Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Ingin pulang



🌾🌾🌾🌾🌾


Setiap saat terus saja orang menjenguk Faisal, dari teman, keluarga jauh, juga sesama ustadz. Mereka juga ingin tau keadaan Faisal yang masuk rumah sakit dan membuat gempar seisi pesantren dalam beberapa saat.


Jelas saja, mereka akan sangat khawatir dengan Faisal. Ustadz yang akan di gadang-gadang untuk menjadi penerus untuk pesantren itu. Memang ada kedua abang juga adiknya, tapi semua sudah di pastikan.


Faisal yang lebih cocok untuk meneruskan perjuangan pesantren, ya meski dia juga akan tetap meminta bantuan pada saudaranya.


Ilham memang sudah di perbolehkan pulang karena luka-luka tidak serius dan hanya luka kecil, sementara Faisal, dia masih di tahan di rumah sakit karena masih harus mendapatkan perawatan.


Silih berganti para penjenguk datang, tapi Tasya tetap saja tak pernah meninggalkan. Tasya terus menunggunya, bahkan dari pertama masuk dia sama sekali belum pernah pulang.


Setelah sepi barulah Faisal bisa istirahat, dia sudah terlalu banyak bicara setiap kali ada yang datang dan sekarang Tasya pun tidak mengajaknya bicara karena dia ingin Faisal istirahat.


"Sya, kok diam?" Ternyata Faisal sendiri yang tak kuat untuk diam. Padahal sudah Tasya bilangin untuk diam tapi tetap saja tak bisa.


"Mas, mas haru istirahat. Dari tadi loh udah bicara terus apa nggak capek?" Tasya yang terlihat kesal.


Tasya yang kesal tapi malah Faisal yang tersenyum. Dia lebih suka Tasya yang selalu bawel seperti sekarang ini. Entah kenapa, tapi Faisal sangat suka itu.


"Bagaimana mas capek, Sya. Mas ingin denger suara kamu. Nyanyi gih atau apa?" Faisal terkekeh.


"Apaan sih, jangan aneh-aneh deh, Mas. Masak iya Tasya nyanyi, Tasya nggak bisa." Tasya menolak dengan cepat.


"Ya udah."


"Sya, maafin mas ya yang sudah bikin kamu khawatir." Faisal sangat menyesalkan semua itu, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa mengendalikan semua.


"Sudah lah, Mas. Yang terpenting kamu sudah baik-baik saja. Semoga saja pelakunya cepat tertangkap ya supaya kita bisa hidup dengan tenang."


"Amin," Faisal tersenyum. Dia senang karena Tasya sudah lebih dewasa sekarang. Dia juga lebih bisa mengontrol emosinya yang dulunya suka menggebu-gebu.


"Sya, kapan aku bisa pulang. Aku bosen di sini." Kembali Faisal bicara.


"Sudah lah, Mas. Lebih baik mas diam dan istirahat, kalau semua sudah lebih baik pasti juga akan pulang."


"Iya, tapi aku pengennya cepet pulang. Sebenarnya aku di sini nggak betah, bau obat perutku rasanya di aduk-aduk mulu. Bagaimana kalau aku tak bisa menahannya."


Ternyata meski dalam keadaan sakit seperti ini Faisal masih saja terus merasakan ngidamnya, perutnya mual, pengen muntah dan juga pusing tetap dia rasakan.


Tasya menunduk, mengelus perutnya sendiri dengan sangat pelan.


"Sayang, jangan repotin Abi dulu ya. Biarkan dia istirahat biar cepat pulih dan bisa pulang. Kamu tidak boleh nakal, kasihan abi. Oke."


Tasya menasehati anaknya yang masih ada di dalam kandungan. Entah akan bisa atau tidak tapi semoga saja bisa. Kasihan juga melihat Faisal semakin menderita.


Bukan hanya karena sakitnya saja tapi juga karena ngidamnya juga. Kan kasihan.


"Hem, kamu bisa saja, Sya. Biarin lah. Aku malah seneng kok, kalau sampai kamu yang merasakan semuanya mas malah tidak akan tega."


Tangan Faisal terangkat, mendekat kearah perut Tasya dan mengelusnya pelan.


"Baik-baik ya, Sayang. Jangan bikin Umi pusing dan juga jangan nakal."


Faisal dan Tasya malah jadi tersenyum bersama-sama dengan tangan mereka yang menyentuh perut Tasya. Saling bicara dan memberikan nasehat untuk anak mereka yang masih ada di dalam kandungan.


"Hem."


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...