Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Tercerai Berainya Persahabatan



🌾🌾🌾🌾🌾


Penawaran dari Tuan Alex sangat menggiurkan bagi teman-teman Bimo sementara Bimo sendiri masih sangat ragu antara menerima atau tidaknya bahkan di hatinya masih terbesit rasa tidak percaya kalau Tasya sudah menikah dengan Faisal.


Berhari-hari Bimo mencari keberadaan Tasya dan juga Faisal. Bahkan dia selalu memata-matai panti namun sama sekali tidak pernah dilihat Tasya ataupun Faisal keluar masuk tempat itu.


Bimo sangat ingin mendapatkan jawaban atas semua perkataan dari Tuan Alex, apakah benar atau tidak dan dia ingin mendengar langsung dari mulut Tasya sendiri tapi nyatanya sudah berhari-hari dia mencari tetap tidak menemukannya. Lalu? dia akan mengajukan pertanyaan kebenaran itu kepada siapa?


Hari ini adalah hari genap satu minggu setelah kabar yang dia dapat akan pernikahan Tasya juga bisa dia masih terus menunggu Tasya datang ke pasar. Dia sangat berharap kali ini dia bisa melihat secara langsung.


Dengan sangat tidak tenang Bimo terus menunggu dan terus menerima diri di depan gerbang pasar menoleh ke arah jalan raya berharap Tasya akan turun dari mobil atau sepeda motor dan menghampirinya.


"Sampai kapan aku harus menunggumu seperti ini Tasya?"


Saya tidak sabar sementara ketika temannya mereka duduk asik dengan begitu santai sembari menikmati kacang dan melemparkan kulitnya langsung ke dalam tong sampah yang ada di bawah.


"Sudah lah, Bos. Jangan terlalu berharap dia akan datang ke sini karena saya sudah sangat ragu kalau dia akan kembali ke tempat ini bersama kita lagi," ucap Agus.


"Tapi, kalau mengingat Tasya yang tidak pernah kembali datang ke sini sepertinya orang itu memang benar kalau Tasya dan Faisal sepertinya memang mereka sudah menikah. Kalau misal mereka belum menikah pasti Tasya akan sering datang ke sini, benar begitu kan?" Ucap Kipli.


"Benar juga sih," sahut Dadang.


Mungkin memang benar apa yang mereka katakan tetapi Bimo masih sangat berharap kalau berita itu adalah salah dan dia bisa bertemu dengan Tasya lagi bisa mengatakan semua yang dia rasakan kepada Tasya.


Setidaknya Bimo ingin bisa bertemu dengannya dan mengatakan semua, masalah diterima dan tidaknya itu tidak masalah yang penting perasaannya telah tersampaikan meski mungkin tidak akan terbalas.


Ketiga sahabatnya terus saja berbicara sembari menikmati apa yang ada di tangan mereka masing-masing dengan terus melihat ke arah Bimo dan berganti ke arah tempat sampah ketika mereka melemparkan kulit kacang.


Di tengah ketidak sabaran Bimo Kkini dia berdiri dengan tenang melihat ke satu sumber yang datang dia adalah wanita yang telah ditunggu selama satu minggu ini. Dia adalah Tasya.


"Tasya," panggil Bimo begitu lirih.


Hatinya begitu berbunga-bunga bisa kembali melihat sang pujaan hati yang kini terlihat semakin cantik dengan balutan baju yang sopan meski dengan celana dan juga menggunakan hijab.


Bimo begitu buru-buru Ingin mendekati Tasya tetapi langkah kembali terhenti senyumnya juga pudar dengan semangat yang hilang setelah melihat laki-laki yang berjalan di sebelahnya, Faisal.


Keduanya melangkah saling berdampingan dengan senyum yang sesekali terpancar untuk satu sama lain, mereka berdua terlihat sangat bahagia.


'A_ apakah semuanya benar?' batin Bimo.


Bimo terus terpaku di satu tempat dengan mata yang tidak pernah berkedip melihat mereka berdua yang hampir sampai di hadapannya.


Hati Bimo terasa semakin sakit ketika melihat mereka berdua bergandengan tangan dengan sesekali menoleh dan juga tersenyum. Mereka benar-benar memperlihatkan betapa besarnya kebahagiaan mereka.


Faisal juga Tasya berhenti ketika sampai di hadapan Bimo dan setelah mereka berdua berhenti ketiga sahabatnya juga berdiri dengan melihat keduanya yang bergandengan dan terlihat begitu mesra.


"Assalamu'alaikum, Bim... Hayy..." Tasya memperlihatkan keramahan dan menyapa mereka berempat dengan sangat berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya dia selalu menyapa namun dengan ucapan yang terdengar kasar


Tapi sekarang?


Bimo masih diam dia masih berada di antara percaya dan juga tidak percaya, antara bahagia dan juga kecewa melihat Tasya yang bersama Faisal dengan begitu dekat dan juga begitu penuh dengan rona bahagia.


"Bim, Bimo!" Tasya berteriak memanggil, berniat untuk benar-benar menyadarkan Bimo yang bengong melihatnya.


"Ya_ya..." Seketika Bimo tersadar dia juga langsung menjawab tapi dengan sangat gugup. Masih dalam masa terkejut hingga dia menjadi seperti itu.


"Kamu kenapa?" Tasya terlihat bingung dengan Bimo tak biasanya dia bertingkah seperti saat ini. Dia melamun karena melihatnya.


Dari dulu dia memang tak pernah menganggap Bimo yang bagaimana-bagaimana dia menganggap Bimo hanya sebatas teman.


"Ti_tidak. Ka_kamu dan Faisal...?" Pura-pura Bimo bertanya akan hubungan Tasya dengan Faisal dia ingin tau lebih jelas dan juga dari bibir Tasya sendiri.


Meski Bimo akan kecewa mendengarnya dan juga semakin sakit hatinya tapi setidaknya dia tau kalau semuanya benar.


Terlihat Tasya menoleh ke arah Faisal tangannya juga kembali merangkul lengan Faisal yang dari tadi diam. Jelas Faisal diam, dia tau kalau sebenarnya Bimo menyukai Tasya.


"Aku dan mas Faisal sudah menikah, Bim. Maaf ya aku tidak mengundang kamu dan juga yang lainnya. Semuanya terjadi begitu cepat jadi tak bisa mengundang kalian."


Memang bertambah hancur hati Bimo. Rasanya sangat sakit karena mendengar kenyataan yang benar-benar nyata kalau perempuan yang di suka ternyata telah menjadi milik pria lain.


"Heh, me_menikah?" Bimo tergagap dengan hati yang sangat hancur.


Mata Bimo melotot dengan tangan mengepal melihat Faisal.


Ketiga temannya yang melihat Bimo akan segera meledakkan amarah langsung menghampiri, mereka berdiri di belakang Bimo memeganginya dan tersenyum kepada Tasya.


"Wah, kalian sudah menikah ya? selamat ya, Sya. Semoga selalu bahagia," ucap Kipli sembari menyembunyikan rasa takutnya akan Bimo.


"Bos, jangan seperti itu." Bisik Kipli tetapi bisikan dari Kipli sama sekali tidak dihiraukan oleh Bimo dia tetap membulatkan mata juga tangannya yang mengepal namun tidak terlihat karena dihalangi oleh tangan-tangan sahabatnya.


"Selamat ya, Sya. Maaf kami sedang ada urusan kita ngobrol lagi nanti ya," kini berganti Agus yang berbicara sembari mendorong Bimo untuk berjalan dan meninggalkan tempat itu.


"Selamat juga ya Sya," Dadang juga tidak mau ketinggalan.


Mereka bertiga cepat-cepat mendorong Bimo untuk segera pergi dari hadapan Tasya juga Faisal sepertinya mereka bertiga sangat takut kalau sampai ada masalah di sana. Yang terpenting Mereka takut kalau sampai amarah dari Bimo memuncak dan akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan pada Faisal ataupun Tasya sendiri.


Bukankah orang yang sedang patah hati akan tega dan bisa melakukan apapun yang berada di dalam pikirannya. Biasanya mereka juga akan selalu melakukan apapun itu tidak menggunakan hatinya jadi mereka akan merasa puas jika sudah melampiaskan semua rasa sakitnya meski dengan cara menyakiti orang lain.


"Mereka kenapa, kok aneh sekali?" Tasya begitu bingung dia masih saja tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Bimo kalau ternyata dia sangat menyukai Tasya tapi sayangnya perasaannya tidak terbalas bahkan bertepuk sebelah tangan.


"Mungkin dia cemburu kali, atau tidak suka dengan hubungan kita," Faisal langsung menyimpulkan seperti itu tetapi sepertinya Tasya tidak langsung percaya bahkan dia malah tertawa mendengar perkataan suaminya itu.


"Hahaha! Cemburu? Mana mungkin, Mas. Kita itu hanya teman," elak Tasya.


Ya! Bagi Tasya mereka hanya teman karena Tasya memang menganggapnya seperti itu tetapi Bimo sendiri dia tidak menganggap seperti itu karena dia menaruh perasaan kepada Tasya yaitu rasa cinta.


"Sudah yuk, katanya mau beli kitab. Kalau kelamaan nanti aku yang di marahin papa karena mengajak anaknya keluyuran," Tasya segera menarik tangan Faisal dan mengajaknya masuk ke dalam pasar tanpa memperdulikan lagi bagaimana Bimo sekarang.


🌾🌾🌾🌾🌾


Karena dalam amarah yang besar juga rasa kecewa yang begitu mendalam bagi Bimo dia menghubungi Tuan Alex dan mengatakan bahwa Tasya dan Faisal berada di sana.


Padahal ketika sahabatnya sudah melarangnya tetapi Bimo tidak mendengarkan apa pernyataan mereka dan langsung mengabarkan akan keberadaan Tasya.


"Ini akan jadi masalah besar," ucap Kipli. Dia merasa sangat tak percaya kalau dalam amarahnya Bimo yang sangat besar akan menghadirkan masalah baru untuk Tasya.


"Kami benar-benar tidak percaya, Bos. Ini juga sangat tidak benar," Agus pun tak percaya.


Sementara Dadang dia diam dalam rasa tak percaya juga. Bagaimana mungkin bosnya itu tega memberikan masalah pada teman mereka sendiri hanya karena cemburu, karena cinta yang tak terbalas.


"Diam kalian semua! Kalau kalian memang tidak suka dengan cara ku, pergi saja kalian dan berlindunglah di belakang Tasya. Aku tidak peduli!"


Begitu besar amarah Bimo hingga tanpa sadar dia telah menyakiti hati sahabat-sahabatnya. Hatinya benar-benar sudah terbutakan pada amarah yang begitu besar hingga dia merasa tidak peduli apapun bahkan seolah dia tidak membutuhkan pada sahabatnya lagi.


Ternyata benar, cinta bisa mengubah orang menjadi baik tapi juga bisa menjadi buruk. Sekali cintanya terbalas dia akan sanggup melakukan apapun bahkan dan jika tidak terbalas dia juga bisa melakukan apapun karena kemarahan dan juga kekecewaannya.


Seperti yang terjadi pada Bimo saat ini, karena amarahnya dia bisa saja membuat jarak dari para sahabatnya. Seandainya mereka merasa tersinggung maka bisa di pastikan mereka semua akan pergi meninggalkan Bimo.


"Baiklah, kalau itu memang keinginan mu! aku juga tidak akan peduli dengan mu!" dan ternyata benar, Kipli seketika mengambil keputusan untuk meninggalkan Bimo.


Dengan kecewa Kipli melenggang pergi namun Bimo sama sekali tidak mencegahnya hingga akhirnya, bukan hanya Kipli saja yang pergi tetapi Agus juga Dadang.


"Maaf, Bim. Saya juga tidak setuju dengan keputusan mu," Dadang ikut menyusul Kipli, dia juga sangat kecewa.


"Saya juga demikian, Bim. Saya tidak bisa ikut dengan keputusan mu. Itu salah, Bim. Semoga suatu saat kamu bisa sadar kalau apa yang kamu lakukan ini salah."


"Kamu boleh mencintai, kamu juga bebas membenci. Tapi, jangan menyesal jika keduanya itu akan menghancurkan kamu," Bahkan Agus pun juga pergi meninggalkan Bimo.


Mereka bertiga pergi dari Bimo, bahkan langsung menanggalkan panggilan bos dari Bimo yang seperti biasanya. Mereka semua sudah sangat kecewa.


"Argghhh! pergi kalian semua, pergi! aku juga tidak butuh kalian!"


Bukannya mencegah atau meminta maaf dan meminta kembali tapi Bimo malah menegaskan kalau dia benar-benar tidak membutuhkan mereka lagi. Tentu hal itu juga langsung di sambut oleh mereka bertiga dan pergi tanpa menoleh lagi.


Sekarang Bimo hanya tinggal sendiri, menggenggam ponsel dan juga kartu nama yang keduanya di beri oleh Tuan Alex.


🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....