
🌾🌾🌾🌾🌾
Salwa begitu antusias dalam menyambut Tasya juga Faisal ke panti, dia bahkan sampai berlari untuk menghampiri dan berhenti di hadapan Tasya.
"Kak, Salwa kangen," katanya dengan begitu manja. Tubuhnya langsung terhuyung dengan kedua tangan merenggang untuk menubruk Tasya, jelas untuk memeluk Tasya yang sudah seperti kakak baginya.
Dengan begitu ramah juga sangat senang Tasya juga menyambut pelukan itu, mendekap dengan erat selayaknya memeluk adiknya sendiri.
"Kakak juga kangen," bukan hanya sebatas memeluk saja, tapi Tasya juga menggoyangkan tubuh Salwa dan membuatnya tertawa.
"Kakak, stop! hahaha!" teriak Salwa di sela-sela tawa yang begitu menggelegar dan membuat semua yang ada ikut senyum-senyum sendiri.
Kedekatan mereka berdua memang sudah terjalin sejak lama. Tasya juga sangat menyayangi Salwa, mungkin karena Tasya tidak ada adik dan membuat dia begitu menerima Salwa dengan baik.
Tasya pun menurut, melepaskan Salwa dengan perlahan namun tangannya beralih mencubit pipi Salwa dengan begitu gemas.
"Ih, gemes deh," ucapnya.
Aku a yang Tasya lakukan membuat Salwa mengerucutkan bibir, dia sangat kesal namun tidak di pungkiri dia juga sangat merindukan semua itu.
Keisengan Tasya dan juga bagaimana kelakuannya, Salwa sangat merindukan semua itu. Tasya bukan hanya seperti kakak bagi Salwa tapi juga sudah selesai orang tua baginya.
Meskipun sekarang sudah ada ibu pengasuh yang selalu menyayangi sama seperti teman-temannya, tapi itu tidak bisa membuat Salwa melupakan Tasya ataupun menggantikan posisinya di hati dengan orang lain.
"Kita masuk sekarang?" ajak Tasya.
Salwa mengangguk, bukan hanya dirinya saja yang menunggu kedatangannya tapi semua orang. Salwa tidak boleh egois dan hanya ingin Tasya bersamanya meski sebenarnya dia sangat ingin.
"Kak, kemarin kak Bimo datang. Dia bertanya pada bapak dan ibu alamat tinggal Kakak sekarang," Salwa mulai bercerita.
Bukan hanya Tasya saja yang terlihat mengerutkan kening, tapi Faisal juga sama. Faisal bahkan sempat menghentikan langkah meski itu tidak lama dan kembali berjalan lagi.
"Terus, bapak dan ibu memberitahu?" Tasya begitu terkejut dia masih belum bisa melupakan kejadian yang di akibatkan oleh Bimo, ya meski sebenarnya dia sudah memaafkan tapi untuk bertemu sepertinya dia belum bisa.
"Tidak lah, Kak. Kata bapak kalau kak Bimo memang menginginkan bertemu dengan kakak maka Kak Bimo harus mencari keberadaan kakak sendiri. Kak Bimo harus berusaha, itu kata bapak."
Tasya bisa bernafas lega, untung saja Bimo tidak di beritahu kalau sampai benar bagaimana kalau dia akan membuat masalah di pernikahan Ilham dan juga Dina, bisa bahaya kan?
"Alhamdulillah," Tasya begitu bersyukur.
'Alhamdulillah,' begitu juga dengan Faisal, dia juga bersyukur meski hanya terucap di hatinya saja.
Tasya juga Salwa melanjutkan langkah, masuk ke dalam rumah yang ternyata sudah banyak orang yang ada di sana. Semua sudah berkumpul untuk melakukan persiapan.
Sebenarnya tidak banyak sih, hanya beberapa orang saja yang di undang dari warga sana dan kebanyakan hanya anak-anak panti. Mereka begitu antusias, membantu hal yang mereka bisa meski tidak banyak.
Kedatangan Faisal juga Tasya sangat di sambut baik oleh semua, semua terlihat ramah apalagi orang-orang sana yang tau kalau Faisal adalah pemilik panti itu, semua nampak begitu antusias dalam menyambut.
🌾🌾🌾🌾🌾
Tasya yang tak melihat Dina bergegas mencarinya hingga akhirnya dia menemukan Dina di belakang rumah. Sebenarnya dia baru saja undur diri dari hadapan semua orang, namun dia pergi di saat Tasya belum datang.
Dina terlihat begitu cemas duduk sendiri dengan melamun. Sepertinya Dina tengah memikirkan sesuatu entah apa Tasya tidak tahu dan dia berusaha mencari tahu dengan mendekatinya untuk bertanya langsung.
Dina terlihat sangat terkejut ketika kedatangan Tasya dan langsung duduk di sebelahnya, meskipun Tasya tetap mengucapkan salam namun tetap saja Dina sangat terkejut.
"Assalamu'alaikum," sapa Tasya begitu pelan, seraya menyentuh bahu Dina untuk menyadarkan dari lamunannya.
"Mbak kapan datang?" mencoba untuk bertingkah biasa-biasa supaya Tasya tidak curiga, namun semuanya sudah terbaca sebelumnya oleh Tasya jadi bagaimana bisa dia tidak curiga.
"Baru saja. Kamu kok malah di sini?"
"I_iya, Mbak. Baru saja kesini untuk mengangkat jemuran," jawab Dina. Memang Tasya melihat ada baju-baju yang ada di pangkuannya tapi kenapa Dina tidak langsung membawanya masuk?
"Kenapa, apakah ada sesuatu?" tanya Tasya menyelidiki.
Tasya sangat curiga karena wajah Dina terlihat begitu jelas kalau dia sangat gelisah. Apalagi Dina berusaha untuk menutupi semua itu dari dirinya.
"Ti_tidak kok, Mbak," Dina tersenyum namun terlihat begitu kaku dan terkesan sangat dipaksakan. Bukankah itu jelas kalau Dina tidak dalam keadaan baik?
Perempuan mana yang tidak akan merasakan kegelisahan ketika ingin menghadapi hari pernikahannya, bukan hanya Dina tetapi Tasya juga dulu seperti itu bahkan semua wanita pasti pernah merasakan hal yang sama.
Rasa gelisah pasti semua merasakannya menjelang hari pernikahan apalagi menjelang detik-detik saat hari itu tiba. Begitu pula yang dirasakan oleh Dina saat ini, dia hanya merasa sangat gelisah menjelang hari pernikahannya.
"Mbak, kenapa aku merasa sangat gelisah ya, aku juga sangat takut," akhirnya Dina berbicara juga meski Tasya tidak bertanya.
Tasya tersenyum.
"Tidak usah merasa khawatir, semua wanita pasti mengalami hal yang sama seperti yang kamu rasakan saat ini. Bukan hanya kamu saja, bahkan aku dulu juga pernah merasakan hal itu. Tetapi setelah semua sudah terjadi maka rasa itu akan hilang dengan sendirinya." ucap Tasya berusaha menenangkan hati Dina saat ini.
"Aku dulu juga sangat takut sama persis seperti yang kamu rasakan. Tetapi itu tidak bertahan lama karena rasa itu memang murni akan dirasakan oleh semua perempuan. Bahkan bukan hanya perempuan saja yang mengalami hal itu tapi laki-laki pun juga akan merasakannya, aku yakin saat ini Mas Ilham juga sedang merasakan apa yang kamu rasakan bisa saja lebih."
Tasya bisa berbicara seperti itu karena dia memang sudah merasakan sebelumnya, dan Tasya merasa sangat wajar jika Dina merasakan hal yang seperti itu.
"Benarkah?" Dina mencoba percaya, mungkin dengan itu dia bisa sedikit menghilangkan rasa gelisahnya.
"Tentu, kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanyakan pada Mas Ilham besok setelah kalian sudah menjadi suami istri, pasti dia juga akan mengatakan kalau dia sama gugupnya seperti kamu."
"Apa sih mbak, bagaimana mungkin saya akan menayangkan hal itu pada Mas Ilham, kan malu," jawab Dina yang juga terlihat malu sekarang.
Bukan hanya pada Ilham saja dia sudah malu, bahkan saat ini di ma berbicara dengan Tasya pun juga sudah sangat malu.
Dina tersenyum simpul, wajahnya di palingkan dari Tasya dengan pipi yang sudah merona, bukankah itu sudah menjelaskan betapa besarnya rasa malu yang sedang dia rasakan?
"Kenapa harus malu, mungkin kalau sekarang kamu bisa malu karena kalian belum resmi menjadi pasangan suami istri, tapi kalau besok? kamu tidak boleh malu lah, dia kan suamimu."
Sok-sokan nih Tasya memberikan wejangan pada Dina, dia sepertinya lupa bagaimana dirinya saat baru saja menjadi istri Faisal.
Mungkin karena Tasya sudah terbiasa dengan Faisal sekarang dan apapun akan dua tanyakan jadi tak ada rasa malu lagi, tapi kemarin-kemarin?
Apakah Tasya amnesia?
"I_iya sih, tapi kan?" Dina menoleh wajahnya terlihat sangat lucu ketika dia dalam keadaan seperti itu. Lucu dan menggemaskan.
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja tidak usah di paksakan. Seiring berjalannya waktu juga akan terbiasa," ucap Tasya.
Dina mengangguk mengerti, mungkin yang Tasya katakan memang benar. Pelan-pelan saja dan biarkan semua mengalir sebagaimana semestinya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...