cang ci men dan kebetulan dia jualan permen karet. Tasya sangat ingin karena sudah sangat lama tidak makan jadi beli deh. Apalagi ketika melihat tenggorokan Tasya rasanya begitu kering," ucap Tasya menjelaskan.


Begitu jujur Tasya sekarang, dia mengatakan semuanya kepada Faisal tak ada yang dia tutupi darinya. Tasya memang selalu ceplas-ceplos dan selalu jujur apa adanya apalagi kepada Faisal suaminya sendiri. Karena dia ingin keduanya saling jujur dan tidak menyembunyikan apapun dari salah satunya.


"Kenapa kamu tidak bilang?"


"Hem, nggak boleh ya Mas. Tasya nggak boleh makan permen karet lagi ya?" suaranya begitu lemas, jelas dia merasa sedih jika benar-benar tidak boleh makan permen karet yang sudah menjadi makanan favoritnya itu.


Belum genap setengah bulan tidak makan saja rasanya Tasya sudah tidak makan bertahun-tahun, sangat lama.


"Bukan tidak boleh, Tasya sayang. Boleh, hanya jangan berlebihan dan juga harus memperhatikan saat membuangnya. Ya, biar hal ini tidak terjadi lagi."


Lega rasa hati Tasya akhirnya dia masih tetap boleh makan meski gak boleh banyak-banyak seperti biasanya.


"Hem, mas marah ya?" Faisal yang terdiam membuat Tasya beranggapan seperti itu. Wajahnya sudah berubah kusut dengan mata yang kian memerah. Benarkah Tasya begitu sensitif seperti ini jika dengan Faisal? Apakah dia begitu takut?


"Mas tidak marah. Tapi kamu harus tetap mendapatkan hukuman nanti setelah ini." Faisal menjawab.


Hukuman?


Tasya terdiam kiranya hukuman apa yang akan Faisal berikan untuknya.


Begitu susah Tasya mengambil permen karet itu dan bukannya semakin berkurang tapi malah semakin mengenai rambut yang lain lagi.


Sesekali Faisal meringis ketika terasa begitu sakit saat Tasya mencoba menariknya.


'ini bagaimana cara membersihkannya?' batinnya begitu bingung.


Ada gunting yang ada dia atas meja yang Tasya gunakan kemarin untuk membuka makanan ringan. Ide berlian muncul.


'Ini akan sangat mudah kan?' wajahnya berganti bersinar dia seolah mendapat jalan baru yang akan membuat dia mencapai pada tujuannya.


Tasya melirik ke arah Faisal yang masih menutup matanya, tangannya juga langsung mengambil gunting. Tasya kembali tersenyum.


'Maaf ya mas. Soal rambut yang berkurang sedikit tidak apa-apa kan? Besok kan tumbuh lagi,' batin Tasya.


Tasya nampak semangat untuk mengurangi rambut Faisal, memang akan sangat mudah kan jika langsung di pangkas begitu saja.


'Maaf ya, Mas,' batinnya lagi.


Tangannya sudah siap, gunting juga sudah siap rambut yang terkena permen juga sudah siap.


Krikk...


"Hah!" Tasya melongo, Faisal terlambat memberitahunya.


"Kenapa kamu diam?" Faisal membuka matanya, menoleh ke arah Tasya dan akhirnya matanya seketika membulat sempurna karena melihat kedua tangan Tasya yang memegang benda yang berbeda.


"Hehehe," dan hanya meringis saja yang Tasya tampilkan.


"Kenapa di potong?" Faisal cengo dia juga sempat melongo tadi hingga akhirnya dia benar-benar tersadar kalau rambutnya sudah di potong oleh istrinya.


Pasti botak satu tempat ini?


"Sekarang katakan, hukuman apa yang kamu minta?" Faisal masih terus berbicara dengan sangat lembut meski di dalam hatinya rasanya sangat dongkol.


Semakin hari Faisal harus semakin memupuk kesabaran untuk menghadapi istrinya yang sangat jauh dari kata lemah lembut seperti wanita yang dulu pernah dia idam-idamkan.


Faisal juga laki-laki biasa yang sangat mengidamkan istri pemalu, lemah lembut dan begitu irit bicara tapi kenyataannya, Tuhan menghindari takdir yang sangat berbeda dari apa yang dia inginkan.


"Jangan hukum Tasya dong, Mas. Tasya kan sudah janji tidak akan mengulangi lagi, dan Tasya juga janji tidak akan teledor lagi," Tasya mulai berusaha untuk bernegosiasi.


"Tidak tidak! Semua kesalahan harus mendapatkan hukuman," tangkas Faisal.


Tasya sudah takut dengan kata hukuman, bagaimana kalau akan ada kdrt dalam rumah tangganya yang baru beberapa hari ini. Pastilah akan viral kan kalau sampai di unggah ke sosial media.


Seorang ustadz tampan melakukan kdrt kepada istrinya hanya karena masalah permen karet yang nyangkut di rambutnya. Haduh, parah jadinya.


Tasya sudah bergidik membayangkan hukuman yang akan dia dapat.


"Hu_hukuman?" Tasya tergagap.


"Iya, hukuman," Faisal begitu semangat.


Bukan hanya karena terkena permen karet saja tapi sekarang bertambah karena Tasya memotong rambutnya. Jelas rambutnya akan sangat aneh kan?


"Jangan dong, Mas. Jangan hukum Tasya. Tasya ini kan wanita yang sangat lemah, si hukum sedikit pasti akan langsung pingsan."


"Jangan ya, jangan. Tasya mohon," imbuhnya.


"Oke kamu tidak akan di hukum. Tapi bagaimana caranya supaya kamu bisa mendapatkan maaf dari mas. Bukanlah permintaan maaf itu sangat penting?"


"Sekarang tunjukan bagaimana caranya kamu minta maaf," ucap Faisal.


Tasya terdiam, akan seperti apa cara dia minta maaf pada Faisal. Dia sangat malu untuk melakukannya.


"Ayo lakukan. Buat mas benar-benar bisa memaafkan mu. Kamu bisa melakukan cara apapun untuk meminta maaf.


Faisal kembali menutup matanya dan menunggu perlakuan apa yang akan di lakukan oleh Tasya.


Sepertinya keinginan Faisal adalah keinginan yang lain. Dan yang lain itu yang menjadi keinginannya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....