
🌾🌾🌾🌾🌾
Semua mata tertuju pada sepasang suami-istri yang tengah pulang dari rumah sakit. Bukan karena mereka yang biasa-biasa saja atau karena ingin tau keadaan Faisal, tapi yang membuat mereka semua terperangah karena Faisal yang membopong Tasya.
Bukannya Faisal yang sakit, tapi kenapa malah Tasya yang dibopong dan tidak diizinkan jalan sendiri?
Oma juga mamanya Faisal langsung berjalan mendekati mereka berdua, menyambut karena ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Melihat bagaimana yang dilakukan oleh Faisal tentu juga membuat mereka berdua merasa sangat khawatir dengan keadaan Tasya.
"Loh, Sal! Ini ada apa? Tasya kenapa pakai di gendong seperti ini, dia sakit? Atau kalian jatuh?" Keisha begitu panik.
"Iya, Sal. Ada apa ini?" Oma pun juga sangat penasaran. Tentunya juga dengan khawatir juga yang sangat besar.
"Tasya, apa yang terjadi padamu, kamu sakit? Apa Faisal macem-macem padamu?" ucap Oma. Matanya langsung melihat kearah Faisal yang menggeleng namun dengan wajah yang berbinar.
Karena perlakuan Faisal ini tentu membuat Tasya merasa sangat malu. Dia sudah menolak untuk dibopong tadi tapi Faisal sendiri yang begitu kekeuh karena begitu khawatir.
"Apa sih, Oma. Mana mungkin Faisal macem-macem. Eh iya, Oma benar sih kalau Faisal tidak macem-macem mana mungkin akan terjadi."
Faisal malah cengengesan dengan mengatakan hal itu, wajahnya langsung menoleh kearah Tasya membuat Tasya berasa di antara perasaan malu juga geram.
"Maksudnya?" Kompak Keisha juga sang Oma. Kening mereka berdua sama-sama mengerut dan begitu banyak kerutan, maklum juga kan ya karena usia juga sudah tidak muda.
"Begini, Ma. Faisal..., Faisal akan jadi Abi," Faisal begitu antusias. Wajahnya semakin bersinar setelah berhasil memberitahu hasil yang sangat membahagiakan untuknya juga Tasya. Tentu juga membahagiakan untuk semua keluarga juga.
"Alhamdulillah!" Keisha juga Oma berseru bahagia. Telapak tangan mereka langsung mengusap wajah mereka masing-masing.
Benar-benar kebahagiaan yang bertubi-tubi hari ini. Awalnya adalah kebahagiaan karena pernikahan antara Ilham dan juga Dina tetapi sekarang, bertambah lagi kebahagiaan mereka dengan kehamilan Tasya.
"Kalau begitu bawa masuk istrimu dan biarkan dia istirahat. Ingat loh, Sal. Mulai sekarang kamu harus benar-benar bisa menjaga Tasya dengan baik. Dia tidak boleh kecapean dan juga kamu jangan aneh-aneh, oke," Keisha menegaskan.
"Iya, Ma. Kalau begitu kami masuk dulu," Faisal buru-buru masuk.
Begitu bahagia Keisha juga Oma, mereka terus tersenyum dengan melihat kepergian Faisal yang masih menggendong Tasya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Malam mulai kian larut, udara semakin dingin namun terasa panas bagi pasangan suami istri yang baru saja resmi tadi siang. Di dalam salah satu kamar yang ada di pesantren keduanya terlihat canggung dan masih sama sama diam meskipun mereka duduk dengan bersebelahan.
Wajah mereka sama-sama berpaling dan hanya sesekali akan menoleh untuk melihat satu sama lain, dan ketika mereka bersamaan menoleh dan wajah mereka saling bertemu mereka tersenyum dan tersipu malu.
Meskipun mereka sudah berkali-kali bertemu dan duduk bersebelahan meskipun masih dengan jarak tapi tetap saja hal itu tidak membuat mereka menjadi biasa saja sekarang. Mereka masih saja gugup satu sama lain.
Di atas ranjang, dan duduk saling bersebelahan, juga sama-sama menyandarkan punggung bahkan dengan kaki yang sama-sama sudah terselimut mereka berdua benar-benar masih malu. Mereka bingung apa yang ingin mereka lakukan di malam pertama mereka.
Haruskah malam pertama bagi mereka saat ini akan menjadi malam yang panjang dan sangat indah bagi mereka berdua? Apakah malam ini mereka benar-benar harus menyatu dalam ikatan hati mereka?
"Hem..., Apakah kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Ilham memecah keheningan malam yang benar-benar sangat sepi.
"Ti_ tidak," Dina menjawab dengan tergagap itu pun juga dengan tidak melihat ke arah Ilham. Seakan wajahnya tidak mampu untuk melihat wajah suaminya.
'Ya Allah, apakah ini yang dirasakan oleh oleh semua oleh semua oleh semua oleh semua para pengantin baru di saat pertama?' batin Dina.
Menjelang pernikahan kemarin mereka Dia sangat gugup dan sekarang perasaan itu lebih besar hingga membuatnya dia terus terdiam. Dia sangat bingung ingin berbicara apa, seakan kehilangan ide begitu juga dengan Ilham.
Memulai? Apa yang harus di mulai?
"Ka_kamu sangat cantik," ucap Ilham. Dia kembali gugup untuk memuji istrinya sendiri. Kemarin dia begitu berharap bisa secepatnya bersama dengan Dina, tapi sekarang?
Setelah bersama mereka berdua malah seperti orang kebingungan seperti ini. Sungguh lucu.
"Hem?" Dina menoleh. Memberanikan diri melihat suaminya yang juga sudah melihatnya.
Mata keduanya saling bertemu, saling melihat dan terfokus pada netra hitam yang begitu membulat dengan perasaan yang begitu deg-degan.
Netra yang saling lekat membuat keduanya seakan tidak mempunyai kesadaran. Perlahan wajah mereka saling mendekat.
Semakin dekat dan dekat. Mata Ilham terfokus pada mata lalu beralih ke bibir Dina ketika bibir merah hampir menyatu. Setelah benar-benar menyatu baru Ilham kembali melihat mata Dina yang sekarang sudah beralih tertutup.
Sungguh menggemaskan melihat bagaimana wajah Dina yang menutup mata, pipinya terlihat merah, mungkin dia sangat malu karena ciuman pertama mereka berdua.
Tangan Ilham terangkat, mengusap lembut bibir Dina yang baru saja mendapatkan kecupan kecil. Tidak basah, tapi Ilham hanya ingin menyentuhnya saja.
Merasakan bagaimana lembutnya bibir berwarna merah jambu itu, bibir yang tidak terlihat pucat ataupun hitam meski tidak terdapat polesan apapun.
Bersamaan jari menyentuh bibir Dina membuka mata, kembali mata mereka saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat.
Getaran cinta semakin kuat mereka rasakan. Detakan jantung sepertinya sama-sama saling menyerukan irama mereka masing-masing dan memenuhi malam mereka.
Semakin memerah kedua pipi Dina, terasa semakin panas dengan wajah yang kian menunduk.
Melihat Dina yang menunduk tangan Ilham beralih menyentuh dagunya, perlahan mengangkatnya dan membuat mereka berdua kembali bertatapan.
Begitu ragu Ilham untuk mengatakan, tapi dia tidak akan mendapatkan apapun kalau dia tidak punya keberanian. Benar begitu kan?
"Boleh aku meminta gak ku sekarang?" ucap Ilham begitu lirih. Matanya terus memandangi Dina.
Dina diam, namun otaknya seakan begitu melayang-layang dengan pikiran yang akan dia lakukan. Benarkah dia harus memberikannya malam ini juga?
Bukankah sekarang atau besok sama saja? Sekarang atau besok Dina harus tetap memberikan hak yang memang harus di berikan pada Ilham kan?
Ilham terus menunggu untuk Dina menjawab pertanyaannya, tapi Ilham tidak kunjung mendapatkan jawaban yang jelas. Dina hanya diam dengan senyum kecil juga dengan wajah yang semakin merona.
Diam berarti setuju.
Itulah yang Ilham pikirkan. Perlahan Ilham menyatukan lagi bibir mereka dan Dina kembali menutup mata, menikmati rasa yang perlahan hadir dari sentuhan yang Ilham berikan.
Tangan Ilham menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, perlahan tubuh mereka merosot di kasur hingga benar-benar merebahkan dan juga tertutup dengan selimut.
Malam yang indah dan panjang sungguh terjadi diantara mereka berdua, menikmati malam selayaknya pengantin baru.
Mencangkul, dan bercocok tanam dengan penuh ridho dan juga keikhlasan. Berharap akan ada hasil yang dan tumbuh dengan subur dan berkembang dengan manis. Amin.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....