
🌾🌾🌾🌾🌾
Bukan hanya sekitar pesantren saja Faisal mencari keberadaan Tasya, tapi dia sampai ke tempat anak-anak dan juga akan ke pasar.
Mungkin tadi pas Faisal datang ke tempat anak-anak Tasya belum datang jadi mereka tidak bertemu, dan setelah di tempat anak-anak tidak ada Faisal langsung bergegas ke pasar.
Faisal sangat berharap akan menemukan Tasya di sana. Kalau tidak ada entah kemana lagi dia akan mencari istrinya yang terus suka keluyuran itu.
Seandainya saja Tasya izin terlebih dulu ketika akan pergi pastilah Faisal tidak akan se_bingung seperti sekarang ini tapi Tasya sama sekali tidak mengatakan padanya akan pergi ke mana, bahkan seketika izin pun juga tidak.
Dengan mobilnya Faisal datang ke pasar, dia hanya ingin mencari Tasya, menemukannya dan mengajaknya pulang.
Sampailah Faisal di pasar dia memarkirkan mobil dengan pelan di depan pasar dan cepat bergegas masuk.
"Semoga aku bisa menemukannya," gumam Faisal.
Waktunya yang seharusnya dia gunakan untuk mengajar anak-anak lagi kini malah untuk mencari Tasya, bukan itu saja, ada pekerjaan-pekerjaan lain yang jadi terbengkalai karena mencari Tasya.
Tasya memang sudah besar, dia juga bisa menjaga diri dengan baik. Tapi bukan hanya itu yang Faisal pikirkan.
Rasa takut dan rasa khawatir sangat mendominasi hati Faisal karena beberapa kejadian yang membuat Tasya babak belur. Dia tidak ingin Tasya mengalami hal yang seperti itu lagi.
Faisal terus berkeliling pasar, matanya terus tolah-toleh dengan harapan akan bisa melihat Tasya. Tapi sejauh ini masih nihil, belum ada tanda-tanda keberadaan Tasya.
"Dia di mana?" Faisal menghentikan langkah sejenak setelah kakinya sudah mulai pegal. Sudah yang kedua kalinya dia sampai di tempat itu tapi belum juga melihat Tasya.
"Mau beli apa mas?" tanya salah satu pedagang. Mengira Faisal datang untuk membeli sesuatu dan dia bingung atau mungkin tengah kelupaan, pikir ibu-ibu pedagang.
"Maaf, Bu. Saya tidak mau beli apa-apa saya hanya sedang mencari seseorang. Hem... apakah ibu mengenal Tasya? apakah dia sempat datang ke sini hari ini?" tanya Faisal.
"Oh, Neng Tasya. Tadi dia datang ke sini mas tapi sekarang sudah pergi. Dia hanya datang untuk memastikan keamanan pasar, Mas."
Niat kedatangan Tasya ke pasar memang baik, bahkan Faisal menyukai niat baik Tasya tapi dia tidak menyukai caranya yang pergi diam-diam tanpa pamit.
Jika dia pamit pastilah Faisal akan mengizinkan, Faisal tidak se_egois itu dan akan terus mengurung Tasya di dalam kamar saja meski dia sudah menjadi istrinya. Tasya punya hak-hak untuk itu. Dia bisa pergi kemanapun tapi Faisal hanya menginginkan dengan cara yang benar.
"Oh, begitu ya, Bu. Terima kasih bu. Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum," Faisal pamit.
Setidaknya Faisal tau kalau Tasya sempat datang ke pasar. Tapi pertanyaannya sekarang dia ada di mana? Di tempat anak-anak tidak ada dan di pasar juga sudah pergi, Faisal harus mencari kemana lagi?
Faisal begitu bingung, dia terus berpikir akan kemana mencari keberadaan Tasya. Hampir ashar Faisal terus mencari keberadaan Tasya di pasar, dia terus berputar-putar meski sudah di katakan kalau Tasya sudah pergi. Bahkan Faisal juga datang ke tempat yang dulu menjadi tempat Tasya tinggal.
Faisal bergegas ke mobil, suara adzan sudah dia dengar dan dia harus segera menjalankan kewajiban. Dia ada tugas mengajar dan sekarang tak bisa dia tinggalkan lagi karena untuk sekarang tak ada yang bisa menggantikannya.
"Ya Allah, aku serahkan Tasya kepadamu. Bawalah dia pulang ke rumah dengan keadaan yang baik-baik saja," ucap Faisal penuh harap.
Bugh....
Baru saja Faisal hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba ada orang yang memukulnya dengan sangat keras hingga membuat Faisal terhuyung dan hampir terjatuh, untung Faisal cepat berpegangan mobilnya kalau tidak mungkin dia sudah tersungkur.
Faisal yang tidak dalam keadaan siap pastilah akan mudah untuk di serang, dia juga tidak menyangka kalau akan ada orang yang tiba-tiba menyerangnya seperti ini, apa maksud? Faisal merasa tidak membuat masalah pada siapapun.
Dengan memegangi pipinya yang sudah memerah juga mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek Faisal mengangkat wajahnya, berdiri dengan tegak dan melihat siapa orang yang telah memukulnya.
Ada dua orang yang sekarang ada di hadapannya, orang yang sama ketika dia datang ke rumah Tasya kemarin saat ingin melamar Tasya pada ayahnya. Apakah dia suruhan dari orang yang menginginkan Tasya kemarin, si tua itu?
"Katakan! dimana perempuan itu!" kembali suaranya keluar dan semakin melengking tinggi.
Faisal menyungging sinis, dia adalah istrinya dan dia akan selalu melindunginya. Meski sekarang istrinya entah di mana tapi Faisal tidak akan mengatakannya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa mengatakannya pada anda," jawab Faisal. Tentu dia akan merahasiakan tempat keberadaan Tasya.
"Bedebah, katakan atau mau mau mati sekarang juga!" ancamnya. Matanya begitu nyalang penuh dengan amarah seolah ingin menusuk Faisal dengan kilatan matanya yang begitu tajam.
"Hidup dan mati adalah kehendak Allah, Tuan. Bukan kehendak kalian," jawab Faisal dengan begitu berani. Tak ada rasa takut sama sekali di dalam diri Faisal karena ketakutan di hatinya hanya akan selalu kepada Allah saja, bukan manusia atau ciptaan yang lainnya.
"Kurang ajar! bugh..." sekali lagi orang itu bergerak cepat dan memberikan pukulan pada Faisal dan lagi-lagi mengenainya dan membuat luka baru.
"Katakan atau jamu mau mati? katakan!" suaranya benar-benar tak bersahabat.
Bukan hanya satu orang di antara mereka saja yang mendekat tapi juga keduanya sekaligus. Mereka begitu ngotot dengan amarah yang besar dan ingin memberikan pelajaran pada Faisal yang sama sekali tak kenal rasa takut.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tau," jawab Faisal jujur untuk saat ini karena Faisal memang tidak tau di mana keberadaan Tasya sekarang.
"Jangan basa-basi, katakan cepat!" keduanya mengepung Faisal yang ada di depan mobil.
Faisal tetap tak mengatakan dan itu memantik kemarahan pada mereka berdua.
Dengan gerakan cepat mereka langsung bergerak untuk memukul Faisal lagi tapi kali ini Faisal bisa menghindar.
Berbekal dari dia yang biasa melihat latihan kedua abangnya dia bisa terus menghindar. Tidak belajar secara langsung saja Faisal tetap bisa menghindar dari serangan juga bisa menghalaunya apalagi kalau Faisal benar-benar mempelajarinya. Bahkan Faisal juga bisa melawan hingga pukulan pun mereka berdua dapat dari Faisal.
Tendangan terakhir dari Faisal ternyata mampu membuat mereka berdua jatuh dengan bergantian, kaki Faisal benar-benar kuat ternyata.
Wiu wiu wiu......
Bunyi sirene dari mobil polisi langsung membuat keduanya beranjak dengan cepat dan bergegas pergi. Mereka berdua lari tunggang langgang dari tempat itu karena tidak mau sampai tertangkap polisi.
Faisal mengamati keduanya yang terus berlari dan beralih ke arah mobil polisi yang ternyata hanya lewat saja.
"Alhamdulillah, terima kasih atas pertolongan_Mu ya Allah." ucap Faisal penuh syukur.
Satu tangannya terangkat dan memeriksa kedua pipinya yang terasa sangat nyeri akibat pukulan tersebut. Bahkan kedua ujung bibirnya juga mengeluarkan bercak darah segar.
"Astaghfirullah hal adzim..." Faisal bergegas untuk kembali. Dengan langkah yang sedikit sempoyongan Faisal masuk ke dalam mobil dan cepat melajukan_nya.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....