
🌾🌾🌾🌾🌾
Perlahan-lahan jari Faisal mulai bergerak, memberi tanda bahwa dia akan segera sadar dari pingsannya yang entah sudah berapa jam lamanya.
Tasya terus saja menunggu, tak pernah dia tinggalkan meski hanya sesaat, dia sangat mengkhawatirkan suami tercintanya itu, jelas saja kan?
"Mas, mas," Tasya tersenyum namun juga menitihkan air matanya. Begitu bahagia dia bisa melihat jari-jari suaminya itu perlahan mulai bergerak.
Faisal belum merespon, dia masih diam. Mungkin dia belum sadar sepenuhnya.
Tasya langsung berlari keluar, bergegas memanggil dokter untuk memeriksa Faisal.
"Dokter, dokter!" teriakannya begitu menggema di depan pintu, semua keluarga yang menunggu jelas saja juga ikutan terkejut karena Tasya yang tiba-tiba keluar dengan berteriak.
Bukan hanya kedua orang tuanya saja yang ada di sana, melainkan semua saudaranya juga sudah ada di sana. Akhsan, Ikhsan juga Aisyah.
"Ada apa, Kak?" Aisyah langsung menghampiri, menggenggam tangan Tasya dengan perasaan yang sangat khawatir.
Begitu juga dengan semuanya, mereka juga mendekat dan siap mendengar apa yang akan Tasya katakan, tentunya dengan sangat was-was juga.
Bersamaan dengan itu dokter dan juga dia perawat sudah berlari mendekat, mereka sepertinya juga sangat terkejut. Mungkin takut kalau sampai ada apa-apa.
"Mas Faisal, dia, jari-jarinya mulai bergerak!" ucapan Tasya terbata-bata.
Semua senang, ada rasa lega tapi juga kasih ada rasa khawatir.
Dokter dan suster sudah langsung masuk tanpa meminta penjelasan dari Tasya lagi, ucapannya sudah membantunya.
Tasya melepaskan tangan Aisyah dengan pelan, menyentuh pipi Aisyah, tersenyum kecil lalu kembali masuk lagi untuk melihat keadaan Faisal suaminya.
Sesampainya di dalam, ternyata beberapa selang yang menempel sudah di lepaskan, Faisal juga sudah membuka mata.
Betapa bahagianya Tasya akhirnya dia bisa melihat suaminya benar-benar telah sadar, dia sudah membuka matanya meski belum menyadari kedatangannya. Semoga saja tidak ada masalah lagi.
"Alhamdulillah, Sus, pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat." ucap Dokter.
"Baik, Dok. Akan kami siapkan."
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok? Dia baik-baik saja kan?" Tasya gak sabar ingin tau kondisi suaminya. Meski sudah jelas melihat suaminya bangun tapi nyatanya air matanya masih saja menetes, mungkin saking bahagianya.
"Alhamdulillah, suami anda sudah melewati masa kritisnya. Kami akan melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk memastikan tidak ada luka dalam.
"Baik, Dok." jawab Tasya, tetap saja sekarang dia masih khawatir. Masih ada pemeriksaan lanjutan, semoga saja tidak ada yang serius yang menimpa Faisal.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter.
Tasya menoleh sebentar, ujung matanya mengekor kepergian dokter dari ruangan itu hingga pintu tertutup sempurna. Setelah pintu tertutup, Tasya baru mendekat.
"Mas," Tasya berlari, dia langsung memeluk Faisal yang terlihat tersenyum kepadanya.
Wajahnya masih terlihat sangat pucat, bibirnya terlihat putih tapi masih terlihat manis ketika tersenyum.
"Ja_jangan menangis. Aku tida apa-apa," ucapan Faisal begitu pelan. Suaranya masih terlihat gemetar dan juga parau.
"Jangan lagi, Mas. Jangan buat Tasya takut lagi," ucap Tasya. Dia tetap saja menangis meski Faisal sudah memperingatkannya untuk tidak lagi menangis.
"Tidak, tidak akan lagi."
Tasya melepaskan pelukannya dari Faisal, menghapus air matanya dan perlahan Faisal juga membantunya. Tak henti-hentinya dia tersenyum dia ingin istrinya itu juga ikut tersenyum seperti dirinya meski dalam keadaan yang masih sangat lemah.
"Sal!" Akhsan memanggil. Bukan hanya Akhsan saja tapi semuanya masuk karena sudah di perbolehkan oleh dokter.
Tasya juga Faisal menoleh, senyum Tasya langsung pudar karena malu. Kedatangan semua orang tentu akan membuat dia malu jika dia baru saja memeluk Faisal, padahal itu sah-sah saja kan?
"Bang."
"Bagaimana keadaan mu, kamu baik-baik saja kan?" Ikhsan yang menyerobot.
"Ih, ini pasti karena bang Faisal mau latihan jadi pembalap." Aisyah ikutan berbicara.
"Apaan sih, Dek. Jangan aneh-aneh deh," keluh Akhsan menegur Aisyah.
"Lah, habisnya."
"Sudah-sudah, Faisal baru saja siuman, jangan pada ribut sendiri." Kini Rayyan yang menegur. Sungguh, keempat anaknya kalau sudah bersatu pastikan akan ramai.
"Bagaimana keadaan mu, Nak." Keisha yang bicara dengan lembut. Dia satu tadi juga terus menangis sama seperti Tasya hanya saja di tempat yang berbeda karena Tasya terus di dalam menemani Faisal.
"Faisal sudah baik, Ma."
"Alhamdulillah," Puji syukur terus saja di ulang-ulang di keluar dari bibir Keisha, dia sangat senang karena anaknya kini telah kembali.
Semua tampak bahagia, tapi sang Oma tidak ada di sana karena dia sudah pulang lebih dulu. Dia harus istirahat di rumah dan Rayyan lah yang memintanya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....