
🌾🌾🌾🌾🌾
Tasya berjalan dengan mengendap-endap karena tak ingin di ketahui oleh semua penghuni pesantren. Kembali penampilannya hampir sama dengan yang kemarin, jaket Faisal, celana panjang juga memakai topi tapi ada satu yang membedakan yaitu Tasya yang tak lagi memperlihatkan rambutnya yang kini tertutup dengan jilbab.
Entah ingin kemana dia pergi tapi dia hanya ingin kepergiannya tidak di ketahui oleh orang lain termasuk Faisal suaminya sendiri yang kini tengah mengajar para santri.
"Aman aman, aku bisa keluar sekarang," wajahnya begitu sumringah begitu jelas karena niatnya tidak di ketahui oleh orang lain.
Semua akan lancar karena tak ada yang memergoki dirinya, benar-benar gesit dan pintar si Tasya kalau urusan kabur-kaburan. Sudah kayak dia memiliki kekuatan saja.
Deg....
Jantungnya seakan ingin copot karena dia merasa ada yang telah menyentuh bahunya apakah dia ketahuan saat ini? Bisa-bisa usahanya akan sia-sia kalau sampai dia benar-benar ketahuan oleh orang lain.
'Mati aku, sepertinya aku akan habis saat ini. Aku ketahuan. Sekarang aku tak akan bisa keluar dari sini untuk selamanya,' batin Tasya yang masih ragu untuk menoleh.
Namun, di tunggu-tunggu beberapa saat tak ada suara yang memanggilnya, benarkah dia telah ketahuan sekarang? atau mungkin hanya sesuatu saja yang kebetulan tersenggol oleh dirinya?
Tasya memberanikan diri untuk menoleh supaya dia bisa tau apa yang telah membuatnya hampir copot jantung.
Pelan-pelan Tasya menoleh wajahnya sudah sangat tegang karena merasa kalau dia akan ketahuan saat ini. Tapi, seketika hatinya bersorak senang saat dia tau kalau tak ada apapun yang ada di belakangnya. Lalu tadi apa?
''Sial, ternyata hanya sebuah ranting pohon saja yang jatuh dan menimpaku,'' rasanya sangat begitu dongkol dia ingin marah tapi masak iya dia akan marah dengan ranting yang tak bisa berbicara, gila dong?
Tasya melanjutkan langkahnya dengan mata yang terus menoleh. Terus saja Tasya menengok ke semua arah karena takut akan benar-benar ketahuan.
Tasya langsung bersembunyi setiap ada orang yang kebetulan lewat, bahkan saat ada Faisal yang juga lewat bersama dengan Ilham juga Hasan dengan saling beriringan.
''Hampir saja aku akan ketahuan. Bisa-bisa aku tak akan bisa ke pasar. Entah sudah berapa hari aku tidak ke pasar. Apakah aman ya sekarang atau malah sebaliknya? semoga saja tidak, dan akan selalu aman,'' gumam Tasya yang masih bersembunyi di balik semak-semak.
Setelah memastikan semua orang tak ada lagi Tasya langsung kembali berjalan, namun tetap saja Tasya selalu waspada.
Baru kali ini ada orang yang pergi keluar dari pesantren tapi tak ada satupun orang yang tau. Tapi hanya ada dua tiga orang soh yang bisa keluar dari sana tapi tak ada yang tahu. Pertama oma, kedua Aisyah adiknya Faisal dan yang ketiga adalah kini adalah Tasya.
Mereka bertiga benar-benar wanita ajaib yang berbeda dari yang lain. Yang membedakan di antara mereka bertiga adalah oma dan Aisyah adalah orang yang berada dan orang yang terpelajar sementara Tasya hanya orang biasa yang datang dari desa yang tak punya apa-apa dan juga bukan orang yang terpelajar.
Tasya bernafas lega saat akhirnya dia sampai di luar pesantren dengan cara melompat melewati pagar. Kalau saja melewati gerbang pastilah dia akan ketahuan karena di sana ada tiga penjaga keamanan.
''Alhamdulilah..'' ucapnya yang begitu gembira.
Tak ingin sampai ketahuan Tasya langsung berlari tunggang langgang menjauh dari pesantren dan bergegas ke pasar.
Meski sangat melelahkan tapi Tasya lebih suka jalan kaki sekalian untuk olahraga katanya.
Begitu tak sabar Tasya untuk bisa sampai ke pasar, meski baru beberapa saat dan belum lama berada di pasar tapi Tasya sudah sangat merindukan tempat itu, juga merindukan orang-orang yang sudah sangat akrab di sana.
Di pasar Bimo juga teman-temannya sedang berniat untuk mencari keberadaan Tasya. Mereka semua sudah sangat bertekad untuk bisa menemukan Tasya yang entah di mana.
Mereka juga ingin menceritakan kepada Tasya tentang orang yang mencarinya kemarin.
Hingga akhirnya mereka terkejut saat melihat Tasya yang datang dan semakin dekat dengan mereka. Tapi mereka terus mengernyit melihat Tasya yang sangat berbeda, kali ini dia memakai hijab.
"Itu beneran Tasya ya?" ucap Kipli yang masih membulatkan matanya.
"Sepertinya iya, tapi kok berbeda ya?" Agus pun juga tak percaya.
"Tapi itu benar-benar Tasya loh. Dia kesambet apaan ya?" Dadang pun tak kalah untuk bicara dia juga sama-sama penasaran.
Sementara Bimo terus diam dan melihat ke arah Tasya yang hampir sampai di tempat mereka berempat.
"Assalamu'alaikum," sapa Tasya.
Bimo terpaku diam matang tak berkedip melihat wajah Tasya, tangannya langsung terangkat dan dia tempelkan di kening Tasya.
"Apa sih! Jangan pegang-pegang ya! Bukan mahram," ucap Tasya. Sepertinya Tasya sudah mulai belajar dengan Faisal. Entah dengan Faisal atau mungkin dari orang lain.
Dadang, Agus juga Kipli saling lempar pandang karena tak percaya. Benar-benar sangat berbeda dengan Tasya yang beberapa hari yang lalu.
"Kamu sehat?" tanya Bimo.
Tasya langsung mengangguk, sehat? Bahkan Tasya sangat sehat dan sangat sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Masak sih?" Bimo yang tangannya sudah langsung di tampik oleh Tasya kini beralih memandangi Tasya dengan berjalan memutari nya.
"Kenapa sih?" Tasya sangat bingung, dia juga merasa sangat risih karena di lihat seperti itu oleh Bimo juga kawan-kawannya.
"Kamu habis bertapa di mana, Sya. Ketempelan jin di mana kamu?" celetuk Dadang.
"He'eh! Kamu habis bertapa ya, Sya. Kok nggak ngajak-ngajak?" kini Kipli yang berbicara.
Sementara Agus juga Bimo masih diam dengan pikiran mereka masing-masing dengan memikirkan apa yang terjadi kepada Tasya.
Tasya hanya menggeleng karena apa yang di katakan oleh mereka. Tasya hanya diam namun tetap dengan wajahnya yang terlihat angkuh.
"Udah ah, aku mau ke pasar," Tasya bergegas tanpa izin pada mereka tapi hanya mengatakan kalau dia akan ke pasar saja.
Tasya juga langsung berjalan membuat empat pasang mata itu terus mengawasi kepergiannya.
Ketiganya langsung mendekati Bimo yang masih tercenung melihat Tasya yang sudah semakin jauh.
Ada rasa adem di hati Bimo saat melihat perubahan Tasya saat ini, tapi juga ada rasa heran dan juga rasa penasaran kenapa Tasya tiba-tiba berubah seperti ini.
Bukan hanya penampilannya tapi juga kata-katanya Tasya yang sekarang sangat berbeda. Dulu-dulu kalau Bimo atau yang lain menyentuhnya dia tidak akan protes tapi kenapa sekarang langsung melayangkan protes?
Siapa yang membuat Tasya berubah seperti itu. Apakah benar ada orang yang membuat Tasya berubah?
"Apa jangan-jangan perubahannya Tasya saat ini karena laki-laki itu?" gumam Bimo.
Orang yang langsung menjadi tersangka adalah Faisal. Karena orang yang dekat dengan Tasya dan juga orang yang terlihat begitu alim hanyalah Faisal jadi dugaan Bimo adalah dia.
Mengingat itu hati Bimo langsung merasa panas dan juga sangat marah. Tangannya juga langsung mengepal begitu erat dengan mata yang melotot.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....