Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Pulang



🌾🌾🌾🌾🌾


Akhirnya, setelah beberapa hari berada di rumah sakit Faisal telah di perbolehkan untuk pulang. Dengan begitu bahagia dia melangkah keluar dengan bru gandeng oleh Tasya juga oleh Keisha sang Mama.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah boleh pulang. Setelah ini semoga tidak ada lagi keburukan-keburukan yang menimpa kita semuanya." ucap Keisha.


"Amin, semoga saja ucapan mama di ijabah oleh Allah," jawab Faisal sementara Tasya hanya tersenyum.


Betapa bahagianya Faisal saat ini, di gandeng kedua perempuan yang sangat berharga untuknya. Berjalan di tengah-tengah dan tidak di biarkan jatuh.


Sebenarnya sudah kuat untuk berjalan sendiri, tapi mereka berdua masih sangat khawatir.


Hanya Keisha dan Hasan yang menjemput. Kalau Ilham sudah langsung pulang di hari pertama kemarin dan dia juga masih harus banyak istirahat di rumah.


"Mari, Mas." ucap Hasan. Membukakan pintu mobil setelah mereka sampai di tempat parkir.


"Terima kasih, Mas." Faisal begitu berterima kasih, dia pikir akan orang lain yang menjemput tapi ternyata Hasan.


Tasya duduk bersama Faisal di belakang, sementara Keisha berada di sebelah Hasan di depan. Setelah semua tak ada yang ketinggalan begitu juga dengan barang-barang mobil pun mulai berjalan meninggalkan rumah sakit.


Faisal terus tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk bisa secepatnya sampai di rumah. Hanya beberapa hari saja di rumah sakit rasanya begitu lama dia pergi dari rumah. Entah seperti apa keadaan rumah.


🌾🌾🌾🌾🌾


Semua tampak antusias menyambut kepulangan Faisal dari rumah sakit. Sang Oma bahkan meminta tolong beberapa santri untuk membersihkan pendopo mereka supaya bersih.


Tasya yang tak pernah pulang bukan berarti pendopo mereka tidak terurus, pendopo mereka tetap bersih dan juga rapi seperti biasanya. Setiap hari di bersihkan meski dengan cara bergantian.


Makanan juga di siapkan untuk menyambut mereka, pulang dari rumah sakit tentu mereka akan merasa lapar hingga beberapa makanan sudah di hidangkan di atas meja makan.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." gumam Oma seraya tersenyum melihat semuanya sudah beres.


Keadaan rumah sudah bersih, kamar dan semua ruangan juga sudah beres tentu saja senyum Oma akan semakin mengembang.


"Oma, Ustaz Faisal sudah pulang!" seru satu santri yang masuk.


Oma langsung mengangguk, dia bergegas keluar dari pendopo Tasya juga Faisal itu untuk menyambut kepulangan cucunya.


Betapa bahagianya, akhirnya cucunya sudah kembali dengan baik-baik saja. Meski beberapa luka masih belum kering tapi Oma tetap bernafas lega, akhirnya gak butuh lama dia ada di rumah sakit.


"Assalamu'alaikum, Oma." Faisal juga langsung menyalami dengan begitu takzim lalu mendapatkan pelukan hangat dari sang oma.


Begitu juga dengan Tasya, dia melakukan hal yang sama persis seperti Faisal dan juga mendapat hal yang sama, pelukan dan ciuman di kedua pipinya.


"Alhamdulillah, kamu sehat, Nak?" tanyanya pada Tasya.


"Alhamdulillah, Tasya sehat, Oma." Kembali sang oma tersenyum setelah mendapat jawaban.


Apa yang terjadi pada Faisal juga Tasya tentu sudah di dengar oleh Oma, sempat dia ingin langsung datang ke rumah sakit karena begitu khawatir namun tidak jadi karena Rayyan mencegahnya, mengatakan kalau semua sudah dapat di kendalikan dan Faisal juga Tasya tidak apa-apa.


Rasa khawatir jelas saja menyelimutinya, bagaimana tidak! Ada orang yang ingin mencelakai cucunya itu tentu dia akan sangat was-was, dia ingin sekali menjadi bagian dari menjaga Faisal meski tenaganya juga tak lagi seberapa.


"Ayo masuk, Oma sudah siapkan semuanya untuk kalian berdua." Oma begitu antusias, menggandeng keduanya dan dia berada di tengah-tengah.


Tasya ataupun Faisal langsung menurut, tidak menolak ketika mendapatkan gandengan tangan oleh Oma dan mereka bertiga masuk secara bersamaan.


Hasan tentu masuk belakangan dengan membawa semua barang-barang Faisal dan Tasya, sementara Keisha dia juga sudah masuk di belakang mereka bertiga.


"Wah, semuanya ini Oma yang siapkan?" Tasya begitu terperangah, melihat semua camilan di atas meja ruang tengah dan juga semua berbagai menu makanan di atas meja makan.


Perut Tasya langsung keroncongan ingin segera menikmati.


"Oma mana kuat menyiapkan semua ini, Nak. Oma mah bisanya hanya nyuruh sekarang." ucapnya jujur.


"Hahaha, nggak apa-apa, Oma. Terima kasih ya, ini semua juha tidak akan ada kalau oma tidak menyuruh yang lain." Kembali Tasya memeluk Oma. Dia begitu bahagia. Hatinya terasa begitu dekat kalau dengan Oma.


"Sama-sama, Nak. Makan gih, kamu pasti lapar kan? Apalagi kamu sedang hamil pasti bawaannya hanya pengen makan terus."


"Hehehe, iya sih, Oma."


Itulah senangnya, Tasya terus saja ingin makan dan selalu merasakan enak, tapi Faisal? Dia yang harus merasakan semuanya. Dia yang mual dan dia juga yang pusing.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...