Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Bukan Paksaan



🌾🌾🌾🌾🌾


Semakin bingung Tasya ketika dia sudah selesai bersih-bersih dan juga memakai pakaian milik Faisal namun saat dia keluar dari kamar mandi ternyata Faisal masih tetap berada di sana.


Laki-laki itu sudah terlihat segar dan juga hanya memakai kaos rumahan berlengan pendek juga sarung saja dan duduk di sofa dengan membaca buku yang tebal.


Meski baju yang diberikan oleh Faisal adalah baju yang paling kecil untuknya tetap saja sangat kedodoran saat dipakai oleh Tasya.


Tasya masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi karena begitu bingung dia juga terus memegangi perutnya mungkin karena memegangi sarung yang dia pakai, lebih tepatnya Dia sangat takut kalau sampai copot dan ada Faisal di sana pasti akan sangat memalukan.


Faisal yang sudah terlihat segar sudah jelas dia juga sudah bersih-bersih tetapi mungkin dia melakukannya di kamar mandi lain karena Tasya begitu lama di kamar mandi yang ada di kamar Faisal.


Faisal menyadari apa yang terjadi kepada Tasya dan dia menoleh melihat Tasya masih terus berdiri sembari melihatnya dengan bingung.


Tasya sangat lelah ingin tidur tetapi dia bingung mau tidur di mana, dia masih merasa enggan untuk tidur di kasur milik Faisal apalagi Faisal belum menyuruhnya takut saja dia kalau dipikir terlalu lancang.


"Kenapa berdiri terus, apa tidak capek?" ucap Faisal seraya menghentikan aktivitasnya.


"Sa_saya?" Tasya masih bingung dia akan melakukan apa.


Dengan sekuat tenaga Faisal juga menahan untuk tidak tertawa saat melihat Tasya terus saja memegangi perutnya Faisal sangat yakin kalau Tasya sangat tidak nyaman karena memakai sarung.


"Apakah butuh ikat pinggang?" tanya Faisal dia langsung menutup buku dan beranjak kembali mendekati lemari dan mengambil apa yang barusan dia katakan.


Tasya masih terus diam bahkan sampai Faisal berada di di depannya dengan mengeluarkan ikat pinggang yang mungkin dia butuhkan tapi benar dengan ikat pinggang akan lebih membantu daripada dia terus memegang perutnya terus.


"Terima kasih," ucap Tasya dan kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai ikat pinggang.


Tak berapa lama Tasya kembali keluar dan terlihat dia sudah lebih nyaman daripada yang tadi, perutnya juga tidak terlihat membesar akibat lipatan sarung yang dia pakai.


"Lucu ya, kok tersenyum terus?" ucap Tasya yang merasa bahwa senyum dari Faisal adalah meledek dirinya.


"Tidak, tidak lucu sama sekali," jawab Faisal.


Tasya mengernyit karena tangan Faisal terus berada di belakang seperti tengah menyembunyikan sesuatu, apa yang disembunyikan?


Setelah Tasya berada di depannya Faisal menyerahkan kain yang dilipat terlihat sangat kecil dan berwarna abu-abu.


"Ini apa?" jelas Tasya tidak mengerti karena Faisal juga tidak menjelaskan itu apa.


Tanpa menjawab Faisal langsung melebarkan kain tersebut yang ternyata adalah sebuah hijab segi empat. Faisal melipatnya hingga menjadi bentuk segitiga kemudian menyampirkan pada tangannya sendiri.


Faisal beralih ke belakang Tasya, mengumpulkan rambut Tasya dan mengikatnya. Bukan itu saja, tapi Faisal juga mencepol rambut Tasya hingga menjadi seperti sanggul kecil.


Tasya terus diam, tapi dia sangat gugup dan membiarkan apapun Faisal lakukan.


"Bolehkah, kalau hanya aku saja yang bisa melihat kecantikan mu?" tanya Faisal yang kini perlahan telah memakaikan jilbab itu kepada Tasya.


Tasya terus saja terdiam dengan mata memandang wajah Faisal yang mengarah ke wajahnya namun dengan mata yang terus melihat pergerakan tangannya sendiri yang membenarkan jilbab di atas kepala Tasya.


"Setiap aurat yang dilihat oleh lawan jenis yang bukan mahramnya itu akan menjadi dosa yang terus mengalir kepadanya suaminya. Jadi, kita belajar bersama-sama untuk menjaga yang seharusnya hanya pasangan yang melihatnya supaya kita terjauh dari dosa dan kelak bisa masuk surga bersama-sama," ucap Faisal lagi.


Faisal tidak menaruh peniti di bagian leher Tasya tapi dia hanya langsung mengikat kedua ujung yang ada di depan dengan menyilang sampai ke belakang.


Meski di bagian leher atas masih sedikit terlihat tapi tidak sebesar tadi. Sekarang rambut Tasya juga sudah tertutup dan tak ada sehelai pun yang menjuntai panjang di punggungnya.


Terus saja Tasya mematung di sana. Tubuhnya gemetar karena terus di lihat oleh Faisal dengan tatapan yang penuh takjub.


"Bahkan, dengan seperti ini kamu tetap cantik, Sya. Bahkan sekarang lebih cantik," puji Faisal yang mundur satu langkah dan melihat Tasya yang begitu berbeda.


Tasya yang biasanya cerewet dan begitu banyak bicara kali ini hanya terus diam tanpa kata namun dengan ekspresi seribu bahasa.


Bingung apa yang ingin dia katakan, juga sangat bingung apa yang ingin dia katakan.


"Kamu lelah kan? sekarang istirahatlah setelah ashar kita belanja. Jangan kaku atau sungkan, kamar ini juga kamar kamu sekarang. Lakukan apapun yang kami ingin," kembali Faisal berbicara dengan sangat lembut.


"A_aku..."


"Kenapa, apakah kamu mau aku temani?"


"Tidak tidak! aku bisa sendiri kok," Tasya bergegas menghampiri ranjang dan langsung menempatkan diri di sana dengan benar.


Faisal mendekat dan itu tentu menambah rasa gugup Tasya. Apa yang ingin Faisal lakukan?


Faisal hanya ingin menyelimuti Tasya saja ternyata dan di tambah dengan membelai ubun-ubunnya sebentar.


"Tidur lah, nanti saat ashar tiba aku bangunin. Sekarang aku harus ke perpustakaan, ada sesuatu yang ingin aku ambil. Kalau kamu membutuhkan sesuatu tunggu saja aku, aku tidak lama.


Faisal tersenyum di tambah dengan mengecup kening Tasya sekilas saja.


Faisal benar-benar membuat Tasya terus senam jantung di siang ini. perlakuan perlakuan kecilnya mampu membuat Tasya seakan ingin kehilangan kesadaran.


Ini belum genap sehari tapi Tasya sudah seperti ini. Bukankah ini akan terus berjalan setiap hari seumur hidupnya?


Sama sekali Tasya belum bisa menikmati masa-masa kebersamaan dengan Faisal mung karena ini benar hal baru baginya. Hal yang sangat asing yang belum pernah dia lakukan sebelumya.


Setelah Faisal keluar dari kamar Tasya langsung kembali duduk dengan mengatur nafasnya supaya lebih teratur. Sungguh, ini terasa menyiksa. Mungkin karena lagi pertama kalau sudah terbiasa juga tidak akan lagi, benar begitu kan?


"Ya Allah jantungku, ini mau senam sampai kapan ini?" gumam Tasya.


Matanya terus melihat ke arah pintu berharap Faisal tidak akan cepat-cepat masuk lagi. Namun sebelum Faisal masuk Tasya kembali merobohkan tubuhnya ke atas ranjang dan cepat menyelimuti sekujur tubuhnya tak terkecuali seluruh kepalanya juga. Tasya masih sangat malu kalau sampai Faisal melihatnya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...