Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Keinginan Oma



🌾🌾🌾🌾🌾


Dan lagi, Tasya lah pemenangnya. Senyumnya terukir indah saat kembali melihat para preman terkapar tak berdaya. Ada kepuasan tersendiri saat bisa memenangkan setiap pertarungan, tapi kalau di minta memilih maka Tasya tidak mau ada kekerasan. Jelas, dia lebih menyukai kenyamanan dan kedamaian.


Tapi itulah isi dunia. Tak semuanya baik, tak semuanya mengharapkan ketenangan. Semua itu karena mereka di kendalikan oleh ketamakan juga keegoisan.


Memang sih, sifat itu murni semua orang memilikinya tapi bagaimana mereka mengendalikan dan mereka pergunakan di jalan yang mana. Ada yang tamak dan egois karena kebaikan tapi juga banyak yang berada di jalur yang salah kejahatan.


"Ampun ampun!" keduanya langsung beranjak saat Tasya kembali mendekat dengan memainkan tangan yang saling bertautan, membunyikan hingga suara gemerutuk terdengar.


"Hey, Paman! paman mau kemana? hahaha!" tawa Tasya menggelegar. Sok basa-basi memanggil para paman-paman yang sekarang sudah ngacir terbirit-birit karena ketakutan.


"Hadeuh paman, padahal mau Tasya kasih hadiah permen karet," ucapnya lagi.


Semakin penasaran saja si Tasya, sebenarnya siapa ketua mereka. Kenapa setiap hari ada-ada saja yang datang dan ingin mencelakainya atau mungkin menginginkan kepergiannya.


Bukannya takut dan pergi dari sana Tasya malah merasa tertantang dan ingin melihat siapa sebenarnya sang penguasa pasar. Entah kekejaman seperti apa yang dia lakukan sampai-sampai semua orang pada takut kepadanya.


"Kalian pikir dengan terus mengancam aku akan pergi dari sini, tidak!" gumamnya.


Kini Tasya bertekad bulat akan menjadi penjaga pasar dari orang-orang yang seperti itu. Kalau tidak ada yang berani menghentikan tak akan bisa kedamaian pasar akan di dapat dari para pedagang ataupun para pengunjung.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Assalamu'alaikum," Sang oma masuk ke kamar Faisal setelah dia tau kalau cucunya itu sudah pulang.


Sudah dari tadi dia menunggu dan kini akhirnya.


"Wa'alaikumsalam. Oma?" Faisal sedikit mengernyit karena tak biasa saja oma datang sendiri di kamarnya, biasanya Faisal lah yang akan datang jika oma merindukannya.


Faisal langsung menyambut oma, menuntunnya dan mengajak duduk di sofa.


"Ini, tolong berikan undangan ini pada Anastasya. Satu minggu lagi adalah acara doa bersama untuk Opa dan oma ingin dia datang," undangan berwarna putih Oma sodorkan pada Faisal.


"O_Oma beneran mau ngundang Tasya?" tanya Faisal.


"Emang kenapa, apakah kamu tidak suka?" kini giliran oma yang bertanya. Kenapa Faisal terlihat begitu terkejut seperti itu?


"Bu_bukan seperti itu, Oma. Tapi? baiklah," Meskipun bingung tapi Faisal menyetujuinya juga.


"Alhamdulillah, kalau dia tidak bisa datang sendiri kamu yang harus menjemputnya. Oma percayakan kedatangannya padamu. Kalau dia tidak datang, awas ya," Oma tersenyum seraya berdiri lalu bergegas pergi.


Faisal masih terus memandang kepergian Oma, bahkan sampai sang Oma tak terlihat lagi.


"Kenapa harus aku?" ucapnya dengan tangan yang bergerak ke arah telinga dan jarinya masuk karena tiba-tiba tuh telinganya gatal.


Lagian kalau bukan Faisal juga siapa lagi kan? di sana hanya Faisal yang kenal paling dekat dengan Tasya.


"Bagaimana aku akan mengatakannya? kalau dia tidak mau ikut bagaimana, kalau dia marah atau tersinggung bagaimana? ish, Oma nih," Faisal benar-benar bingung.


Bingung memikirkan cara bagaimana dia bisa membujuk Tasya yang jelas tak akan mudah. Apalagi Faisal belum pernah melakukan itu, bukan itu saja, tapi Faisal memikirkan status dirinya yang seorang ustadz bagaimana bisa dia akan menemui seorang wanita yang bukan mahramnya?


"Aku harus minta bantuan sama siapa?" Faisal terus berpikir, siapa yang harus dia ajak untuk hal ini.


Ternyata, sang Oma masih berdiri dan berdiam diri di depan pintu kamar Faisal, sedikit mengintip apa yang tengah terjadi pada sang cucu.


"Mungkin, semua orang akan mengatakan gadis itu tidak baik untukmu, Faisal. Tapi tidak untuk Oma. Dia akan sangat pantas, dia hanya membutuhkan bimbingan yang tepat untuk bisa menjadi yang baik dan Oma percaya itu bisa kamu lakukan."


"Semoga saja, semua yang menjadi keinginan Oma ini memang takdir yang di gariskan untuk kalian berdua. Memang Oma sudah tua, tapi Oma masih bisa melihat dan memahami dengan benar seperti apa yang baik hatinya atau yang sebaliknya."


Yah! ternyata mata-mata yang begitu tajam itu masih tetap ada di mata tua sang Oma. Usia boleh semakin tua, tenaga juga bisa menghilang, tapi tidak dengan penglihatannya yang masih tetap berguna dengan baik.


Harapan Oma sangat besar untuk Faisal juga Tasya. Pesantren membutuhkan penerus yang kuat. Bukan hanya kuat dari pihak prianya saja, tapi juga pendampingnya.


Faisal memiliki kekuatan dari segi agamanya, sementara Tasya dia memiliki kekuatan besar yang akan menjadi pendamping juga pendukung di belakang Faisal.


Bukan tampa alasan atau keegoisan saja Oma menginginkan Tasya yang bisa menjadi pendamping Faisal, dia hanya ingin generasi yang benar-benar kuat untuk menjadi pemegang pesantren.


Di pesantren itulah Oma mendapatkan semuanya, dan tentu dia hanya menginginkan pesantren selalu jaya dari dulu hingga esok hari setelah sepeninggalannya.


Oma sadar, usianya sudah sangat tua, tak akan selamanya dia akan terus berada di sana dan terus membimbing anak dan cucu-cucunya. Dan juga oma akan tenang jika suatu saat dia pergi dan pesantren sudah memiliki penerus yang kuat dalam bidang apapun.


"Maafkan Oma jika terlalu memaksa, Faisal. Mungkin Oma memang egois. Tapi Oma juga tidak akan melakukan ini jika Oma tidak melihat ada ketertarikan darimu pada Tasya. Kamu hanya belum menyadari saja, Faisal. Setelah kamu menyadari Oma yakin kamu akan meminta kami para orang tua untuk melakukan ini," gumam Oma.


Sang Oma melangkah pergi dari sana, dengan kaki tuanya dia melangkah dengan sangat pelan untuk menuju kamarnya sendiri.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....