
🌾🌾🌾🌾🌾
Semua orang sangat panik ketika melihat Tasya yang tak sadarkan diri, begitu juga dengan Faisal. Dia adalah orang pertama yang sangat panik dan juga khawatir.
Bagaimana tidak khawatir istrinya langsung pingsan begitu saja, dia tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi karena suntikannya langsung terlempar setelah Tasya memukul Alex.
Tasya tentu langsung di tangani oleh dokter di atas ranjang yang tadinya menjadi ranjang Faisal, dan Faisal sendiri sekarang malah hanya duduk di kursi saja menunggu istrinya yang masih mendapatkan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Faisal setelah dokter selesai memeriksa Tasya.
"Mas tidak perlu khawatir, istri anda hanya pingsan saja karena di suntik dengan obat bius."
"Obat bius, Dok!" Faisal begitu terkejut dan dokter hanya mengangguk. "Terus bagaimananya, Dok. maksudnya, istri saya sedang hamil apa itu akan berpengaruh buruk pada kehamilannya?" jelas Faisal sangat takut.
"Tidak, Mas. Istri Anda dan juga kandungannya akan baik-baik saja setelah dia sadar. Mas tidak usah khawatir." dokter begitu baik dalam memberikan pengertian.
"Alhamdulillah," Faisal bernafas lega, akhirnya dia tau kalau Tasya tidak kenapa-napa hanya karena pingsan saja.
Begitu geram Faisal dengan Alex, hampir saja dia berhasil membunuhnya, tapi untung ada Tasya kalau tidak? entah apa dia sekarang. Mungkin hanya akan tinggal almarhum saja. Tapi Allah masih memberikan dia kesempatan.
"Kalau begitu kami permisi dulu." dokter itu pergi, begitu juga dengan para suster.
Faisal hanya diam, menyentuh tangan Tasya laku beralih menggenggamnya. Sungguh, Faisal merasa beruntung bisa memiliki Tasya, dia sangat hebat karena telah berhasil menyelamatkannya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," dikecupnya berkali-kali tangan Tasya, Faisal tidak sabar ingin melihat Tasya sadar dan mengatakan kata itu di saat Tasya tersadar.
"Assalamu'alaikum..." Keisha baru saja datang, dengan membawa rantang di tangannya untuk di berikan pada Tasya. Tapi berapa terkejutnya setelah melihat, kenapa malah jadi Tasya yang ada di atas ranjang?
"Wa'alaikumsalam, Ma." jawab Faisal. Dia seketika menoleh setelah mendengar sapaan dari sang mama hingga sekarang dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana wajah mamanya yang begitu terkejut.
"Loh, kenapa malah jadi Tasya yang tidur?" Keisha sangat heran.
"Ma," Faisal ingin berdiri untuk menyalami tapi Keisha hentikan karena tak perlu juga, Faisal pasti masih sangat lemah.
"Ini kenapa dengan Tasya, Sal? Kenapa Tasya bisa tak sadar begini, dia tidak kenapa-napa kan?"
"Assalamu'alaikum..." kini Rayyan yang datang. Dia juga langsung melotot karena posisi Tasya dan Faisal yang tertukar.
"Wa'alaikumsalam," Faisal pun juga menjadi, melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pada mamanya tadi.
"Sal, ini Tasya kenapa?" rupanya beliin ada yang memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin penjaga yang ada di luar sekarang tengah pergi membawa Alex ke kantor polisi.
"Ini semua karena Tuan Alex, Pa. Tadi dia datang ingin mencelakai Faisal, untung ada Tasya. Tapi ya jadi begini sekarang Tasya_nya."
"Astaghfirullah, kok bisa. Terus bagaimana keadaan Tasya?" Keisha.
"Terus orang itu?"
"Alhamdulillah, Pa. Dia tertangkap. Baru saja di bawa pergi ke kantor polisi."
"Alhamdulillah," Rayyan juga Keisha berucap secara bersamaan. Bersyukur karena gak ada yang celaka karena ulah dari orang yang begitu menginginkan Tasya itu.
"Mama bawa apa?" melihat rantang yang sudah ada di atas nakas membuat Faisal sangat penasaran. Apalagi hidungnya menghirup aroma yang sangat enak.
"Itu untuk Tasya," Keisha tersenyum.
"Aku nggak boleh?"
"Boleh dong, mau makan sekarang atau nunggu Tasya bangun?"
"Nunggu Tasya aja, Ma. Dari tadi dia juga belum makan. Eh sekarang malah seperti ini."
"Tidak apa-apa, Yang penting semuanya baik-baik saja. Semoga Tasya secepatnya siuman dan bisa makan bareng dengan kamu."
"Iya, Ma." kembali Faisal mengecup punggung tangan Tasya yang masih dia genggam rasanya sudah sangat tak sabar ingin melihat istrinya itu bangun.
"Hemm." Tasya mulai menggeliat. Tak seperti orang habis pingsan, tapi malah seperti orang yang bangun tidur yang langsung menguap.
"Eh, kenapa aku tidur di sini?" Tasya sendiri nampak bingung dengan dirinya.
"Alhamdulilah, akhirnya kamu bangun juga." Faisal begitu senang, akhirnya.
"Mas, aku kenapa?"
"Tidak apa-apa, kamu hanya tidur saja. Kecapean."
Tasya mengernyit, tidak mungkin dia hanya kecapean dan malah tidur di tempat yang seharusnya menjadi tempat Faisal. Apalagi Tasya tidak mengingat apapun.
"Ma, Pa. Sudah dari tadi? hehehe, maaf."
Tasya menyalami keduanya dengan senyum canggung, malu, jelas dia rasakan.
"Tidak, baru saja datang."
Tasya mengangguk kecut. Sungguh, dia sangat malu karena malah dia yang ada di atas ranjang Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....