
🌾🌾🌾🌾🌾
Wajah Faisal yang terlihat begitu pucat membuat Tasya begitu khawatir, setelah melihatnya Tasya langsung berlari menghampirinya. Tentu yang dilakukan oleh Tasya saat ini membuat semua orang melihat ke arahnya karena merasa sangat penasaran, begitu juga dengan Faisal yang langsung menoleh ketika Tasya panggil.
"Mas, apa mas nggak bisa istirahat saja? lihatlah, Mas sangat pucat?!" Tasya begitu khawatir melihat keadaan Faisal, sementara yang di lihat terlihat biasa-biasanya.
"Ayo istirahat," Tasya langsung menarik tangan Faisal dengan cepat, melakukannya sebelum Faisal mengatakan apapun.
"Sya, aku tidak apa-apa," Faisal ingin mengelak tapi Tasya tak menoleh sama sekali.
Semua orang menatap dengan diam, merasa lucu sekaligus juga merasa senang karena melihat kemesraan mereka berdua.
Hal yang Tasya lakukan bukan seperti orang yang begitu posesif, tapi seperti seorang yang begitu takut bercampur khawatir. Semua menggeleng juga di sambung dengan tersenyum ketika Faisal di tarik pergi oleh Faisal.
"Lucunya, kapan aku bisa di perlakukan seperti itu," celetuk Hasan yang begitu berharap. Jelas dia sangat berharap akan bisa secepatnya mengalami hal itu.
"Makanya, cari cewek secepatnya, Mas," ucap seorang di sebelah Hasan dengan bahunya yang menyenggol bahu Hasan.
Senyumnya membuat Hasan terasa tersindir sih, pasalnya dia belum benar-benar yakin dengan wanita yang dekat dengannya sekarang. Dia masih butuh waktu dan benar-benar bisa yakin.
"Besoklah, sekarang mah beliau waktunya," jawab Hasan sewot.
"Jangan sewot begitu, Mas. Lebih baik banyak-banyak berdoa semoga saja besok pas acara pernikahan ada cewek yang nyantol sama Mas Hasan," ucapnya lagi.
"Kira baju apa nyantol begitu saja? hem..." Hasan menggeleng, wajahnya terlihat kesal juga sewot, bercampur menjadi satu.
"Lah, kan siapa tau, Mas."
Tetap saja Hasan menggeleng dengan gurauan dari orang itu yang juga berprofesi seorang ustadz juga.
"Amin," hanya itu yang Hasan katakan, dia langsung melangkah pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
"Hem, ada-ada saja," ustadz itu juga merasa lucu juga dengan kelakuan Hasan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Tasya terus saja menarik Faisal, tidak ada berhenti sama sekali hingga sampai di dalam kamarnya. Dengan cepat Tasya meminta Faisal untuk duduk di atas ranjang bahkan Tasya juga meminta Faisal untuk merebahkan tubuhnya.
Dalam diam Faisal mengikuti apa yang dikatakan oleh Tasya yang terus saja meminta untuk tidur. Ketika melakukan apapun yang diminta oleh Tasya Faisal hanya tersenyum, tentu dia merasa sangat senang karena begitu diperhatikan oleh Tasya, seperti seorang anak yang tengah dimanjakan oleh ibunya sendiri siapa yang tidak akan bahagia?
"Mas Faisal tidak boleh ke mana-mana dan harus tetap di sini saja, Mas Faisal harus tidur dan tidak boleh bergerak sama sekali," ucap Tasya dengan begitu menekankan.
Tangannya bergerak mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Faisal hingga sampai di atas dadanya, Tasya ikut duduk di sebelahnya dengan sesekali membenahi selimutnya hingga benar-benar menutupi tubuh Faisal, bahkan Tasya juga memeriksa selimut tepat di kakinya.
Meskipun dia terlihat begitu pucat namun dia sama sekali tidak merasa pusing atau merasakan sakit di bagian manapun.
"Tidak, Mas harus tetap istirahat," tangan Tasya terangkat, dan jari telunjuknya berdiri bahkan juga bergerak kanan kiri seolah menjelaskan bahwa Faisal benar-benar tidak boleh bergerak sama sekali, bahkan untuk banyak bicara pun tidak.
Tasya terlihat begitu bawel hari ini, melihat Faisal yang seperti sekarang ini membuatnya dia begitu khawatir, bahkan sangat khawatir. Bagi Tasya hanya Faisal yang dia punya jika Faisal sakit atau mengalami hal yang tidak diinginkan lalu bagaimana dengan nasibnya? Itulah yang Tasya pikirkan saat ini.
Biasanya laki-laki lah yang akan sensitif dalam setiap keadaan apapun, tapi tidak dengan pasangan satu ini. Memang Faisal terkadang juga khawatir tetapi kali ini kekhawatiran yang paling besar ada pada diri Tasya mengenai keadaan Faisal.
"Sebentar, Mas di sini dulu. Tasya akan buatkan sup supaya mas lebih baik."
"Ingat, jangan kemana-mana," sebelum benar-benar beranjak Tasya begitu menegaskan supaya Faisal tetap berada di sana dan tidak pergi kemanapun. Dan setelah Faisal mengangguk barulah Tasya benar-benar pergi keluar dari kamar untuk segera ke dapur untuk membuatkan makanan hangat untuk Faisal.
Setelah kepergian Tasya Faisal beralih duduk, antara bahagia juga merasa lucu melihat betapa menggemaskan Tasya ketika khawatir kepadanya. Faisal tersenyum melihat pintu yang ditutup rapat dari luar, sepertinya Tasya benar-benar tidak mengizinkan Faisal untuk keluar dari kamar itu.
"Seharusnya aku yang posesif seperti ini, tetapi kenapa malah Tasya? Bukankah ini sangat terbalik?" gumam Faisal merasa begitu lucu dengan tingkah laku Tasya.
Sementara di dalam dapur Tasya langsung sibuk dengan pekerjaannya, apa yang menjadi niat awal itulah yang dia kerjakan saat ini.
Bergegas dia membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang akan diolah untuk membuat sup hangat yang akan diberikan kepada Faisal. Begitu buru-buru Tasya melakukan karena dia tidak ingin kalau Faisal menunggu terlalu lama dan akan merasa bosan.
"Aku harus bisa cepat mengerjakan semuanya, supnya harus cepat makan kalau tidak nanti Mas Faisal akan keburu bosan di dalam kamar, atau kalau tidak dia akan tidur dan tidak akan jadi memakan supnya," gumam Tasya.
Begitu lincah Tasya melakukan semuanya dari awal, meski sebenarnya dia belum benar-benar bisa memasak tetapi dia berusaha untuk bisa cepat menyelesaikannya.
"Aww!" pekik Tasya. karena saking buru-burunya tangannya sedikit terkena pisau, hanya luka kecil saja tapi karena begitu cepat membuat Tasya memekik karena begitu terkejut.
Namun itu tidak lama karena Tasya kembali serius dengan pekerjaannya setelah memastikan tidak ada darah yang keluar dari tangannya.
Tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada dirinya, yang terpenting Tasya bisa secepatnya menyelesaikan pekerjaan itu dan secepatnya menyuguhkan masakannya kepada Faisal. Hanya luka kecil tidak akan menjadi masalah dia bisa menahannya karena rasanya juga tidak terlalu sakit.
"Cepat Tasya, cepat," Tasya bergerak ke sana kemari dengan begitu gesit, seperti seorang ahli Tasya semakin cekatan saja memotong satu persatu dari sayuran, membuat bumbu, dan memasukkan satu persatu semua ke dalam panci yang dia gunakan untuk memasak.
Kadang tangannya terkena minyak karena dia begitu buru-buru memasukkan bumbu, kadang juga tangannya terkena air panas dan kadang juga rasa panas itu begitu pedih mengenai wajahnya tetapi dia abaikan begitu saja, dia tidak peduli dengan dirinya sendiri yang dia pikirkan hanyalah keadaan Faisal sekarang.
Hingga akhirnya masakan yang dia buat matang juga setelah melalui usahanya yang panjang. Dia begitu bahagia karena akhirnya dia bisa membawakan sup untuk Faisal, bergegas Tasya membawanya ke dalam kamar, dia juga siap untuk menyuapi Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...