
🌾🌾🌾🌾🌾
Kata orang kalau jodoh gak akan lari kemana, dan sejauh atau sesusah apapun keadaan pasti akan di pertemukan. Itulah yang kini di alami oleh Ilham juga Dina.
Bukan kesengajaan mereka bertemu lagi. Berawal dari Ilham yang kembali melalukan kegiatan rutin untuk berbagi rezeki tanpa di sengaja Ilham melewati rumah kontrakan Dina.
Gadis itu tengah berbicara begitu banyak dan memohon kepada sang ibu pemilik kontrakan untuk tidak mengusirnya.
Sudah dua bulan Dina nunggak nggak bayar kontrakan, alasannya akan selalu sama ketika di tagih, belum ada uang. Dina mengatakan belum gajian padahal uang gajinya sudah dia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Ayo bayar sekarang! atau kamu harus pergi dari sini sekarang juga. Masih banyak orang yang mau menyewa tempat ini dan dengan harga yang lebih baik. Bukan seperti kamu, udah bayarnya selalu molor, murah lagi!"
Begitu kesal ibu kontrakan tersebut matanya begitu melotot tak suka ke arah Dina.
Gadis itu tetap saja tidak menangis, dia hanya terus bicara untuk membujuk bu kost. Meski sudah tak yakin tapi Dina tetap usahakan untuk bisa membujuk dan bisa tetap tinggal di sana. Kalau tidak di sana di mana lagi?
"Saya mohon bu! beri saya waktu satu minggu lagi. Minggu depan saya gajian kok, Bu. Sungguh, saya tidak bohong," ucap Dina yang terus berusaha untuk bernegosiasi pada bu kost.
"Halah, seminggu lagi seminggu lagi! kemarin juga gitu bicaranya tapi apa sekarang, kamu sama sekali tidak bisa membayar kan!?" mana mungkin bu kost akan mau tertipu untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup kemarin saja tidak untuk sekarang.
"Beneran, Bu! saya akan membayarnya satu minggu lagi. Tapi saya mohon, izinkan saya tetap tinggal di sini. Ya ya ya!" gak akan menyerah Dina untuk mendapatkan izin bu kost dan tetap tinggal di sana. Kala tidak di sana Dina akan pergi ke mana tidak mungkin kan dia akan tinggal di bawa jembatan?
"Assalamu'alaikum, ini ada apa ya?"
"Wa'alaikumsalam!" jawab bu kost dengan sangat cepat dan terdengar begitu angkuh dan tak rela menjawab.
"Wa_Wa'alaikumsalam, Mas Ilham?" Dina menjawab dengan bingung kenapa bisa Ilham sampai di sana ada urusan apa coba.
"Mas Ilham ada apa ke sini?" jelas Dina sangat penasaran karena kedatangan Ilham yang terkesan tiba-tiba dan juga jelas tidak di rencana sebelumnya.
"Saya hanya kebetulan lewat saja," jawab Ilham sangat jujur. Dia memang kebetulan saja, dia tidak sendiri sih, ada beberapa pemuda yang juga bersamanya. Biasanya akan ada Faisal juga tapi kali ini dia tidak ikut.
"Eh, kalau mau pacaran jangan di sini! Heh, kamu! lebih baik kamu bawa pergi pacar kamu dari sini. Atau kalau tidak kamu bayarin tunggakannya," ucap bu kost.
Pacaran?
Sejak kapan mereka pacaran, bu kost benar-benar sembarangan kalau bicara. Pertemuan mereka kali ini saja tidak di sengaja dan Ilham juga tidak tau kalau di sanalah kontrakan Dina. Dia hanya sedang blusukan saja untuk menyalurkan rezeki untuk orang yang lebih membutuhkan.
"Maaf, Bu. Tapi kami..."
"Udah ya Mas ya. Sekarang ajak pergi nih ceweknya. Saya sudah tidak mau lihat di alami di sini. Dan ya, ini barang-barangnya," dengan kasar bu kost mendorong tubuh Dina hingga hampir menubruk Ilham dan juga di susul dengan tas ransel berwarna hitam yang penuh dengan barang-barang Dina namun belum tertutup.
"Ya! saya akan pergi dari sini, nggak usah pakai dorong-dorong segala bisa kan? Saya juga sudah nggak betah tinggal di sini dengan bu kost yang cerewetnya na'udubillah!" Dina malah nyinyir menerima perkataan bu kostnya itu.
Dina tak berpikir akan kemana dia sekarang yang terpenting dia keluar dari rumah itu. Rumah yang seharusnya memberikan ketenangan tapi bu kostnya itu selalu saja membuat kegaduhan.
Sebenarnya Dina adalah anak yang rajin bayar tapi karena dia pernah sekali di tuding tidak membayar dan dia harus membayar dua kali dalam satu bulan jadi beginilah akhirnya. Molor.
"Ya, saya akan pergi!" dengan ranselnya Dina melenggang pergi.
Sementara Ilham, dia terlihat bingung dia berniat mau menolong untuk membayar tapi Dina sudah kadung seperti itu jadi apa yang harus dia lakukan?
Langkah kaki Dina dengan kuat membawa dia benar-benar keluar dan menjauh dari tempat itu. Dia sudah bertekad meski dia sendiri tidak tau mau kemana dia pergi. Dia juga tak cukup uang untuk mencari kontrakan lagi.
"Hem, sekarang kamu mau kemana?" Dina menoleh ternyata Ilham juga mengikutinya.
"Kenapa mas Ilham mengikuti ku?" tanya Dina. Suaranya masih terdengar ada kekesalan.
"Saya..., Hem sekarang jamu mau kemana?" tanya Ilham lagi. Tak ingin dia menjelaskan apa yang menjadi tujuannya dia terus mengejar Dina.
"Nggak tau," kedua bahu Dina terangkat matanya menerawang arah lain yang mungkin akan dia tuju.
"Saya bisa membantumu mencari kontrakan baru. Hem, bagaimana?" tawaran Ilham sepertinya tidak di sambut baik oleh Dina, buktinya dia langsung menggeleng bertanda dia tidak setuju.
"Tidak usah, saya tidak mau merepotkan. Saya juga tidak mau berhutang budi," jawab Dina.
Nih cewek cukup membingungkan. Kadang dia terlihat genit, kadang terlihat kuat dan kadang terlihat memelas penuh ini di kasihani.
"Hem, atau begini saja. Kamu ikut dengan ku..."
"Tidak tidak! kenapa ikut dengan mu. Aku bukan cewek seperti itu ya, ali memang miskin tapi aku masih punya harga diri," ocehnya menyela perkataan Ilham yang belum selesai.
Ajakan Ilham di salah artikan oleh Dina padahal Ilham hanya ingin membantu saja dan mengajaknya tinggal di panti yang sudah di buka oleh Faisal. Tapi gadis itu sudah keburu salah sangka.
"Kamu salah sangka, aku hanya ingin mengajakmu tinggal di panti sementara. Kalau kamu sudah punya uang dan bisa kembali ngontrak kamu bisa keluar dari sana. Atau kamu mau tinggal di sana terus juga tidak apa-apa," jawab Ilham.
Kini Dina mengangguk dia mengerti dengan bibir yang meringis dan aura wajahnya sudah berubah lain.
"Hehehe, maaf. Saya salah sangka pada mas Ilham. Hehehe, maaf ya." ucap Dina.
Saking merasa bersalahnya Dina langsung saja menarik tangan Ilham dan terus mengecupnya. Jelas itu membuat Ilham langsung membulatkan matanya.
"Ehh, maaf maaf!" Perlahan Ilham melepaskan tangannya dan ingin mundur dari Dina dan gadis itu hanya meringis lagi.
"Mas Ilham ini baik banget deh. Udah tampan, baik, suka menolong lagi. Hem, bagaimana kalau jadi pacar Dina beneran, Mas?"
Mata Ilham semakin membulat. Buset... nih cewek agresif banget dan malah menembak Ilham lebih dulu untuk menjadi pacarnya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....