
🌾🌾🌾🌾🌾
Setelah kepergian Faisal dan kedua orang tuanya yang membawa Tasya tak berapa lama orang suruhan tuan Alex datang dengan membawa satu koper uang. Entah berapa jumlahnya tapi pastilah sangat banyak karena wadahnya saja sampai bawa koper.
Tetapi, yang jelas mereka semua kecewa karena rumah sudah sangat sepi dan tak ada orang. Sepi senyap tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Bahkan lampu-lampu juga tak ada satupun yang menyala, lagian buat apa di nyalakan kalau ujungnya di tinggal pergi. Di dalam rumah juga tidak ada barang berharga.
Dengan wajah kesal dan penuh amarah mereka kembali untuk melaporkan semuanya. Mereka tidak bisa membawa Tasya bersama mereka dengan menukar dengan uang yang mereka bawa.
Itulah kesalahan tuan Alex, dia menginginkan Tasya tapi pakai berpikir dulu. Dia pikir lawannya hanya orang biasa yang gak punya banyak harta tapi ternyata dia salah.
Tuan Alex begitu marah saat para suruhannya kembali dengan tangan kosong, alih-alih bisffa memiliki Tasya kini semuanya hanya menjadi mimpi yang akan semakin susah untuk dia wujudkan.
Umurnya sudah. menginjak kepala lima, tapi masih saja doyan dengan perempuan yang masih ting-ting padahal istrinya juga sudah ada tiga yang juga cantik-cantik karena terpenuhi segala urusan bedaknya. Tapi itulah tuan Alex yang tak pernah merasa puas.
"Di bawa pergi kemana dia?" matanya nyalang penuh amarah tapi tidak memandang ke arah kedua anak buahnya.
Sementara anak buahnya terus menunduk dan tak berani mengangkat wajah mereka. Memang mereka tidak bersalah karena apa yang terjadi juga kesalahan tuan Alex sendiri yang terlalu banyak berpikir. Seandainya tadi dia langsung memberikan penawaran yang lebih tinggi pasti kini Tasya sudah menjadi miliknya.
"Kami tidak tau, Bos." jawab salah satunya.
"Terus si sialan itu?" tanya tuan Alex, yang dimaksudkan adalah Sudiro.
"Kata orang-orang di sana, Sudiro di tangkap polisi setelah pernikahan mereka berdua selesai, Tuan," terangnya.
"Apa! mereka sudah menikah!" mata tuan Alex begitu membulat penuh amarah. Gagal sudah dia memiliki Tasya karena dia sudah menikah dengan orang lain. Tapi masalahnya tuan Alex tetap menginginkan Tasya.
"Saya tidak mau tau, kalian harus cari dia sampai ketemu. Dia hanya boleh menjadi milikku saja. Bukan bocah ingusan itu. Cepat cari sekarang!" suara tuan Alex begitu melengking memenuhi ruangan itu. Kemarahannya sangat besar terhadap kegagalannya untuk mendapatkan Tasya, padahal sudah ada di depan mata tapi dia gagal lagi.
"Baik, Tuan!" mereka langsung berlari keluar bergegas untuk menjalankan perintah dan mencari keberadaan Tasya.
Tangan tuan Alex mengepal sempurna setoran anak buahnya pergi. Amarahnya begitu besar hingga dia melayangkan pukulan ke tembok hingga punggung jari-jarinya lecet dan darahnya menjadi cap di sana.
"Tunggu saja Tasya. Ini adalah tanda bahwa aku tidak akan segan-segan membuat orang yang mengambil mu dariku akan kehilangan darahnya. Dia akan hancur di tangan ku."
Dendam mulai tersulut di hati tuan Alex seper dia benar-benar akan mengibarkan bendera perang untuk melawan orang yang mengambil Tasya darinya, yaitu Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Ucapan demi ucapan selamat terus mengalir pada Faisal juga Tasya. Keduanya juga masih terus duduk di ruang tengah bersama-sama keluarga.
Sebenarnya Tasya sudah tidak nyaman dengan baju kebaya yang dia pakai saat ini tapi dia masih takut untuk pamit dan berganti baju yang lebih nyaman.
Tapi mau ganti apa dan di mana? Tasya sama sekali tidak tau dan juga tidak membawa satu potong baju sama sekali. Hanya apa yang melekat pada tubuhnya itulah yang dia bawa.
'Kapan ini akan berakhir? aku sangat lelah. Apakah akan terus bicara seperti ini?' batin Tasya.
Sesekali Tasya hanya tersenyum saat di tanya dia juga mengangguk tapi sangat jarang dia mengeluarkan kata-kata. Dia lagi mode irit bicara saat ini.
Sebenarnya Faisal juga sudah tau kalau Tasya sangat lelah dan sudah sangat tidak nyaman tapi dia tidak tega menghentikan Omanya yang masih sangat senang berbicara dengannya.
Oma begitu bahagia, seakan dia mendapatkan teman baru yang sangat klop dengannya. Mungkin itu terjadi karena nama mereka yang sama.
Tetapi, setiap kali Tasya ketahuan tengah melirik kepada Faisal dia langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Faisal. Tentu, hal itu membuat Faisal tersenyum dengan senyuman yang dia sembunyikan dari semua orang.
'Kenapa sih dia terus melihat ku?' batin Tasya acap kali melihat Faisal yang mencuri pandang kepadanya.
"Nak, mulai sekarang kalau kamu butuh apa-apa dan butuh teman jangan sungkan-sungkan untuk berbicara pada Oma ya," ucapan Oma langsung membuat Tasya tersadar.
"I_iya, Oma." Tasya begitu gugup.
"Key, antar menantu mu ke kamar suaminya. Biar dia istirahat, dia pasti sangat lelah," pinta oma yang akhirnya menyadari Tasya yang sudah sangat lelah.
"Baik, Bun," Keisha langsung berdiri, langsung dia menarik tangan Tasya dengan perlahan.
"Ayo, Nak. Ikut mama," katanya.
"I_iya," kembali Tasya gugup.
Kamar suaminya?
Apakah itu artinya Tasya harus tidur dengan Faisal dalam dari kamar? tapi pada umumnya kan memang seperti itu, hanya ayah dan ibunya saja yang tidak umum karena mereka tidur di kamar yang berbeda.
Sejenak Tasya melirik lagi ke arah Faisal dan saat itu Faisal kebetulan juga pas menoleh. Dia tersenyum, seolah dia tau Tasya mau kemana. Faisal juga mengedip matanya sekali sebagai tanda dia mengizinkan tapi Tasya masih saja acuh.
Padahal tadi sudah baik tapi kenapa sekarang kembali lagi? padahal Tasya juga sudah tau apa yang di lakukan Faisal, apakah dia marah karena Faisal memenjarakan ayahnya? tidak mungkin kan?
Di tuntun tangan Tasya hingga sampai di kamar Faisal. Kamar yang tidak begitu luas tapi sangat cukup untuk berdua. Semuanya tampak indah dan sangat rapi membuat Tasya terperangah.
Benarkah semua ini Faisal yang melakukannya?
Jelas Tasya ragu, biasanya kan kalau seorang laki-laki selalu ceroboh dan selalu tidak bersih. Tapi ini?
"Istirahatlah, mama pergi dulu," pamit Keisha setelah benar-benar mengantarkan Tasya sampai kamar.
Begitu banyak buku-buku di kamar itu bahkan ada satu rak lemari yang di dalamnya hanya khusus buku-buku saja. Benarkah Faisal sudah selesai mempelajari semua itu?
Buku-buku tebal dan sepertinya buku tentang agama.
Tasya duduk di ranjang tangannya menyentuh dan mengelus kasur yang begitu empuk dan sangat lembut. Matanya terus melihat semua penjuru di sana. Kamar itu memang kamar Faisal tapi satupun tak ada foto Faisal yang terpajang. Mungkin dia memang tidak suka.
Krekk...
"Assalamualaikum..."
Mata Tasya langsung membulat ketika ada orang yang masuk.
Kira-kira siapa yang masuk hayo...
...****************...
Bersambung...