Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Peringatan Bimo



🌾🌾🌾🌾🌾


Tak mudah untuk Faisal melangkah keluar dari pesantren, apalagi niatnya benar-benar untuk menemui seorang cewek. Memang sih dia tidak sendiri karena dia harus tetap mengajak teman tapi tetap saja ada sedikit keraguan yang datang.


Kali ini ada Hasan yang menemani, sementara Ilham dia tidak ikut karena ada tugas mengajar yang tak bisa di tinggalkan.


Pikiran Faisal hanya satu, kenapa harus dirinya yang memberikan surat itu padahal ada orang lain yang bisa di suruh tapi Omanya tetap saja bersikeras untuk Faisal yang berangkat.


Faisal juga tidak mungkin menentang keinginan sang oma karena dia tak mau membuat omanya merasa sedih.


Tujuan pertama adalah ke jalanan tempat biasa Tasya berada. Ini akan sedikit susah mereka tak bisa langsung pergi ke tempat yang tepat seperti rumah karena Tasya tinggal di jalanan. Entah ada di mana keberadaannya sekarang.


Bisa di jalanan, bisa di pasar, bisa di taman dan juga bisa di manapun.


"Ustadz, kali ini kita beneran ke jalanan itu?" Hasan menoleh.


"Iya. Semoga saja dia ada di sana. Kalau tidak ada ya berarti kita ke taman atau mungkin ke pasar," jawab Faisal.


Jelas sangat susah mencari Tasya yang tak bisa menetap dalam satu tempat. Dia akan terus pergi ke mana kakinya melangkah.


"Ustadz, lebih baik kalau ketemu kita langsung bawa aja dia ke pesantren. Dengan seperti itu kita tidak perlu mencari dia lagi besok pas acara. Kalau ustadz masih mencarinya pas acara besok pasti akan sangat lama. Apalagi kalau dia menolak pas hari itu, ustadz pasti tau apa yang akan terjadi pada Oma." ucap Hasan.


Memang benar itu lebih baik. Tapi masak iya Faisal langsung bawa pulang seorang gadis begitu saja tanpa ada ikatan apapun. Apakah itu tidak akan menjadi bahan pembicaraan orang lain? apalagi jelas-jelas dia yang mengajak.


Memang sih tak masalah karena di pesantren juga banyak para santri dan Tasya bisa bergabung dengan mereka. Tasya juga bisa belajar agama dengan mereka.


Tapi masalahnya, Faisal masih mempertimbangkan segalanya dalam hal apapun.


Sampailah Mobil mereka ke jalan yang menjadi tujuan. Mobil berhenti dan mereka berdua turun.


Kaki terus melangkah mencari-cari keberadaan Tasya bahkan mereka juga bertanya pada anak-anak yang biasanya bersama Tasya tapi tak ada yang tau. Tempat selanjutnya lah menjadi tujuan mereka, Taman.


Tak lama mereka sampai di taman dan mereka juga turun untuk mencari Tasya tapi sama saja, di sana tidak ada. Mereka berdua kembali naik mobil lagi dan kini tujuannya adalah pasar.


Sangat melelahkan mencari orang yang tak tau keberadaannya yang pasti. Benar-benar menyita waktu banyak. Maka dari itu Faisal mulai mencari meski masih ada waktu satu minggu karena tak mungkin juga Tasya akan ketemu di satu hari pencarian saja.


"Ustadz, kalau di pasar tidak ada juga kita akan mencari kemana lagi?" Sudah begitu lelah Hasan ikut membantu Faisal mencari Tasya. Entah dimana tuh anak. Kalau lagi di cari saja ngilang tapi kalau lagi nggak di cari malah nongol terus.


"Entah lah, tapi kita harus tetap mencarinya sampai ketemu. Kalau tidak hari ini berarti besok. Apa kamu tau? kalau aku nggak bisa membawa dia ke acara besok Oma tidak memperbolehkan aku ikut dalam acaranya."


"Hah, beneran! mantap tuh Oma ya. Oma sepertinya benar-benar menyukai Tasya deh ustadz."


"Aku yakin ada udang di balik bakwan deh nih apa yang Oma lakukan," ucap Hasan.


"Maksudnya?" memang tidak peka deh nih Faisal. Entah terlalu polos atau memang sengaja nggak mau terlihat.


"Ya Allah, Ustadz. Masalah gini saja nggak tau. Makanya Ustadz jangan hanya ngurung di kamar terus dengan semua kitab-kitab, ustadz harus bisa berbaur juga di luar dan memahami keadaan sekitar." terang Hasan.


"Hem," hanya itu saja yang Faisal katakan sebagai jawaban.


Faisal bergegas turun dari mobil setelah mobil berhenti tepat di depan pasar. Hatinya penuh harap kalau dia akan menemukan Tasya hari ini juga.


"Bismillah," gumamnya.


"Berdoa saja, Ustadz. Semoga kita bisa menemukannya di sini. Seandainya saja aku jadi ustadz ya, aku akan bawa karung dan akan langsung aku karungin tuh cewek kalau ketemu, merepotkan saja," ternyata Hasan sudah merasa kesal dan bosan juga.


"Jangan aneh-aneh ya, awas kalau kamu sampai macam-macam," Faisal begitu menegaskan. Ada rasa tak rela kalau ada orang yang berniat buruk padanya.


"Cie yang mulai perhatian," goda Hasan.


Bukannya Tasya yang langsung mereka lihat tapi malah Bimo dan kawan-kawan yang kini menghampiri. Lalu di mana Tasya, biasa akan selalu bersama mereka.


Jelas Hasan juga Faisal langsung menoleh.


"Maaf, saya datang untuk mencari Tasya. Apakah anda melihatnya?" meski yang ada di hadapannya terlihat tidak suka tapi Faisal tetap bertanya dengan sangat sopan.


Bukan langsung menjawab tapi Bimo langsung mendekat dan mencengkram baju Faisal dengan kasar. Tatapan matanya begitu sengit bertanda dia sungguh tak menyukai Faisal.


Faisal jelas terkejut begitu juga dengan Hasan yang sudah siap untuk mendekati Bimo dengan marah tapi Faisal menghalangi dengan tangannya.


"Tapi, Ustadz?" Hasan tak terima melihat Faisal di perlakukan seperti ini tapi kalau Faisal yang minta untuk berhenti maka dia akan tetap berhenti lah.


"Saya peringatkan ya, jauhi Tasya. Kamu tidak pantas dekat-dekat dengan nya." begitu sadis Bimo berbicara. Wajahnya terlihat menyeramkan tapi tidak membuat Faisal takut sama sekali.


Memang Faisal tidak begitu bisa melindungi diri dengan ilmu bela diri tapi kalau sekedarnya saja tetap dia bisa. Bukan itu saja, tapi Faisal memang tidak pernah takut sama siapapun karena ketakutannya hanya kepada Allah semata.


"Apa kamu tidak ngaca, kamu dan keluarga mu itu keluarga yang bermasalah, apa kamu akan melibatkan Tasya dengan masalah kalian?"


Terlihat Bimo begitu tak suka dengan Faisal apalagi Faisal secara terang-terangan datang untuk mencari Tasya. Entah untuk apa tapi Bimo tetap tidak suka.


Faisal terlihat biasa saja dan juga tenang tapi tidak dengan Hasan yang terlihat marah.


"Jangan kau jadikan Tasya umpan untuk semua masalah yang terjadi pada keluargamu itu." Bimo semakin menekankan.


Dengan perlahan Faisal menurunkan kedua tangan Bimo dari bajunya. Memang, Faisal akan selalu tenang dan tak pernah memperlihatkan sisi yang lainnya karena Faisal tak menyukai semua itu. Tapi, dalam darahnya tetap mengalir darah seorang mafia jelas tak akan ada ketakutan dengan ancaman yang seperti apapun.


"Tasya tidak pantas dekat dengan keluarga mu. Dan saya pastikan itu tidak akan pernah!"


"Maaf, bukan Anda yang bisa memutuskan itu, tapi Tasya sendiri. Dan saat Tasya memilih untuk dekat dengan kami maka kamu pun tidak akan bisa menghalanginya," ucap Faisal.


Bukan karena takut atau apa tapi Faisal lebih memilih pergi karena tujuannya bukan untuk berurusan dengan Bimo dia datang untuk mencari Tasya.


Bug...


Marah karena peringatannya tak di indahkan Bimo kembali menarik Faisal dan langsung melayangkan pukulannya hingga mengenai pipi Faisal sebelah kiri.


"Ustadz!" teriak Hasan dan cepat menangkap Faisal supaya tidak terjatuh.


"Itu adalah peringatan untukmu. Cepat pergi dan jauhi Tasya." Bimo begitu menegaskan. Matanya melotot tajam dengan jari telunjuk terangkat di hadapannya.


"Maaf, tapi saya tidak akan melakukan apa yang kamu minta," Faisal pun tak menerima itu.


"Kurang ajar!" Bimo ingin kembali memukul Faisal tapi ketiga temannya malah menariknya.


"Bos jangan, Bos!" teriak Agung dengan terus menahan Bimo.


"Lepas! aku harus memberikan dia pelajaran, lepas!" kemarahan begitu besar pada Bimo.


"Bos, sudah bos. Jangan sampai Tasya mengetahuinya, kalau dia sampai tau dia akan semakin membenci kamu, Bos," kini Kipli yang bicara.


"Benar, Bos." Dadang pun tak ketinggalan.


"Ayo bos kita pergi!" Agung terus menarik Bimo untuk pergi tentu di bantu oleh Kipli dan Dadang.


Seandainya Faisal mau, dia akan tetap melawan meski dia tak begitu pandai dalam hal itu. Tapi dia sangat menginginkan kelembutan dan bukan kekerasan.


Tetapi jika Bimo terus memaksa apapun bisa saja terjadi. Pastilah sisi lain Faisal akan tumbuh dan bisa saja lebih menakutkan dari apa yang terlihat.


🌾🌾🌾🌾🌾