
...🌾🌾🌾🌾🌾...
Tak ada keahlian khusus juga tak bisa melakukan apapun membuat Ana sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan. Dia terus saja berputar-putar di daerah sekitar pasar tapi tak ada yang membutuhkan pekerjaan.
Bingung nggak bingung, kalau dia nggak dapat pekerjaan dan tak mendapatkan penghasilan bagaimana dia bisa mencari tempat untuk tinggal. Tempat kalau sembarang tempat bisa saja dengan mudah dia dapat. Kalau tempat yang nyaman yang bisa melindungi dari panas dan hujan kan membutuhkan biaya.
Ana harus bisa mencari pekerjaan, tak mungkin selamanya dia menjadi satpam gratisan di depan toko setiap malamnya.
Uang yang benar-benar dia irit-irit kini hanya tinggal lima ribu saja. Buat beli satu roti juga segelas teh juga sudah habis, lalu bagaimana dia akan makan untuk nanti?
Matanya menatap miris uang lima ribu yang barusan dia keluarkan dari sakunya membalik sekali lalu kembali dia masukan ke dalam saku.
"Hem, harus cari uang dimana?" dia sangat bingung. Kalau di desa bisa dia manjat jambu milik tetangga tapi sekarang? dia ada di kota!
Kakinya melangkah menuju pasar mungkin dia bisa mendapatkan pekerjaan di sana.
Matanya membulat dengan kaki yang berlari semakin cepat saat melihat seorang nenek-nenek yang hampir terjatuh karena kelebihan bawaannya. Dengan sigap Ana membantu dan membuat nenek itu tetap berdiri.
"Hati-hati, Nek. Sini saya bawakan," katanya dengan satu tangan menahan sang nenek dan satunya lagi mengambil barang bawaannya.
"Terimakasih, Nak," senyum langsung Ana dapatkan. Terlihat nenek itu begitu senang atas bantuan Ana.
Sampai di mobil Ana mengantarkan, ternyata sang nenek bersama sopir pribadi. Ingin sekali mulut Ana nyeletuk untuk memarahi sang sopir yang tega membiarkan nenek-nenek belanja sendiri dan membawa belanjaannya sendiri sementara dia malah duduk manis di mobil dengan memainkan ponsel. Siapa yang nggak geram?
"Nek, sepertinya setelah dari sini nenek harus mencari sopir baru yang lebih berperikemanusiaan, cari sopir yang bisa menjaga nenek bukan hanya sopir yang hanya makan gaji buta," akhirnya nyeletuk beneran kan?
Sang sopir yang mendengar langsung meletakkan ponselnya juga langsung berlari keluar. Sepertinya kata-kata Ana bisa sedikit menggelitik hatinya.
"Sudah selesai nek belanjanya?" tanyanya yang terlihat hanya sebuah basa-basi saja. Ana tau itu.
"Sudah," jawab nenek.
"Nih ambil, ingat pak! jangan hanya makan gaji buta, nggak akan berkah," ucap Ana dengan sinis tangannya langsung memberikan belanjaan nenek dengan gerakan cepat.
"I_iya," jelas sang sopir merasa tertampar karena pembicaraan dari seorang bocah yang umurnya jauh di bawahnya.
Padahal sang nenek juga tidak berkomentar apapun tapi Ana saja yang terlalu sensitif. Entah, kalau ada orang-orang yang seperti itu dia akan suka banget untuk berkomentar.
Mungkin jika yang mendapat teguran tidak terima pasti sudah terjadi perdebatan sengit saat ini, tapi ternyata tidak! dia menyadari kesalahannya.
Mungkin Ana terlalu cerewet, terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi itulah dia. Tapi, itu hanya sebatas dengan orang yang di luar nalar sih kalau orangnya tidak kebangetan juga tidak akan seperti itu.
"Hati-hati, Nek," katanya dengan membantu nenek masuk ke dalam mobil.
"Iya, Nak. Terima kasih ya sudah membantu nenek," katanya.
Sang nenek langsung membuka dompet dan memberikan uang pada Ana, jelas dia akan menolak lagi.
"Ini untuk mu, Nak." katanya begitu lembut.
"Tidak, Nek. Saya ikhlas."
"Tidak apa-apa, saya malah lebih ikhlas," di genggamkan uang itu dengan tangan Ana membuat sang empu melongo karena tak bisa menolak lagi.
"Jalan pak," mobil seketika berjalan sementara Ana masih terpaku.
"Hem, apakah di kota cara hidupnya seperti ini? hanya membantu bisa dapat uang? padahal aku kan ikhlas membantunya," gumam Ana bingung.
"Heh! berani sekali kamu mengambil wilayah ku!" satu orang bertubuh besar dengan kedua anak buahnya datang dan mengejutkan Ana.
Hadeh, masalah baru untuk Ana. Siapa nih orang? terlihat sangat menyeramkan sih tapi tetap tidak membuat seorang Ana gentar dan ketakutan.
"Ini wilayah paman?"
"Paman? sejak kapan saya nikah dengan bibi mu?" songong juga nih orang. Sepertinya Ana mendapatkan lawan yang tak mudah di pasar itu.
"Hadeuh, paman. Mana ada bisa nikah dengan bibi saya kalau saya saja tidak punya bibi." Seperti biasa, tidak akan ada takut-takutnya.
"Dah ya, Paman. Saya lapar mau sarapan! Dah paman-paman!" dengan songongnya Ana juga pergi melambaikan tangan seolah tengah berpamitan dengan teman sendiri.
"Cari tau siapa dia?" kedua anak buahnya langsung mengikuti Ana, semua titah dari sang ketua pasti akan selalu di laksanakan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
"Assalamu'alaikum," seorang gadis berhijab syar'i dengan wajah imut dan begitu cantik menyapa Faisal saat berjalan di hadapannya.
Dengan wajah malu-malunya dia terus menunduk.
"Wa'alaikumsalam," Faisal juga menoleh dan juga menjawab sapaannya. Bahkan Faisal juga menghentikan obrolannya dengan Hasan.
Senyum terukir indah di bibir ketiganya. Hasan, Faisal juga gadis itu yang bernama Aira.
"Aku pergi dulu ya," Hasan hendak berpamitan tapi Faisal tidak mengizinkan dan langsung menarik kembali tangan Hasan.
"Kenapa, apa kamu takut menjadi orang ketiga?" Faisal terkekeh geli seraya berbisik pada Hasan.
"Jelas lah, siapa juga yang mau jadi orang ketiga. Dah lah, biarkan aku pergi."
"Ti_dak," Faisal menegaskan.
Gadis cantik yang awalnya menaruh rasa pada Faisal begitu juga dengan sebaliknya. Tapi keduanya tidak yakin dan hanya bagaikan cinta monyet saja yang sekedar menyapa lalu pergi.
"Kak Faisal di panggil Abah," kata Aira dan ternyata itulah alasannya kenapa Aira datang.
"Hem, terima kasih Aira. Kalau begitu aku pergi dulu, assalamu'alaikum," Faisal langsung bergegas sementara Hasan hanya melongo.
"Wa'alaikumsalam."
Bukan hanya Hasan yang melihat kepergian Faisal tapi juga Aira, masih ada rasa dari tatapan itu tapi keraguan lebih mendominasi hatinya.
Ternyata, kepergian Faisal ke negeri orang karena ingin menimba ilmu membuat jarak keduanya semakin jauh. Dulu mereka begitu dekat saat Faisal belum pergi tapi sekarang setelah pulang jarak itu sungguh terasa memisahkan.
Mungkin dulu Faisal belum tau benar bagaimana hukumnya pacaran karena dia masih sangat muda tapi sekarang setelah kembali dia pasti sudah tau itu. Yakin, ayahnya juga sudah mengajarkan hal itu.
"Kenapa, apakah kamu masih ada rasa?" Hasan yang bertanya.
"Tidak tau," Aira tidak yakin bagaimana kebenaran perasaannya.
...🌾🌾🌾🌾🌾...
Bersambung....