Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Apakah Sakit?



🌾🌾🌾🌾🌾


Seperti biasanya, Faisal hanya akan tersenyum ketika masuk dan melihat istrinya yang sudah tidur. Tatapannya tercenung sejenak, begitu juga langkahnya yang terpaku sesaat di depan pintu.


Perlahan menghela nafas, meski semua yang terjadi tak seindah dari cerita-cerita yang pernah dia dengar tapi dia hanya akan tersenyum. Mungkin inilah proses cintanya.


Faisal memaklumi, Tasya pasti butuh waktu dan dia akan menunggu sampai waktu itu tiba. Entah sampai kapan tapi Faisal yakin akan datang.


Faisal melangkah, menaruh semua yang ada di tangannya, melepaskan koko dan hanya menyisakan kaus putih saja. Faisal kembali melangkah dan menuju ke arah ranjang dia juga ingin istirahat karena memang sudah malam.


leher putih seputih salju dan selembut kapas di hadapannya pastilah sangat menggoda iman, ingin menyentuhnya tapi tangan tak sampai. Apakah Faisal akan egois jika menyentuhnya tanpa izin dari sang empunya?


Sekuat apapun Faisal dia hanya pria biasa, dia pria normal yang pasti akan tergoda dan di balik yang lain akan terbangun. Apalagi melihat perempuan di hadapannya adalah perempuan yang halal untuknya, tidak salah kan?


"Astaghfirullah hal adzim, sabar Sal. Semua pasti akan indah pada waktunya," gumamnya. Helaan nafas panjang begitu jelas keluar dari hidungnya dengan perlahan dia yang duduk di sebelah Tasya.


Semakin melihat Tasya maka semakin besar keinginan untuk menyentuhnya, jiwa lelakinya pastilah terus meronta-ronta dan ingin terpuaskan tapi dia tidak mau di bilang egois dan hanya memikirkan diri sendiri.


Susah menahan semua keinginan yang muncul tapi Faisal terus berusaha, dia akan terus melakukan sampai Tasya benar-benar siap dan dia sendiri yang memberikannya.


"Selamat malam istriku," tangan Faisal mengelus kening Tasya setelah dia duduk di sebelah Tasya yang berbaring.


Mata Faisal seketika membulat, ada yang aneh pada istrinya dia menggigil dengan keringat dingin yang keluar. Matanya terpejam tapi bibirnya terus bergerak. Apakah Tasya sakit?


"Sya, Sya, kamu sakit? Sya," Faisal ingin membangunkan Tasya yang sebenarnya terus berpura-pura dia tidak mau sampai membuka mata apalagi sampai Faisal melihat dirinya yang berpakaian malam bahkan Tasya juga sangat erat memegangi selimutnya.


Tasya tetap tidak bangun membuat Faisal semakin panik dia kembali memeriksa kening Tasya tapi tidak panas lalu kenapa bisa keringat terus muncul? bukankah ada yang aneh.


"Sya, kamu baik-baik saja kan?" Tasya juga tidak membuka matanya semakin membuat Faisal panik kan.


Faisal kembali melompat turun dari ranjang mengambil jilbab Tasya yang ada di kursi dan ingin segera memakaikannya.


"Kita harus ke rumah sakit," katanya. Tangannya sudah bergerak untuk memakaikan hijab Tasya.


Sangat susah memang memakaikan hijab di saat orangnya tertidur tapi Faisal terus mencoba. Pada akhirnya Faisal langsung menyibak selimut dengan kasar karena ingin mendudukkan Tasya.


"Akk!" Tasya menjerit histeris setelah selimut itu berhasil terlempar dan menjauh dari Tasya. Matanya membulat dengan kedua tangan menutup bagian dadanya yang terlihat lebih menonjol.


'Sial, aku ketahuan,' umpat Tasya.


Sejenak mata keduanya saling bersi tatap dengan sama-sama saling terkejut. Mata Faisal menjalar melihat keadaan Tasya, semakin turun dan dia bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh istrinya itu yang sangat menggoda iman.


Baju tidur yang terlihat jatuh itu begitu mencetak jelas tubuhnya, semuanya tak terlewat sangat jelas. Bahkan kaki jenjang Tasya yang putih kini benar-benar terlihat.


Susah payah Faisal menelan salivanya sendiri. Kenapa Tasya berpakaian seperti ini, apakah dia memang berniat ingin memberikan haknya?


Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing dalam perasaan yang begitu campur aduk. Darah keduanya seakan semakin panas.


Haruskah Faisal berteriak bahagia sekarang? haruskah dia langsung menerkam Tasya dan melakukannya?


Apakah keyakinannya tidak salah, apakah Tasya benar-benar sudah siap dan akan memberikan haknya dengan dia yang seperti ini?


"Sya, ini?"


"Se_sebenarnya a_aku...? a_aku merasa gerah makanya pakai ini. Nggak apa-apa kan?" ucap Tasya dengan begitu kikuk.


"Oh, aku pikir..." kecewa? sedikit. Faisal sudah berpikir kalau dia akan mendapatkan apa yang sudah seharusnya. Dia pikir Tasya seperti ini karena khusus di lakukan untuknya tapi ternyata tidak.


"Kamu tidak sakit kan?" Faisal masih bertanya tapi kini suaranya sudah berbeda, bukan penuh khawatir seperti tadi tapi terdengar lebih dingin. Apakah Faisal marah? bukan, dia hanya kecewa.


"Sekarang tidurlah," kini Faisal tau kalau ternyata Tasya hanya berpura-pura tidur lagi dan apa yang terjadi karena dia merasa takut. Tasya takut padanya bagaimana mungkin dia akan meminta hak nya.


Tak mengatakan apa-apa lagi Faisal langsung masuk ke kamar mandi tentu dia ingin menidurkan sesuatu yang sudah bangun.


"Apakah mas Faisal marah karena aku yang berpakaian seperti ini?" gumam Tasya.


Tasya masih saja bergelut dalam pikirannya dia sama sekali tidak beranjak dan malah kembali merebahkan tubuhnya dan kembali menyelimuti dirinya.


Tak berapa lama Faisal kembali keluar, dia sudah lebih segar dan rambutnya bahkan juga basah.


Memang tidak mengatakan apapun Faisal saat ini, dia diam dan kembali melangkah mendekati ranjang dan tidur membelakangi Tasya. Dia tak ingin ada yang terbangun lagi jika melihat istrinya.


"Mas, mas marah?" Tasya mulai gelisah karena Faisal terus diam. Bahkan dia membelakanginya.


"Mas, mas marah karena apa yang aku pakai ya? Mas," Tasya semakin gelisah.


"Tidurlah, Sya. Jangan sampai besok kesiangan untuk shubuh," jawab Faisal namun tetap tidak melihat ke arah Tasya.


"Mas, apa mas benar-benar tidak memaafkan ku? Aku janji tidak akan memakainya lagi kalau mas tidak suka. Tapi maafkan Tasya," ucapnya.


Bukan karena bajunya yang membuat Faisal marah. Hanya saja Tasya memakainya di saat yang tidak tepat.


"Tidur, Sya." ucap Faisal lagi.


"Nggak mau, aku nggak mau tidur kalau mas nggak ngadep sini. Mas juga belum doain Tasya, bagaimana mungkin Tasya bisa tidur. Mas," Tasya merengek kali ini.


'Astaghfirullah hal adzim, apa yang aku lakukan,' batin Faisal menyesal.


Faisal beralih duduk dia juga menghadap ke arah Tasya, namun sejenak matanya terpejam tadi dan benar-benar menoleh ke arah Tasya setelahnya.


"Sekarang tidurlah," pinta Faisal.


"Apakah aku harus ganti baju dulu?" tanyanya.


"Hufff..., tidak usah, tidurlah."


Tasya menurut dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sesuai permintaan Faisal. Tasya begitu nurut dan takut pada Faisal entah kenapa dia sendiri juga tidak tau.


Sesuai keinginan Tasya Faisal langsung berdoa dan dia tiupkan di kening Tasya Faisal juga ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Tasya dengan menghadap ke arahnya.


Bukannya langsung tidur tapi keduanya malah tidak ngantuk sama sekali.


"Mas, mas menginginkan Tasya, kenapa mas tidak memaksa saat Tasya tidak memberikannya?"


"Aku bisa saja memaksa mu, Sya. Tapi aku tak mau kamu membenciku. Aku lebih baik bertahan sampai kamu memberikannya secara ridho daripada aku paksa tapi kamu akan pergi dan membenciku. Aku bisa menahannya sampai kapanpun asal kamu tetap selalu bersamaku, tapi aku tidak akan mampu jika kamu pergi dari ku, Sya."


Tasya tertegun dengan jawaban Faisal, benarkah itu yang ada di hati Faisal, apakah dia jujur? Tapi tidak ada kebohongan di matanya.


"Ta_tapi aku takut," jelas gadis manapun akan takut saat ada di pengalaman pertamanya.


"Tidurlah," ucap Faisal.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....