
🌾🌾🌾🌾🌾
Hari-hari perkenalan akan sifat yang sebenarnya. Hari-hari yang sangat membahagiakan meski tak mudah dalam penyesuaian di awal-awal setelah pernikahan, tapi semua di jalani dengan ikhlas dan saling menerima hingga membuat Tasya juga Faisal begitu menikmati akan masa-masa paling indah tersebut.
Saling menyatukan perbedaan dan menerima dengan lapang dada. Memang tidak mudah menyatukan dua hati yang berbeda, satu lemah lembut tapi yang satu begitu keras. Tapi, itulah hal terpenting dalam perjalanan awal mereka.
Jika mereka kuat maka semua akan langgeng tapi jika tidak? Ya! Semoga itu tidak akan terjadi dan mereka akan benar-benar bisa melewati segalanya.
Dunia seolah milik berdua. Kebersamaan mereka terasa benar-benar tak ada yang mengganggu meski berada di dalam keramaian yang sangat banyak orang. Tapi kali ini mereka ada di rumah dan baru pulang jalan-jalan setelah beberapa jam yang lalu.
Kebiasaan yang tak bisa mudah untuk di hilangkan begitu saja dari Tasya, ketika melihat makanan yang menjadi kegemarannya pasti dia akan langsung membelinya, tapi sayangnya Tasya tak meminta izin terlebih dulu pada Faisal. Alias sembunyi-sembunyi.
Tetapi pada kenyataannya itu tak akan bisa di sembunyikan dari Faisal. Gara-gara Tasya teledor membuang bekas permen karetnya akhirnya semua itu berujung mengenai rambut Faisal.
Di dalam ruang tengah masih berada di villa permen karet itu mengenai rambut Faisal. Tak tau dari mana tapi yang jelas sudah nempel di rambutnya.
Tangannya terangkat jelas langsung mendapatkan permen karet tersebut. Lengket, susah di ambil itu jelas. Faisal mengendusnya siapa tau dia salah karena Tasya sudah lama tidak terlihat makan permen karet.
"Permen karet?" gumamnya.
"Sayang... Ya khumaira!!" panggil Faisal dengan suara yang penuh dengan kelembutan, tidak mungkin dia akan berteriak karena itu nanti Tasya pasti akan terkejut dan tidak akan datang.
Di tunggu beberapa saat tapi Tasya belum juga datang. Faisal bernafas panjang dan berusaha untuk bisa membesarkan kebesarannya.
"Ya Khumaira!!" Teriaknya lagi dan terdengar mendayu-dayu penuh rayu.
Kalau setelah ini Tasya tidak datang Faisal akan putuskan untuk mendatangi Tasya dan jelas akan memberikan hukuman pada Tasya. Entah hukuman seperti apa yang akan di berikan oleh Faisal, tidak mungkin akan di beri permen karet juga kan rambut Tasya?
"Ya! Ada apa, Mas?!" Tasya terengah dalam nafasnya setelah sampai di hadapan Faisal.
Wajahnya terlihat begitu penuh dengan rasa penasaran apa yang membuat Faisal memanggilnya dengan suara yang begitu lembut, bahkan sangat berbeda dari biasanya. Ya Khumaira? Sungguh, panggilan itu membuat jantung Tasya berdebar-debar begitu hebat.
Rasa tersanjung karena mendapatkan panggilan yang begitu indah dari segala panggilan yang lain.
"Ada apa, Mas?" Tasya kembali bertanya dan kini berjalan semakin mendekat kepada Faisal.
"Sini," Dengan lembut Faisal menarik tangan Tasya hingga berhasil duduk di sebelahnya.
Perlakuan yang begitu manis ini membuat Tasya semakin penasaran. Sebenarnya ada apa dengan Faisal, memang biasanya manis tapi ini lebih luar biasa manisnya.
"Makan apa kamu barusan?" tanyanya dengan sangat lembut pula. Tangannya sudah merangkul pinggang Tasya seolah tak akan membiarkan kalau sampai Tasya kabur darinya apalagi setelah mengetahui apa yang menjadi kesalahannya.
Tasya tak akan bisa melihat rambut Faisal yang terkena permen karet karena ada di sebelah yang satunya apalagi tingginya juga kalah dari Faisal.
"Yang Tasya makan kan sama seperti yang mas makan juga," jawabnya dengan begitu percaya diri.
Sebenarnya Faisal sudah tidak betah terasa terganggu akan keberadaan dari permen karet itu tapi dia berusaha menahannya untuk sebentar saja.
"Pasti ada yang lain kan?" kembali Faisal bertanya, meminta Tasya untuk mengingat segalanya.
Faisal masih setia menunggu dengan menatap Tasya penuh damai. Tak mau membuat Tasya curiga tapi kenyataannya Tasya sudah tetap merasa curiga. Bahkan sekarang kecurigaannya semakin besar apalagi tidak dia ingat apa lagi yang dia makan. Emang apa?
Tasya benar-benar melupakan atau mungkin malah dia ingin berusaha melupakan alias sok lupa untuk menyembunyikan segalanya.
Memakan permen karet Faisal tidak tau, bahkan dia beli dan sekarang di taruh dimana pun Faisal tidak mengetahuinya, Tasya sangat pintar menyembunyikannya.
"Apa ya, sepertinya tidak ada yang lain deh?" Tasya berusaha mengingat tapi sama sekali tak dapat mengingatnya. Tasya benar-benar lupa berarti.
"Sepertinya kamu melupakan sesuatu, dan ya! Sepertinya kamu harus menerima hukuman dari mas. Sekarang katakan, hukuman apa yang pantas untuk istri nakal seperti mu."
Tangan Faisal terangkat dan mencubit hidung Tasya dengan sangat gemas. Hukuman? Istri naka?
Tasya masih tak mengerti, dia benar-benar mencoba untuk mengingat tapi belum dapat hingga akhirnya dia menyadari kesalahannya, tapi darimana Faisal tau?
'Apa mas Faisal tau kalau aku makan permen karet lagi? Tapi dari mana?' batin Tasya begitu bingung.
"Hem, kamu benar-benar tidak ingat apa yang kamu makan tadi?" tanya Faisal lagi.
Tasya menggeleng dengan begitu polosnya, dia juga menggeleng tanpa rasa berdosa karena dia tidak ingat apapun.
"Sekarang berdirilah," pinta Faisal, seketika dia menuntun Tasya untuk berdiri dan beralih berdiri di sebelah satunya.
Tasya masih bingung, sebenarnya apa yang ingin Faisal tunjukkan padanya. Tapi apa, hingga akhirnya Tasya menoleh dan mata terbelalak juga mulut menganga lebar ketika melihat keadaan rambut Faisal.
"I_ini..." Tangannya terangkat dan menutup mulutnya.
"Hukuman apa yang pantas yang harus mas berikan kepada kamu, Sayang," tanya Faisal.
"Hehehe, ma_maaf Mas. Tasya bersihin ya, tapi jangan hukum Tasya," Tasya hanya meringis ke arah Faisal, tangannya ragu-ragu membersihkan permen karet yang sudah terlanjur melekat dan sepertinya akan sangat susah untuk di bersihkan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾