Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Nikahin Adek, Bang



🌾🌾🌾🌾🌾


Makan siang yang begitu membuat rasa canggung. Semua makanan yang tersedia adalah masakan dari Faisal bukan dari Tasya. Seolah dunia menjadi terbalik karena Faisal yang memasak sementara Tasya yang tinggal menikmati.


Tapi mau bagaimana lagi? Tasya sama sekali belum bisa memasak, bahkan dia mencoba hanya membuat telur ceplok saja gosong bagaimana dengan yang lainnya?


"Bagaimana, apakah enak?" tanya Faisal memecah hening di antara mereka berdua.


Tasya melirik, sedikit mengangkat wajahnya supaya bisa melihat Faisal dengan jelas. Laki-laki itu tersenyum dengan melihatnya. Ya Allah, begitu manis. Seandainya Tasya tidak malu pasti pujian itu akan nyeletuk saat ini juga tapi dia tidak kuasa.


"Hem, e_enak," jawaban Tasya terdengar gemetar membuat Faisal semakin tersenyum.


Kenapa istrinya itu selalu seperti itu setelah menikah padahal kemarin sebelum menikah dia selalu ceplas-ceplos dan bicara begitu banyak, tapi ini?


"Alhamdulillah, makanlah yang banyak. Hem, apa perlu di suapi?" tangan Faisal sudah langsung terulur menuju bibir Tasya.


Tangan itu sudah penuh dengan nasi juga lauk dan sayurnya, katanya Faisal lebih suka makan menggunakan tangan saja tanpa bantuan sendok dan itulah yang dia lakukan sekarang.


"Ti_tidak usah. Aku bisa sendiri kok," Tasya begitu enggan untuk menerima suapan dari Faisal tapi sepertinya Faisal tidak mempedulikan penolakan itu dan tetap ingin menyuapi nya.


"Akk," pintanya.


Terpaksa Tasya membuka mulutnya dan jelas sedikit mendekatkan wajahnya. Kata mama mertua dia harus melakukan apapun yang di ingin oleh suaminya jadi dia melakukannya. Katanya dia harus patuh kalau tidak mau jadi istri durhaka.


Entah itu benar atau hanya sekedar untuk menakut-nakuti Tasya saja tapi Tasya tetap melakukan. Semoga benar dan bukan hanya kebohongan untuk sebuah kepentingan dan keuntungan sepihak.


"Alhamdulillah, akhirnya sudah ada temannya saat makan. Bahkan bukan hanya makan saja, semua yang aku lakukan sudah ada yang menemani. Terima kasih ya, Sya. Sudah menerima ku dalam hidupmu," ucap Faisal.


Apa yang Faisal katakan membuat Tasya menjadi kikuk, apa yang akan dia jawab. Bukan hanya Faisal yang beruntung tapi Tasya terlebih lagi.


Dia bisa mendapatkan tempat tinggal, mendapatkan kasih sayang, dan juga mendapat perhatian dari semua orang yang tidak pernah dia dapatkan.


Tasya semakin terdiam ketika tangan Faisal terangkat dan memegangi tangannya yang ada di atas meja.


Darah Tasya seakan berdesir panas, tubuhnya jelas ikut juga, tapi itu bukan demam dan Tasya tidak tau itu apa.


Jantungnya juga bekerja tidak seperti biasanya. Lebih cepat dan juga lebih kuat, seakan ingin mendorong keluar dari dadanya. Seandainya dadanya terbuka pasti sudah langsung lompat itu jantungnya.


"Habiskan makannya. Setelah itu kita shalat dhuhur lalu kita ke panti. Kamu pasti merindukan anak-anak kan?"


"I_iya," kembali Tasya menjawab dengan sangat gugup.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu lebih irit bicara, apakah kamu sakit?" Faisal begitu penasaran.


"Ti_tidak, hanya... Hem, bukan apa-apa," Tasya tentu tak mau menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya. Hatinya tengah menahan sesuatu yang aneh yang di hadirkan karena kebersamaan mereka.


"Alhamdulilah kalau kamu tidak sakit. Kalau kamu sakit kita ke dokter sekarang, atau mungkin sakit_mu hanya aku yang mampu menyembuhkan?" Faisal terkekeh seraya menggoda Tasya.


"Hah!" Tasya terpekik matanya sudah melotot.


"Bukan apa-apa, ayo habiskan makannya. Akk!" kembali Faisal menyuapi Tasya. Entah hanya seberapa Faisal makan karena sedari tadi Faisal hanya terus menyuapi Tasya dan hanya sesekali menyuapi dirinya sendiri .


Semakin senang Faisal menggoda Tasya, istrinya yang malu-malu dan juga pipinya yang selalu merah itu membuat dia merasa puas. Dia sangat bahagia.


Ternyata inilah kenapa kedua abangnya akan selalu betah di rumah setelah menikah dan seperti Faisal pun juga akan sama, dia akan betah di rumah dan akan lebih memilih menikmati kebersamaan dengan istrinya daripada pergi keluar karena hal yang tidak penting.


'Alhamdulillah telah Engkau sempurnakan hidup ku, agama ku dan juga kebahagiaan ku dengan pernikahan ini, Ya Allah,' batin Faisal.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Mas, Dina beneran boleh tinggal di sini? Dina nggak akan bayar kan?" Dina begitu takut untuk masuk ke panti yang sudah ada di hadapannya.


Panti yang sangat luas dan juga sangat indah. Sangat begitu nyaman untuk di tempati.


"Beneran, kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau, kamu juga bisa bantu-bantu bu Yulia merawat anak-anak saat kamu tidak bekerja."


Jawaban dari Ilham ternyata belum juga membuat Dina merasa yakin, dia terus saja berpikir mana mungkin di jaman sekarang masih ada yang gratis.


Jaman modern seperti sekarang semuanya membutuhkan uang, semua harus menggunakan uang untuk apapun. Mana ada orang yang bersedia memberikan tempat tinggal bahkan mau memberikan makan secara cuma-cuma.


"Mas tidak berniat buruk pada Dina kan?" Dina menoleh.


"Berniat buruk, maksudnya?"


"Ya, ya maksudnya nanti Mas Ilham minta imbalan dengan ngawinin Dina. Iya kalau pakai di nikahin, kalau kagak?"


"Astaghfirullah hal adzim, Din. Segitunya kamu nggak percaya padaku?" Ilham mengusap wajahnya secara kasar, nih cewek benar-benar ya.


Bagus sih kalau cewek yang begitu waspada seperti Dina, tapi kenapa harus dia juga yang di ragukan?


"Ya, kan siapa tau. Jaman sekarang loh ya. Tapi..., kalau Dina mau di nikahin lalu di kawinin Dina ikhlas lahir batin, Bang." Dina meringis.


Semakin dekat dengan Dina Ilham harus kuat iman, kalau tidak dia akan ikutan kejebur karena rayuan dari Dina. Bisa-bisa bahaya kan.


"Oh ya Mas, yang tadi sepakat kan?"


"Tadi mana maksudnya?" Ilham menghentikan langkah.


"Yang tadi, kita jadi pacaran kan. Itu kan syaratnya."


Ed_dah. Mana ada orang menolong tapi di palak seperti Ilham sekarang ini. Niatnya ingin benar-benar menolong dengan tulus saking tulusnya dia langsung mendapatkan imbalan dengan cara mereka berdua berpacaran. Hadeuh, Neng...


Kalau begini siapa yang untung coba?


"Maaf Dina, dalam islam nggak ada istilah pacaran. Jadi kita berteman saja, oke," Ilham kembali ingin melangkah.


"Ya sudah, kalau tidak ada pacaran sekalian saja, Mas."


"Sekalian apa maksud mu?" Ilham kembali berhenti.


"Sekalian nikahin adek, Bang."


"Hem," Ilham hanya menggeleng kasar dia kembali melaju meninggalkan Dina yang semakin terkekeh. Ternyata menyenangkan sekali menggoda cowok yang anti berpacaran juga anti bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram.


"Bang! jangan tinggalin adek. Bang!" dengan tas ransel di tangan nya Dina melenggang mengejar Ilham yang sudah masuk lebih dulu ke panti.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....