Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Sunrise Yang Indah



🌾🌾🌾🌾🌾


"Mas Ilham!" Dina berlari menghampiri, dia ingin membantu Ilham yang sudah terjatuh akibat pukulan dari dua salah satu orang yang tadi.


Sebenarnya polisi yang dimaksud oleh Dina hanyalah polisi yang ada di angan-angan Dina saja karena nyatanya satu pun tak ada polisi yang lewat di tempat itu bahkan kendaraan pun juga tidak ada.


Tetapi kebohongan Dina berhasil membuat kedua orang tadi menghentikan penyerangan kepada Ilham dan kami terbirit-birit karena ketakutan. Jelas mereka akan sangat takut jika ada polisi dan mereka akan tertangkap.


Ilham yang masih kesakitan seolah tidak kuat untuk menampik tangan Dina yang telah membantunya untuk berdiri. Dan dengan menurut Ilham berdiri.


"Astaghfirullah, ini parah sekali. Bagaimana kalau Dina antar Mas Ilham ke rumah sakit, ini harus segera diobati."


Dan barulah Ilham tersadar dan melepaskan diri dari Dina yang masih memegang lengannya.


"Te_terima kasih," Ilham berhasil melepaskan diri dari Dina dan dia juga mundur beberapa langkah untuk menjawab dari Dina supaya tidak terlalu dekat.


Tetapi Dina seolah tidak peduli dia mendekat dan kembali memegang lengan Ilham lalu ditariknya dan juga diajak duduk di salah satu bangku yang tidak jauh di sana.


"Din..." Ilham ingin kembali melepaskan diri tetapi dia tidak bisa karena Dina begitu kuat memegangnya juga menariknya. Meski sebenarnya tenaga Dina sangat kecil tetapi dengan keadaan Ilham yang seperti sekarang ini pasti dia yang akan menang.


Apalagi Dina juga tidak peduli dengan panggilan Ilham saat ini dia terus melangkah dan mengabaikan panggilan Ilham kepadanya.


Keduanya duduk di satu bangku panjang namun Dina kembali lagi berdiri.


"Mas di sini dulu sebentar. Jangan pergi ke mana biar Dina cari es untuk mengompres luka Mas Ilham."


Seketika Dina berlari, entah ke mana dia akan mencari air es yang dimaksud sementara Ilham dia benar-benar menunggu di sana dengan sesekali meringis ketika tangan menyentuh bagian yang luka.


Tidak lama Dina kembali dengan membawa es juga obat merah juga kapas.


Dina duduk di sebelah Ilham dan segera mengobati luka-luka Ilham. Membersihkan luka dan juga mengompres yang lebam dengan air es.


"Biar saya sendiri," Ilham ingin mengambil alih es yang ada di tangan Dina namun tidak diizinkan dan Dina malah menjauhkan dirinya.


"Sudah, lebih baik Mas diam saja dan biarkan Dina yang melakukan semua ini. Ini pasti sangat sakit dan jika masalah menempelkannya pasti akan lebih perih."


Meski Dina hati-hati pun Ilham juga tetap merasa kesakitan dia meringis dengan rasa canggung juga dengan rasa takut akan semua hal.


Takut dosa, takut fitnah dan juga takut akan menambah masalah lagi di kemudian hari.


"Sebenarnya mereka siapa sih, Mas? Apa mas membuat masalah ya dengan mereka?" Tanya Dina dengan cara yang khas seperti biasa.


"Ti_tidak. Saya tidak pernah membuat masalah. Mereka saja yang mencari-cari masalah," jawab Ilham.


Meski Dina terkadang sangat menyebalkan dan kadang juga membuat darah seolah ingin mendidih namun nyatanya di dalam hatinya Dia sangat baik.


Tetapi entar, Apakah dia akan baik kepada semua orang atau hanya kepada Ilham saja karena dia pernah menolongnya dan membuat Dina mendapatkan tempat tinggal yang layak tanpa memikirkan biaya di setiap bulannya.


"Masak sih!" Dina tidak percaya begitu saja kepada Ilham. Terdapat beberapa kerutan di keningnya meski tangannya terus bergerak untuk memberikan kompres kepada wajah Ilham yang terluka.


Ini sangat tidak pantas tidak baik untuk Ilham ataupun untuk Dina dengan jarak yang begitu dekat seperti ini.


"Su_sudah, terima kasih sudah membantuku," Ilham cepat menjauhkan wajahnya dari tangan Dina tentu dia tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi kepada Dina maupun dirinya.


Seandainya Dina adalah pasangannya maka Ilham akan membiarkan semua yang dia lakukan meski berada di jalannya umum seperti ini tetapi tidak! Mereka bukan pasangan dan ini tidak boleh meski di tempat umum ataupun di tempat-tempat tertentu.


"Sa_sama-sama," kini Dina baru tersadar kalau dia telah melakukan kesalahan. Meski sebenarnya itu karena dia begitu khawatir dan juga berniat baik tetapi tak seharusnya melakukan itu bukan?


Dina yang merasa begitu sangat lancang dia menunduk tak berani melihat ke arah Ilham lagi dengan tangan yang memegangi kapas dan juga bergetar.


"Ma_maaf," Dina begitu menyesal hingga dia langsung meminta maaf kepada dia Ilham.


Di mana Dina yang begitu genit seperti waktu itu yang tanpa berpikir panjang menggoda Ilham dan mengatakan apapun yang dia kehendaki, bahkan dia meminta Ilham untuk menikahinya dan sekarang Dina tertunduk malu dengan rasa menyesal.


"Tidak apa-apa, kamu tidak salah. Seharusnya akku yang meminta maaf kepadamu karena membuatmu repot. Maaf dan terima kasih."


Kini Dina tersenyum dan mulai mengangkat wajahnya untuk melihat di Ilham yang kebetulan masih melihat ke arahnya.


"Jangan lihat Dina seperti itu dong! Dina kan jadi malu." Dan sepertinya akan kumat lagi seperti Bima yang sudah-sudah. Wajahnya kembali menunduk namun matanya terus melirik ke arah Ilham bibirnya juga tersenyum meski begitu kecil dan terkesan malu-malu.


"Lihatnya seperti itu kalau kita sudah halal saja ya Mas Ilham," katanya lagi dengan semakin malu.


🌾🌾🌾🌾🌾


Hari terakhir di villa benar-benar dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Faisal juga Tasya sehingga malam terakhir ini mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu bersama dan saling bercumbu rayu dengan tak ada lagi rasa sungkan atau malu-malu.


Meski sejatinya mereka tetap bisa melakukan apapun di pesantren nanti tetapi tidak akan senyaman ketika melakukan di villa dalam keadaan aman damai dan juga sepi sunyi karena hanya mereka berdua di sana.


"Terima kasih ya, Sayang," ucap Faisal.


"Jangan cemberut seperti itu dong kamu terlihat jelek kalau sedang seperti itu. Kalau kamu tidak tersenyum nanti aku malah meminta nambah lagi loh," ancam Faisal.


Tasya terlihat semakin kesal dengan kata-kata gurauan yang Faisal ucapkan saat ini. Bagaimana tidak! Mereka berdua sudah melakukan dua kali penyatuan namun Faisal masih saja menggodanya.


"Minta saja lagi, biar besok kita tidak bisa pulang sekalian karena aku sakit karena kelelahan," jawab Tasya.


"Jangan marah dong sayang ini kan permintaanmu sendiri Mas hanya melakukan apa yang kamu katakan tadi."


Sebenarnya itu adalah hukuman yang diberikan oleh Faisal kepada Tasya karena telah membuang permen karet sembarangan hingga mengenai rambutnya dan sekarang rambut Faisal harus dipotong begitu pendek.


Sebenarnya ada hukuman lain daripada hukuman itu yaitu Tasya diminta menyediakan makan malam untuk mereka berdua tetapi Faisal tidak akan mengganti dan akhirnya Tasya lebih memilih hukuman itu, karena hukuman itu dia tidak akan pusing-pusing mencari resep atau takut tidak enak.


"Iya, sih. Tapi...?"


"Yang ikhlas biar pahalanya besar dan jika ada salah satu yang mulai tumbuh di sini akan menjadi kebanggaan untuk kita berdua," ucap Faisal dengan tangan mengelus perut Tasya yang rata.


"Mas, geli!" Protes Tasya karena ulah Faisal barusan.


Bisa-bisa bukan hanya geli saja yang dia rasakan tapi bisa jadi perasaan lain hadir dan memaksa mereka untuk melakukannya lagi. Kalau Faisal mungkin bersedia dan senang tetapi kalau Tasya? Dia sudah sangat lelah malam ini bahkan dia juga merasa sangat lapar meski tadi dia sudah makan.


"Tidur lah," Faisal beralih memeluk Tasya dengan sangat erat meskipun keduanya masih tanpa sehelai benang pun tetapi ada selimut tebal yang menutupi mereka berdua dan membuat mereka terasa hangat dan nyaman.


🌾🌾🌾🌾🌾


Pagi-pagi sekali seperti biasa Tasya juga Faisal sudah bangun mereka juga sudah selesai menjalankan salat subuh berjamaah dan mengaji sebentar.


"Mas mau ajak kamu ke suatu tempat, ayo bersiap," Faisal berdiri lebih dulu dan langsung menarik sajadah dan dia lipat lalu diletakkan di atas meja kemudian menarik Tasya dan membantunya berdiri.


"Kemana, Mas?" Sembari melipat mukena Tasya bertanya Dia sangat penasaran akan diajak kemana dia pagi-pagi seperti saat ini.


Tetapi Faisal tidak mengatakan apapun dia diam namun terus menuntun Tasya dan mereka berdua keluar dari kamar.


Di halaman belakang Faisal telah menyiapkan kejutan untuk Tasya yang berupa sarapan romantis.


Semua disiapkan oleh Faisal sendiri dari dekorasi yang sederhana namun sangat elegan juga semua makanan yang ada di sana.


Tasya tidak melihat karena dengan sengaja matanya ditutup oleh Faisal.


"Mas, kita akan kemana?" Tasya begitu berhati-hati ketika melangkah demi semua takut akan terjatuh meski ada Faisal yang menjaganya.


"Tenang, Sebentar lagi kita akan sampai. Kamu pasti akan sangat senang dengan kejutan ini."


Faisal begitu yakin kalau Tasya akan menyukai kejutannya meski hanya sederhana tapi setidaknya akan selalu di ingat untuk mereka berdua.


Faisal membuka perlahan namun belum mengizinkan Tasya untuk membuka mata setelah Faisal berdiri tepat di depannya baru Faisal meminta Tasya untuk membuka mata.


"Buka matamu," perintahnya.


Tasya sangat penasaran hingga dia membuka mata dengan begitu cepat dan terlihatlah meja bulat dengan dua kursi di tata begitu rapi juga hidangan sederhana yang sudah ada di atasnya.


Terdapat beberapa lilin yang menyala dan menerangi pagi itu yang masih gelap.


"Mas, ini mas yang menyiapkan semuanya?" Rasanya sangat tidak percaya kalau Faisal yang melakukan itu bukankah dia semalaman tidur bersamanya. Tetapi, sepertinya Tasya salah karena Faisal tidak tidur semalaman hanya untuk menyiapkan semua itu.


"Hem bagaimana, apa kamu suka?" tanya Faisal dan Tasya mengangguk.


"Ini untuk mu," hanya bunga sederhana yang Faisal berikan bunga yang dia cari sendiri di sekeliling Villa dan Dia ikat sendiri dengan pita seadanya.


"Mas, masak Tasya hanya memakai daster seperti ini?" Tasya melihat bagaimana pakaiannya sendiri sekarang merasa aneh karena sarapan yang pagi itu romantis tetapi hanya mengenakan daster saja.


"Tidak apa-apa Mas juga hanya memakai sarung dan kaos saja," jawab Faisal.


Dengan pakaian sederhana tetap saja tidak akan menghilangkan keromantisan acara sarapan mereka saat ini. Keduanya duduk dan mulai menikmati sarapan sederhana ala Faisal, hingga akhirnya acara itu berhenti sejenak ketika Faisal ingin menunjukkan sesuatu kepada Tasya.


"Tunggu sebentar, mas ingin menunjukkan sesuatu," ucapnya.


Tasya langsung berhenti sesuai arahan dari Faisal dia sangat bingung kenapa Faisal mematikan semua lilinnya namun Tasya tidak bertanya dan menunggu apa yang akan di lakukan Faisal selanjutnya.


"Lihatlah itu..."


Tasya mengikuti arah tangan dari Faisal dan ternyata pemandangan indah disuguhkan di pagi itu, Sunrise yang begitu indah.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....