Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Belajar menjadi yang terbaik



🌾🌾🌾🌾🌾


Setelah apa yang terjadi kepada Tasya dan Faisal kemarin membuat Tasya lebih sering diam dan melamun. Bukan karena marah tetapi Tasya lebih cenderung berpikir dan menata hati untuk perlahan bisa melakukan apa yang sudah seharusnya.


Tasya ingin benar-benar bisa berhijrah dan menjadi istri yang baik dan bisa dibanggakan oleh Faisal juga keluarganya. Memang akan sangat susah tapi Tasya akan terus berusaha untuk bisa melakukannya.


Setiap hari Tasya lebih sering berada di dalam kamar dan membaca semua buku-buku yang biasa Faisal baca. Tasya ingin sedikit memiliki pengetahuan yang sama seperti Faisal hingga membuatnya bisa melakukan kewajiban sebagai seorang istri dengan benar.


Bukan itu saja tetapi Tasya juga menjadi menurut kepada Faisal. Dia selalu melakukan apa yang Faisal katakan dan jika Faisal melarang maka dia benar-benar menjauhinya. Dan satu yang Faisal larang untuk saat ini, yaitu pergi keluar tanpa Faisal bersamanya.


"Sya, apa kamu tidak merasa bosan terus di dalam seperti ini?" Faisal menghampiri Tasya yang duduk di sofa di dalam kamar, dia terus membalik lembar buku yang dia baca.


"Tidak, Mas. Tasya ingin belajar," katanya. Namun Tasya langsung melipat ujung dari lembar buku tersebut lalu menutupnya setelah Faisal duduk di sebelahnya.


"Iya, tapi apa kamu tidak capek? kamu juga butuh udara luar kan? Sesekali bergabunglah dengan para santri kamu bisa belajar dengan mereka juga. Atau, kalau tidak kamu ke tempat mama atau oma," saran Faisal.


"Nanti lah," katanya.


"Mas mau sesuatu?" Tasya menawarkan. Tasya ingin bisa menjadi istri yang benar-benar berguna dan taat pada Faisal. Bisa melayani dengan baik juga tentunya.


"Hem, mas mau kamu," jawab Faisal dengan sekali mencolek hidung Tasya.


"Hem?" Tasya terkesiap, selalu dia akan seperti itu kalau Faisal mengatakan mau dirinya.


"Bo_boleh," imbuhnya dengan gugup.


Faisal tersenyum melihat gelagat gugup yang langsung muncul pada Tasya. Sungguh lucu dan sangat menggemaskan di matanya.


"Mas hanya mau kamu buatin kopi, kopi buatan mu selalu bikin nagih," ucap Faisal.


Mata Tasya membulat, dia pikir Faisal benar-benar menginginkan dirinya tapi ternyata dia hanya menginginkan kopi buatannya.


"Kenapa, apa kamu kecewa?" mata Faisal mengerling nakal dia tau ekspresi ini yang akan dia dapat saat menggoda Tasya dan dia sangat suka melakukannya.


"Ti_tidak! siapa juga yang kecewa," Tasya langsung berdiri dan ingin segera melakukan apa yang diminta oleh Faisal yaitu membuatkan kopi keinginannya. Tetapi belum juga melangkah tangan Tasya sudah kembali ditarik oleh Faisal hingga sekarang membuat Tasya berakhir di atas pangkuan Faisal.


"Kenapa buru-buru sekali?" di peluk dengan erat perut Tasya dari belakang, tetapi wajah Faisal condong ke depan dan melihat bagaimana ekspresi dari wajah Tasya saat ini. Tentu saja semakin menggemaskan.


Tasya terpaku di atas pangkuan Faisal, dia tidak bergerak sama sekali hanya sedikit melirik ke arah Faisal yang berbicara sembari tersenyum.


"Terima kasih ya Sayang. Kamu selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk Mas. Kamu terus belajar untuk menjadi istri yang baik dan aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku."


Apa yang Tasya lakukan membuat Faisal sangat bahagia, Faisal juga sangat senang karena tekat Tasya yang begitu kuat. Tetapi apa yang Tasya lakukan itu semua karena keinginannya sendiri, bukan karena paksaan.


"Tentu," bukan hanya suka lagi bagi Faisal tapi sangat suka.


"Kalau begitu Tasya akan terus melakukannya," kini Tasya yang tersenyum. Rasa gugupnya tadi perlahan sudah mulai hilang dan kembali terbiasa.


Selalu membutuhkan waktu untuk bisa terbiasa meski hanya sesaat. Rasa gugup itu masih sering datang meski mereka sudah terikat dengan kuat.


"Baiklah, Mas akan mendukung semua yang akan kamu lakukan. Selama itu hal yang positif kenapa tidak!"


"Sekarang sudah boleh pergi?" tanya Tasya. Kalau terus seperti itu kapan Tasya akan pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Faisal, iya kan?


"Sebenarnya aku juga ingin yang lain," katanya.


Tasya seketika menoleh dan saat itu bibir Faisal langsung mendarat tepat di pipinya.


"Mas," pekikan Tasya malah membuat Faisal tertawa. Dia sengaja melakukan itu.


"Iya, Sayang." jawabnya.


"Tasya harus ke dapur, katanya mau minta kopi."


"Hem, sekarang minta susu aja dulu deh," keinginan Faisal membelok jauh dari keinginan yang pertama dia malah langsung mengangkat Tasya dan membawanya ke ranjang.


"Mas, ini masih siang!" suara protes dari Tasya.


"Pagi, siang atau malam tidak masalah, Sayang. Mas boleh meminta kapanpun."


Tasya pasrah kalau sudah seperti ini. Dia tidak akan protes lagi karena dia ingin menjadi istri yang baik untuk Faisal. Meski tidak bisa menjadi yang sempurna setidaknya dia bisa berusaha untuk selalu bisa memberikan apa yang Faisal minta.


"Bismillahirrahmanirrahim....."


Doa kembali Faisal bisikan di telinga Tasya. Untuk kali ini Tasya juga ikut berkecamuk melafazkan karena dia juga sudah hafal karena terus membaca setiap ingin melakukan hubungan pada Faisal.


"Semoga Allah menghadirkan makhluk kecil yang akan menyempurnakan hidup kita," bisik Faisal.


"Amin," jawab Tasya mengaminkan doa dari Faisal.


Bukan hanya Faisal saja yang sudah sangat menginginkan tapi Tasya juga. Dengan kehadiran malaikat kecil di tengah-tengah rumah tangga mereka pastilah akan semakin menyempurnakan kebahagiaan mereka.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...