Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Berbagi Apapun



🌾🌾🌾🌾🌾


Krekk...


"Assalamualaikum..."


Mata Tasya langsung membulat ketika ada orang yang masuk. Dan orang yang masuk itu adalah Faisal sang suami yang dari tadi dia acuhkan.


"Wa_wa'alaikumsalam," mata Tasya semakin membulat tapi dia juga sangat gugup dan bertambah gugup saat Faisal dengan sengaja menutup pintunya rapat.


"K_kok, pintunya di tutup? kan di sini hanya ada kita berdua?" Tasya benar-benar sangat gugup sekarang apalagi melihat Faisal yang semakin mendekat.


Faisal tersenyum melihat Tasya yang sudah kembali cerewet lagi. Dia senang, bahkan sangat senang. Dia pikir Tasya akan terus marah dan mengacuhkannya tapi ternyata tidak.


"Kenapa, bukankah pengantin baru yang akan melakukan ritual harus menutup pintunya? Atau kamu mau ada orang yang masuk dan melihat apa yang akan kita lakukan?"


"Hah!" mata Tasya semakin membulat tapi sekarang bukan hanya gugup saja tapi tubuhnya juga gemetar.


Ritual pengantin baru?


Emangnya apa yang akan di lakukan oleh pengantin baru, dan... biasanya akan di lakukan di malam hari kenapa Faisal mengatakannya di siang bolong seperti sekarang ini?


Tubuh Tasya terasa panas dingin sekarang. Kuku-kukunya juga putih memucat saking gugupnya.


Dia memang sudah biasa menghadapi laki-laki model apapun tapi kan dengan beradu otot, tapi ini? Tasya belum pernah berhadapan dengan laki-laki di satu ruang yang sama, tertutup dan hanya berdua saja. Peraduan seperti apa yang akan terjadi.


Meski dia tak pandai-pandai amat tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai tidak tau apa yang biasa di lakukan oleh pengantin baru.


"Kenapa, apakah kamu takut aku akan memakan mu?" Faisal duduk di sebelah Tasya dan saat itu juga Tasya langsung mundur dan menghindar.


"Ti_tidak, siapa juga yang takut sama kamu. A_aku... aku hanya sangat lelah," Tasya semakin gugup saat Faisal semakin mendekat.


Satu senti Faisal mendekat satu senti juga Tasya menjauh, sepertinya Tasya memang takut dengan Faisal. Dia merasa ini terlalu cepat kan?


Tasya terus mundur hingga akhirnya dia hampir terjatuh. Untung Saja Faisal langsung menangkap pinggangnya dan menariknya supaya tidak terjatuh. Kalau tidak mungkin Tasya akan mengalami patah tulang ekornya.


"Sepertinya kamu lebih suka jatuh di lantai daripada jatuh di tubuh suamimu sendiri," ucap Faisal.


Tidak Tasya sangka kalau ternyata otak Faisal sedikit eror juga. Dia pikir dia akan selalu kalem dan tidak akan bisa merayu atau mengatakan kata-kata manis pada perempuan tapi sepertinya Tasya salah lagi menilai Faisal.


"Ti_tidak. A_aku," Tasya tidak melanjutkan kata-katanya dia terburu-buru menutup mata saat wajah Faisal semakin dekat.


Faisal tersenyum melihat pemandangan yang sangat indah di hadapannya ini


Sekarang dia bebas untuk melihat Tasya. Entah sampai berapa lama pun tidak akan menjadi masalah, mereka sudah halal.


Hembusan dari nafas Faisal benar-benar telah menyapa wajahnya sekarang, membuat Tasya merasakan sensasi yang luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Tubuhnya bergetar, jantungnya berdetak kencang dan darahnya terus berdesir panas. Sungguh, Tasya tidak tau itu perasaan apa.


Perasaan yang sangat aneh, perasaan yang mampu menumbuhkan sejuta rasa yang belum pernah ada sebelumnya.


Bukan hanya hembusan nafas saja yang menyapa tapi ternyata Faisal juga meniup wajah Tasya dengan sangat pelan, hal itu membuat Tasya bertambah merinding sekarang. Tubuhnya seakan meremang dalam rasa aneh.


'Apakah mas Faisal akan mengambilnya sekarang? tapi aku belum siap. Apakah aku akan berdosa jika menolaknya?' batin Tasya mulai berperang.


Tangan satu Faisal terangkat, melihat keringat yang keluar di kening Tasya itu sangat jelas menandakan kalau Tasya sangat gugup sekaligus takut.


Di usapnya dengan pelan.


"Kenapa, apakah kamu pikir aku akan melakukannya sekarang dan akan memaksamu? tidak, Sya. Meski aku berhak memintanya tapi aku tidak akan melakukannya selama kamu belum siap dan kamu tidak ridho."


Seolah tau apa yang menjadi kegelisahan Tasya dan Faisal langsung menjelaskannya.


"Meski aku tidak memintanya sekarang izinkan aku untuk selalu melakukan bentuk dari kasih sayang ku," Faisal mendekat dan kini bibirnya mengarah ke kening Tasya.


Tadi setelah pernikahan Faisal belum melakukannya karena Tasya masih marah jadi Faisal tidak masalah kan kalau melakukannya sekarang?


Terlihat sebuah doa keluar dari bibir Faisal, entah doa apa yang dia panjatkan tapi setelahnya Faisal meniupkan ke wajah Tasya.


Cup...


Itukah wujud kasih sayang Faisal yang pertama untuk Tasya? mengecup keningnya setelah memberikan doa terbaik untuk Tasya.


Perasaan aneh semakin menjalar dalam tubuh Tasya ketika bibir hangat milik Faisal itu menyentuh keningnya. Jantungnya semakin bekerja begitu cepat dengan mata Tasya yang kembali terpejam.


Bukan hanya berhenti di kening saja, tapi bibir Faisal merambat ke kedua mata Tasya. Mata yang akan selalu menjadi permata nya itu juga mendapat giliran.


Begitu lembut Faisal melakukannya, benar jika ini yang di namakan bentuk kasih sayang karena yang di lakukan penuh dengan kelembutan.


Tak berhenti di situ saja, dan yang terakhir adalah bibir Tasya yang masih tertempel lipstik natural. Hanya sebatas mengecup saja tidak lebih tapi mampu membuat Tasya seakan berhenti untuk bernafas.


Bibir hangatnya juga bibir hangat milik Faisal itu sudah menyatu dalam beberapa detik dan setelahnya Faisal melepaskannya.


"Terima kasih," ucap Faisal. Padahal dia pikir akan mendapatkan penolakan dari Tasya tapi ternyata tidak. Alhamdulillah.


Mata Tasya terbuka dan pipinya sudah sangat panas, mungkin sudah sangat merah sekarang seperti tomat matang.


'Astaga, ciuman pertama ku sudah di ambil olehnya. Tapi dia kan suamiku, nggak masalah dong,' batin Tasya.


Dalam hati dia mengakui Faisal sebagai suaminya tapi nyatanya di luar dia masih saja terus acuh dan berlagak dingin dan sok menolak.


"Terima kasih," ucap Faisal lagi.


"Hem," hanya itu yang Tasya katakan itupun juga tidak jelas.


Tak masalah, yang terpenting Tasya tidak menolaknya itu sudah lebih dari cukup.


Tasya menunduk dengan membatu. Seakan tak sanggup untuk bergerak juga untuk memperlihatkan wajahnya pada Faisal.


Faisal berdiri, Tasya pikir dia akan pergi meninggalkannya tapi ternyata dia menuju ke arah lemari.


"Aku belum menyiapkan baju untuk mu. Jadi kamu pakai bajuku dulu nggak apa-apa kan dan juga sarung," ucap Faisal.


Faisal masih memilah-milah baju yang bisa pantas Tasya pakai. Tangannya mengambil sebuah hem berwarna putih yang sudah sesak untuk Faisal juga sarung berwarna putih kotak-kotak.


"Kamu pakailah ini dulu, nanti setelah kamu istirahat kita belanja untuk kebutuhan mu. Kamu tidak usah malu pakai sarung, karena santriwati di sini juga selalu pakai sarung." ucap Faisal.


Bukan hanya malu saja sih bagi Tasya, tapi dia tidak terbiasa. Bagaimana kalau tiba-tiba lepas, kan akan sangat memalukan.


Bukan itu saja yang Tasya pikirkan, tapi? apakah Tasya akan memakai pakaian Faisal? apakah mereka akan saling berbagi apapun?


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....