
🌾🌾🌾🌾🌾
Tak ada kesusahan untuk Tasya bisa melawan para brandal yang begitu tak punya rasa kemanusiaan. Para brandal yang hanya memikirkan egonya sendiri dan juga kesenangan tak memikirkan akan rasa takut juga rasa sedih dari orang yang mereka tindas.
Tasya yang memang sudah memiliki keahlian tak ada rasa takut atau gentar dalam hal apapun. Baginya, kebaikan yang harus di tegakkan tak memandang dengan siapa yang meminta bantuan.
Kecil-kecil cabai rawit.
Itulah yang pantas di gambarkan dari Tasya sekarang. Tubuhnya kecil, tapi keberaniannya sangat besar.
Meski beberapa kali dia juga kena pukul tapi dia seolah memiliki tubuh baja yang tak merasakan sakit. Tenaganya sungguh luar biasa bahkan pukulan dari orang-orang pria dewasa dengan tubuh kekar juga yang jelas memiliki tenaga yang tak kalah kuat.
Memang ada luka di beberapa bagian tubuh dari Tasya tapi dari keempat orang itu yang mendapatkan pukulan dari Tasya lebih parah dan tak mampu melawan lagi.
"Seharusnya kekuatan kalian itu di gunakan untuk kebaikan biar lebih bermanfaat bukan kayak begini. Apa dengan cara seperti ini kalian akan terus senang? tidak! kalian hanya berempat, sementara orang satu pasar ini berapa saja tentu kalian bisa menghitung sendiri. Kalau mereka semua bersatu untuk melawan kalian apa kalian bisa menjamin kalian masih bisa bernafas?"
"Kalian berbangga karena merasa kuat dan merasa bisa menjatuhkan siapapun karena mereka belum berani bertindak, tapi kalau mereka semua sudah bersatu bahkan aku yakin polisi saja akan sangat susah untuk menghentikan. Jangan remehkan orang yang tidak berdaya, karena di balik dari orang yang tidak berdaya itu terdapat kekuatan yang sangat besar."
Begitu berani Tasya menasehati keempat orang itu, bukan hanya mereka yang duduk dengan menahan sakit di bawah tapi Bimo dan teman-teman juga sama, mereka juga ikutan babak belur karena perkelahian mereka. Sementara Tasya, kini giliran dia yang duduk di kursi dengan begitu percaya diri meski dia juga terdapat beberapa bagian di wajahnya yang mengalami lebam karena pukulan.
"Kita semua ini sama, di sini hanya untuk mencari pundi-pundi uang untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka yang lemah saja bisa melakukan pekerjaan yang halal dan lebih baik kenapa kalian yang lebih kuat tidak bisa? Ayolah, amankan tempat ini bersama-sama, bukan malah menghancurkan dan membuat mereka ketakutan karena kalian."
Begitu fokus mereka mendengarkan, seperti seorang murid yang sedang mendengar nasehat dari gurunya. Meski masih ada amarah tapi mereka gak bisa melawan lagi karena mereka memang tak akan mampu untuk melawan. Melawan gadis kecil yang tadi sempat mereka ragukan dan mereka hina karena keadaannya.
"Apakah di atas kalian masih ada?" tanya Tasya.
"Ada, Tuan Alex lah yang paling terkuat di dan yang selalu menyuruh kami," jawabnya.
Padahal Tasya pikir sudah tidak ada lagi dan mereka lah yang paling kuat tapi ternyata tidak.
'Alex, kenapa namanya seperti tidak asing? sepertinya pernah mendengarnya atau hanya perasaanku saja?' batin Tasya.
"Sekarang katakan sejujur-jujurnya, kalian mau ikut saya atau mau kembali dengan orang itu. Kalau kalian mau ikut saya akan aku lepaskan dan kita amankan pasar ini bersama-sama, tapi kalau kalian mau kembali dengan orang itu saya akan panggil polisi sekarang juga untuk memenjarakan kalian," tawar Tasya.
Tampak mereka semua berpikir, mereka juga saling menatap satu sama lain. Sepertinya mereka tengah berunding dengan kode mata mereka.
"Baik, kami akan ikut kamu. Tapi, apakah kamu akan menjamin keselamatan kami?" Tanyanya.
"Aku tidak bisa menjamin. Tapi, biarkan Allah yang menjamin keselamatan kalian, Allah akan selalu bersama orang-orang yang berbuat baik."
Mereka semua mengangguk meski tak begitu mengerti. Sepertinya mereka benar-benar akan mengikuti Tasya dan menjadi anak buahnya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Begitu terkejut bu Yulia setelah melihat Tasya yang pulang dari pasar dengan keadaan yang begitu tidak baik. Wajahnya banyak luka lebam dan sudut bibirnya juga sedikit sobek.
"Astaghfirullah, Sya!" begitu terkejut hingga dia langsung lari menghampiri Tasya yang berjalan dengan sempoyongan.
"Apa yang terjadi padamu, Nak. Astaghfirullah hal 'azim."
Bu Yulia seketika menuntun Tasya untuk duduk di ruang depan, dengan buru-buru Bu Yulia juga masuk untuk mengambil kotak obat juga menyiapkan air untuk mengompres Tasya.
Sementara Tasya sudah duduk bersandar di kursi dengan keadaan yang sangat lemah karena dia pulang juga dengan jalan kaki.
"Ya Allah, Sya. Siapa yang melakukan ini padamu," Bu Yulia kembali dan langsung duduk di depan Tasya untuk mengobati semua luka.
Begitu telaten Bu Yulia merawat Tasya seperti seorang ibu yang merawat anaknya yang tengah terluka. Tak ada perbedaan dengan anaknya sendiri ataupun anak-anak yang dia asuh, semua di perlakukan sama.
Belum pernah bu Yulia melihat Tasya sampai seperti ini, bahkan ini adalah yang pertama kalinya.
Bu Yulia tidak tau kalau pekerjaan Tasya memang untuk melindungi orang-orang yang lemah, yah meski hanya di pasar tapi berapa banyak orang yang membutuhkannya. Bahkan bukan hanya di pasar, di manapun ada yang mengalami masalah kekerasan dia siap menjadi garda terdepan. Itulah Tasya.
"Aww!" pekik Tasya yang merasa perih saat bu Yulia mengompres lukanya. Tangannya langsung ingin memegang dan mulutnya menganga lebar.
"Maaf, ibu akan lebih pelan lagi," benar saja, bu Yulia melakukannya lebih pelan dari sebelumnya.
"Sya, kamu hutang penjelasan pada ibu. Kamu harus mengatakan semuanya kenapa kamu bisa seperti ini," benar-benar seperti seorang ibu yang begitu kepo dengan urusan anaknya.
Yah! bagi bu Yulia semua anak-anak yang ada di sana semua seperti anaknya sendiri dan akan selalu seperti itu begitu juga dengan Tasya.
"Kamu adalah anak yang paling besar di sini, jadi kamu harus memberikan contoh yang baik untuk adik-adikmu. Semua ini bukan karena kamu melakukan kesalahan kan?" selidik bu Yulia.
"Tidak, Bu. Tasya hanya ingin melindungi orang yang lemah saja. Tasya tidak mau orang-orang yang kuat busa dengan bebas menindas orang lemah, semua harus di hentikan kan?" jelas Tasya.
"Tapi kenapa harus pakai kekerasan, apa nggak bisa di omongin baik-baik?"
"Tidak bisa, Bu. Mereka tidak menerima itu. Saya sudah berusaha untuk membicarakan dengan baik tapi mereka tetap tak terima dan seperti ini lagi jadinya."
"Terus, mereka mau berhenti?"
"Alhamdulillah, mereka menurut pada Tasya setelah semua terjadi. Suka bingung sih, Bu. Padahal dengan cara baik-baik saja bisa tapi mereka baru mau berhenti kalau mereka sudah babak belur dan tak bisa ngapa-ngapain," ucap Tasya.
"Itulah orang-orang sekarang, Nak. Banyak yang tidak mau di tegur dengan cara yang baik dan setelah dengan kekerasan baru mereka sadar."
Terus bu Yulia merawat Tasya sampai semuanya terobati.
"Terima kasih, Bu." hanya itu yang bisa Tasya ucapkan pada bu Yulia, dia tak bisa membalas dengan cara lain selain selain hanya dengan kata terimakasih saja.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...