
🌾🌾🌾🌾🌾
Acara yang begitu mewah akan segera di lakukan, semua persiapan sudah selesai dan juga tinggal acara saja yang akan di lakukan dalam hitungan jam saja.
Tasya juga Faisal kini sudah sampai di hotel Asriya, tempat yang akan menjadi acara mereka yang di siapkan oleh orang tuanya.
Tasya begitu gugup ketika dia masih dalam saat-saat di make-up. Dia terus saja gemeter bahkan tubuhnya seolah panas dingin. Dia begitu grogi menjelang detik-detik acara.
Sementara Faisal dia berada di kamar yang lain, tentu dia juga mendapat riasan sebagai semestinya. Mereka berdua akan di pertemukan disaat acara akan di mulai nanti.
Semua itu adalah keinginan dari Keisha yang ingin keduanya tidak saling lihat proses make-up dan akan bertemu ketika sudah selesai. Saat itu pastilah keduanya akan saling mengagumi satu sama lain.
Tasya terus diam di depan kaca rias besar yang dapat memantulkan dirinya, terlihat sangat jelas dirinya yang begitu gugup.
Kuku-kukunya memutih seperti tak ada aliran darah sama sekali. Sungguh, itulah yang Tasya alami sekarang ini.
Tasya juga terus berpikir, siapa yang akan mewakili kedua orang tuanya, siapa yang akan duduk di sampingnya dan menjadi pihak keluarga. Apakah di sampingnya akan kosong, atau ada orang? Tapi siapa?
'Bu, seandainya ibu di sini pasti Tasya sangat bahagia. Anakmu ini sudah menikah, Bu. Dan menantu ibu adalah pria yang sangat baik dari keluarga terhormat. Aku yakin, apa yang terjadi pada Tasya tak lebih karena doa-doa dari ibu,' batin Tasya.
Rasa hatinya begitu sesak, dia sangat merindukan Ibunya. Jelas, seorang anak mana yang tidak akan merindukan kehadiran ibunya di saat-saat yang paling membahagiakan seperti sekarang ini.
"Alhamdulillah, sudah selesai." Ucap dari perias yang ada di hadapan Tasya. Tubuhnya membungkuk sementara wajahnya berpindah-pindah melihat wajah Tasya akan hasil kerja kerasnya selalu berpindah ke arah cermin melihat pantulannya. Benar-benar sangat sempurna.
"Sudah ya, Mbak?" Tanya Tasya dan melihat wajahnya sendiri di pantulan cermin. Tasya sungguh tidak percaya bahwa yang ada di dalam cermin itu adalah dirinya ini sangat berbeda dari dia yang biasanya.
Melihat wajah Tasya yang seperti tak percaya membuat perias tak tersenyum dengan kembali menyentuh alis Tasya menggunakan pensil.
"Kenapa, kamu pasti tidak pernah dandan ya? Terlihat sekali kamu sangat berbeda dari tadi yang belum di poles poles dengan apapun."
Pertanyaan itu membuat Tasya tersenyum. Jelas dia tidak pernah berdandan sebelumnya bukan hanya karena dia tidak bisa saja tetapi dia juga sangat eman dengan uangnya. Daripada digunakan untuk membeli make_up bukankah lebih baik digunakan untuk membeli makan.
Mungkin ada beberapa perempuan yang lebih baik lapar daripada tidak membeli make up. Mereka pusing ketika make up habis dan mati-matian menahan lapar ini bisa membeli alat make up, sementara Tasya dia lebih baik membeli makan untuk mengenyangkan perutnya daripada membeli make up yang dia rasa kamu tidak penting.
Tasya memang selalu apa adanya apapun yang dia lakukan tidak ada yang dia tutup-tutupi. Kata-katanya yang selalu ceplas-ceplos juga wajahnya yang polos dan dandanannya yang terlihat urakan itulah dirinya dan dia bangga dengan dirinya yang seperti itu yang bukan hanya manis karena pencitraan.
"Memang ya kalau orang nggak pernah dandan itu auranya sangat berbeda. Benar-benar akan terpancar kecantikannya." Ucapnya lagi.
"Ah mbak bisa saja. Menurut ku sama saja sih," ucap Tasya yang mencoba menutupi rasa malu karena mendapat pujian dan juga untuk menutupi rasa gugup yang sedari tadi ada dalam dirinya.
"Sebentar lagi acara di mulai, suamimu juga akan datang menjemputmu," Ucap perias memberitahu.
Mendengar kata-kata itu membuat Tasya kini semakin gugup, bagaimana kalau Faisal tidak menyukai dirinya yang seperti ini? Semua ketakutan akan hal-hal negatif berdatangan begitu saja di kepalanya membuat Tasya menjadi semakin merasa was-was.
"Kamu tunggu saja di sini, saya harus keluar," perias tersebut langsung membereskan semua alat-alat yang digunakan untuk mengubah wajah Tasya seperti seorang putri kali ini dan dia juga langsung bergegas keluar meninggalkan Tasya karena tidak mau sampai dia masih ada di sana dan Faisal datang.
Perasaan Tasya semakin tak karuan sebentar lagi Faisal akan masuk dan apa yang akan dia lakukan setelah itu. Setiap hari memang sudah bertemu bahkan terus bersama-sama tetapi kali ini begitu menegangkan dari hari-hari sebelumnya.
Sementara Faisal dia benar-benar sudah keluar dari kamarnya, tempat dirinya di rias.
Jubah putih yang pas di tubuh Faisal terlihat sangat mewah dihiasi rompi tanpa lengan dan terselip bunga buatan dari kain. Bukan itu saja tetapi juga kopiah putih yang diikat dengan sorban menambah Wibawa dari seorang Faisal Fariz Saputra.
"Tenang, Bang. Tenang," Ujar sang adik Aisyah.
Adiknya itu terlihat meringis dan menemani di sampingnya tentu bersama kedua Abang kembar juga Akhsan dan Ikhsan.
"Ini sudah tenang, Dek," jawab Faisal padahal belum sepenuhnya dia bisa tenang dia malah semakin gugup seolah dia baru akan mengucapkan ikrar suci pernikahan.
"Jalan, Sal. Kalau tidak aku saja yang menjemput istrimu," Suara Ikhsan tak sabaran.
Faisal masih sangat ragu untuk berjalan, dia sangat gugup.
"Aku juga boleh. Biar aku yang pertama kali melihat kecantikan adik ipar," Akhsan tak mau kalah.
"Enak saja, dia istri ku, Bang. Jadi aku yang berhak melihatnya lebih dulu. Protes Faisal tak terima. Tentu ucapan dari Faisal membuat mereka bertiga tersenyum geli. Bagaimana tidak Faisal benar-benar terlihat sangat lucu ketika sedang kesal.
Tak mau apa yang dikatakan oleh kedua abangnya benar-benar mereka lakukan kini Faisal berjalan semakin cepat dan meninggalkan mereka bertiga dan itu membuat ketiganya menjadi semakin liar dalam tertawa.
"Heh! Sabar, Sal!" Seru Ikhsan.
"Senyum dulu sebelum masuk jangan sampai istrimu terkejut dan pingsan karena melihat wajahmu yang kusut begitu," Semakin girang Ikhsan dalam menggoda.
"Awas ya kalau ikut masuk," ancam Faisal ketika sampai di depan pintu. Matanya menoleh ke arah ketiganya yang memang tidak berniat untuk mendekat namun mereka terus saja tertawa melihat Faisal yang bikin posesif.
"Jangan lama-lama ya Sal, nanti saja lama-lamanya kalau acara sudah selesai boleh kamu puasin sampai semalam suntuk. Hahaha!" Tawa Ikhsan menggelegar.
Memang ya kedua abangnya ini selalu saja seperti itu mereka senang banget meledek Faisal yang menikah paling terakhir meski dia bukan anak bungsu.
"Terserah saya lah, Bang." Jawab Faisal dengan jengah.
"Cie cie cie..., sebentar lagi bertemu sama bidadari nih," Kini Akhsan yang bicara.
Faisal yang hendak meraih handle pintu diurungkan kembali karena mendengar Ledakan dari Akhsan benar-benar mereka berdua.
"Apa sih, Bang." Faisal semakin kesal.
"Udah ya, lebih baik kalian pergi lebih dulu sana," Usir Faisal.
"Ogah, nanti kamu malah nggak keluar lagi karena keenakan." Ikhsan lagi.
"Udah dong bang kembar, kalian jangan ledekin bang Faisal kenapa sih! Tuh lihat, wajahnya jadi gitu kan!" Aisyah berseru mengomeli keduanya tapi bibirnya terkatup-katup menahan tawa.
"Dasar saudara kurang asem," Faisal langsung masuk.
"Jangan lupa salam, Sal. Hahaha!" Ketiganya kembali tertawa.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....