
🌾🌾🌾🌾🌾
"Bagaimana para saksi, sah!" seru penghulu. Ilham telah berhasil mengikrarkan ijab qobul yang dia ucapkan untuk Dina.
"Sah!" seru semua orang menjawab. Suaranya begitu beradu memadati tempat dimana yang menjadi saksi untuk awal dari kisah mereka di mulai.
Dengan sekali saja tarikan nafas Ilham telah berhasil menjadikan Dina sebagai ratu dalam hidupnya, menjadi pendamping yang akan menemani di saat suka juga dukanya.
"Alhamdulillah!" Kembali semua orang berseru dengan senang.
Semua begitu senang dan bahagia, akhirnya acara ini berjalan dengan sangat lancar. Tak ada gangguan dan juga tidak ada masalah apapun yang menghambatnya. Semua benar-benar lancar.
Terlihat begitu bahagia dan juga sangat lega Ilham sekarang, dia telah berhasil menyunting wanita idamannya, menjadikan dia istri dan sahabat kisah hidup yang sebenarnya. Yang halal dan tak akan ada lagi kata dosa di setiap kebersamaan mereka.
Doa di panjatkan, di berikan oleh penghulu secara khusus untuk kebaikan kedua mempelai yang baru saja akan melangkah di gerbang mahligai rumah tangga. Mencecapi setiap rasa asin, manis dan gurihnya rumah tangga.
Bukan hanya penghulu saja yang memberikan doa terbaik, tentu juga dengan semua orang yang datang. Semua tamu nampak begitu fokus dengan doa mereka untuk kedua mempelai yang belum di pertemukan meski sudah resmi menjadi sepasang suami-istri.
Bukan hanya sebatas pasangan kekasih saja yang masih ada batasan, tapi mereka benar-benar telah menjadi sepasang suami-istri yang bebas melakukan apapun yang mereka kehendaki tanpa mendapatkan teguran dari orang lain. Ya, selama yang mereka lakukan adalah hal yang positif, iyakan?
"Loh, Mas kenapa nangis?" Tasya begitu keheranan melihat Faisal yang meneteskan air mata bahkan dia terlihat sesenggukan ketika Ilham sudah berhasil mengikrarkan ijab qobul dan juga mendengar kata sah dari semua orang.
Selayaknya anak kecil yang tengah sedih wajah Faisal terlihat begitu lucu, tentunya juga sangat menggemaskan tapi bagi Tasya ini sangat aneh. Tidak biasa Faisal menangis seperti ini, dia begitu mudah terharu dalam situasi yang memang penuh haru, tapi sangat lucu kan?
"Mas, Mas kenapa?" Tasya langsung menoleh ke arah Faisal, melihat bagaimana wajahnya dengan begitu jelas dan bagaimana caranya dia menghapus air matanya, benar-benar seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Biasanya yang mudah terharu adalah para wanita, tapi kenapa kali ini malah Faisal yang begitu terharu sementara tidak.
Bukan cuma Tasya saja yang melihat bagaimana lucunya Faisal tapi juga kedua abangnya yang tepat berada di depannya. Keduanya juga langsung menoleh secara bersamaan dengan alis mereka yang sama-sama menyatu.
"Sal, kamu kenapa?" tanya Ikhsan kepo.
"Sal, kamu kenapa sih?" sahut Akhsan yang juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada adiknya itu.
"Pengen balon kali, Bang. Sana beliin! Tuh di sana ada kok," Ikhsan menoleh ke arah Akhsan dengan wajah sok panik, padahal kenyataannya adalah dihatinya dia menahan tawa.
"Hus! Sembarangan kalau ngomong. Kalau adik nangis itu di bikin diem jangan di bikin kesel!" seru Akhsan.
"Sal, mau minta gendong bang Ikhsan ya, mau depan apa belakang?" giliran Akhsan yang menggoda Faisal.
"Yee..., ngelarang-ngelarang malah situ sendiri malah lebih parah." kesal Ikhsan.
"Hahaha!" tawa Akhsan kegirangan.
Faisal hanya diam namun dengan wajah yang sangat besar mendengar ucapan kedua abangnya yang selalu saja begitu, mereka selalu saja menggoda Faisal dengan gurauan mereka.
Benar-benar seperti anak kecil mendengar perkataan kedua abangnya seperti dia setengah dibully oleh teman-temannya membuat Faisal langsung memeluk Tasya dengan manja. Bukan itu saja tetapi Faisal kembali tersedu karena menahan tangis yang tak mampu bersuara.
"Cie cie cie..., yang udah punya pelukan," ucap Ikhsan lagi.
"Hus! apa sih Mas!? Jangan gitu dong kasihan Faisal. Kalian nih ya, seneng banget godain dia," Fatma istri Ikhsan yang begitu geregetan dengan tingkah suaminya. Dia juga langsung menarik telinga Ikhsan untuk meminta dia berhenti.
"Masss," begitu juga dengan Khairi istrinya Akhsan, dia juga begitu geram dengan suaminya itu.
"Maaf ya, Dek." ucap Khairi pada Tasya.
"I_iya, Mbak. Nggak apa-apa," jawab Tasya. Sebenarnya malu juga sih karena tingkah Faisal saat ini, dia begitu manja dan juga mudah menangis, aneh.
"Mas, Mas kenapa sih? Jangan gini dong, malu lah. Bagaimana kalau di lihat para santri juga, masak iya ustadz mereka nangis kayak gini," bisik Tasya.
"Sedih banget," akhirnya Faisal melepaskan diri dari Tasya, tangannya juga langsung mengeringkan pipinya.
Sementara Tasya, Tasya masih terus menoleh memastikan apa yang terjadi tidak di lihat banyak orang. Semakin malu deh kalau sampai di lihat semua orang.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...