Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Bimo Semakin menjadi



🌾🌾🌾🌾🌾


Amarah begitu besar dari Tuan Alex setelah pengejaran telah gagal dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Orang yang dia kejar kini telah entah sampai di mana, dia terus berusaha untuk melajukan mobilnya untuk terus mengejar tetapi hasilnya tetaplah nihil, dia tidak berhasil menemukan keberadaan Tasya maupun Faisal.


Ingin marah tetapi mau marah kepada siapa, dia tak bisa mengalahkan para anak buah yang juga sudah berusaha untuk membantunya.


"Arghh! sampai kapan aku bisa mendapatkan Tasya. Lagi-lagi harus gagal! arghh!" tuan Alex hanya terus berteriak dengan amarahnya.


Sementara para anak buah terus saja diam gak berani bicara di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan.


"Kita kembali ke pasar," titahnya dengan sangat tegas. Meski sudah tua tapi suaranya masih sangat jelas dan juga lugas, gak di ragukan lagi kalau semua anak buah takut kepadanya.


Entah hanya karena suaranya saja yang membuat semua takut atau mungkin ada hal lain. Yang jelas yang lain itu karena mereka bekerja dengannya dan terus mendapatkan uang darinya, kalau tidak bisa di pastikan semua juga tidak akan pernah ada rasa takut.


"Baik, Tuan," kata salah satu dari mereka yang menjawab titah dari tuan Alex bahkan dia juga langsung menyalakan mesin mobil dan perlahan mulai menjalankannya.


"Cepatlah!" titahnya lagi.


"Baik, Tuan," tentu dia akan menurut apa yang tuan Alex katakan meski sebenarnya dia gak mungkin langsung menjalankan dengan cepat karena baru masuk jalan tapi setidaknya dia menjawab dan membuat bosnya diam.


Sementara ketiga teman Tasya, Dadang, Agus juga Kipli mereka juga bingung mencari keberadaan Tasya, bukan hanya Tasya saja tapi juga keberadaan tuan Alex.


Tak mungkin mereka akan bisa menemukan begitu saja karena mereka sudah tertinggal jauh. Mereka hanya berjalan kaki saja tidak mungkin bisa mengejar mobil yang melaju dengan sangat cepat.


"Gila, mereka benar-benar seperti pembalap liar. Sampai-sampai kita gak bisa mengejar mereka meski sudah terus berlari."


Kipli mulai bersuara. Nafasnya terengah-engah karena baru saja berhenti berlari.


Bukan hanya Kipli berlari tetapi ada Agus juga Dadang yang mengikuti dari belakang dan sekarang juga berhenti di belakang Kipli dengan tubuh yang membungkuk dengan nafas yang tidak teratur.


"Kamu benar mereka sama-sama seperti pembalap. Untung saja tidak ada polisi yang lewat kalau sampai ada yang pasti mereka berdua akan habis dan berakhir di jeruji besi."


Dadang menambahi meski suaranya juga terdengar tersendat-sendat.


Keduanya berbicara mengatakan apa yang ada di dalam pikiran mereka sementara untuk Agus dia lebih memilih diam dan hanya mengangguk saja membenarkan apa yang keduanya katakan.


"Sekarang kita harus bagaimana Tidak mungkin kita akan terus berlari mengejar mereka yang tentu tidak akan bisa kita kejar," Kipli menoleh ke arah mereka berdua.


"Bagaimana kalau kita kembali ke pasar saja dan melihat apa yang dilakukan oleh Bimo sekarang. Semua ini gara-gara dia, seandainya saja Dia tidak melakukan kebodohan seperti ini pasti kita tidak akan lelah seperti ini," sahut Dadang.


"Kamu benar, lebih baik kita kembali ke pasar dan lihat apa yang dilakukan. Semoga saja dia tidak kembali membuat ulah," kali ini Agus berbicara memberikan saran apa yang harus mereka lakukan sekarang ini.


Mereka bertiga benar kembali melangkah untuk ke pasar untuk melihat Bimo. Meski mereka sangat malas untuk melihat Bimo sebenarnya tapi dia lebih tak ingin sampai Bimo melakukan hal yang lebih lagi.


Cukup hanya itu saja yang Bimo lakukan karena amarahnya jangan sampai ada hal lain lagi. Mereka tak akan biarkan jika Bimo akan melakukan sesuatu yang lebih buruk apalagi mengenai Tasya.


Sementara Bimo sendiri di pasar dia hanya duduk sendiri di pinggiran pembatas pasar yang tidak terlalu tinggi. Tangannya terus melemparkan batu kecil-kecil hingga masuk ke dalam selokan yang tergenang air.


Matanya memandang percikan air yang sesekali akan terbang karena ulah batu yang mendarat dan menggoyahkannya.


"Apakah aku salah jika aku mengatakan semuanya pada Tuan Alex?" ucapnya.


"Kalau memang semua itu salah maka biarkan saja. Jika hal buruk akan menimpa Tasya maka biar saja aku tidak peduli. Toh Tasya tidak pernah peduli dengan ku dan perasaan ku," begitu banyak Bimo berkata-kata.


Bermonolog dengan apa yang keluar dari dalam amarahnya. Merasa benar dengan apa yang dia lakukan.


"Kenapa harus Faisal, kenapa bukan aku yang mendapatkan Tasya. Kenapa!" suaranya mulai melengking tinggi dan begitu menggema.


Bimo tak peduli dengan dirinya yang menjadi tontonan siapa saja yang melintas tak peduli apa kata orang dan dia terus saja berbicara.


"Apa kamu menyukai Tasya?"


Pertanyaan yang terdengar membuat Bimo menoleh ke arah sumber suara. Tuan Alex datang dengan senyuman dengan tangan yang langsung menyentuh bahunya.


"Saya akan bantu kamu untuk bisa mendapatkannya. Asalkan kamu mau bekerja sama dengan ku."


Dengan perlahan Tuan Alex mengambil sisa batu yang ada di tangan Bimo dan berganti dia yang melemparkannya satu persatu.


"Kalau kamu setuju bekerja sama denganku maka aku akan benar-benar membantumu sampai Tasya bisa kamu dapatkan. Bagaimana, Apa kamu setuju?"


Tawaran yang sangat menggiurkan lagi-lagi diberikan oleh Tuan Alex kepada Bimo. Bimo terdiam, karena penawaran dari Tuan Alex yang kemarin membuat dia kehilangan ketiga sahabatnya bagaimana jika dia menerima tawaran darinya lagi, kira-kira apa yang akan hilang dari dirinya?


"Kamu harus bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Hidup hanya sekali jadi gapai semua yang kamu inginkan. Jangan pikirkan apapun, berpikirlah tentang kebahagiaan yang akan kamu dapatkan setelah kamu mendapat semuanya."


Tuan Alex terus membujuk Bimo, dia benar-benar ingin membuat Bimo menurut kepadanya untuk membuat dia bisa mendapatkan Tasya.


Sebenarnya tidak akan pernah mungkin dia benar ingin membantu Bimo untuk mendapatkan Tasya, tetapi dia hanya ingin menjadikan Bimo sebagai batu loncatan saja.


"Bagaimana, Apakah kamu menerima penawaran_ku? Bukankah ini adalah penawaran yang sangat baik dan juga menguntungkan untukmu. Aku tidak meminta apapun darimu aku benar-benar ingin membantu untuk kamu bisa mendapatkan Tasya."


Begitu manis Tuan Alex berkata kepada Bimo, dia buat selembut mungkin saat berbicara karena dengan itu Bimo pasti akan percaya kepadanya.


"Tapi aku tidak akan memaksa kamu, kalau kamu memang menerima tawaran dariku maka kita mulai secepatnya. Tetapi kalau kamu tidak mau maka lupakan saja keinginanmu itu dan aku yakin kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan Tasya sampai kapanpun." Bimo masih saja terdiam dan memikirkan semua hal yang harus dia lakukan, benarkah dia harus menerima tawaran dari Tuan Alex atau tidak! Tapi yang jelas dia sangat menginginkan Tasya untuk menjadi miliknya.


"Baiklah karena kamu tidak menjawab maka aku anggap kamu tidak membutuhkan bantuan_ku," Tuan Alex mulai kembali berdiri dan mulai berjalan perlahan untuk meninggalkan Bimo yang masih terus terdiam.


"Tunggu!" teriakan dari Bimo berhasil menghentikan langkah dari Tuan Alex.


Tuan Alex menyungging sinis tapi dia sangat senang. Bujuk rayunya akan berhasil.


"Aku terima," ucapan Bimo begitu jelas.


Tuan Alex tersenyum sebentar sebelum dia membalikkan badan.


"Baiklah, tunggu saja perintah diriku. Ikuti semua arahan dariku," hanya itu yang Tuan Alex katakan lalu melenggang pergi.


Bukan hanya tuan Alex yang merasa sangat senang, tetapi Bimo juga terlebih lagi. Dia sangat senang karena akan mendapatkan Tasya dengan bantuan dari tuan Alex.


Bugh...


"Sadar, Bim! kamu tidak akan mendapatkan Tasya dengan menyetujui permintaannya. Tapi kamu akan mendapatkan kebencian dari Tasya dan juga kamu akan kehilangan dia selamanya."


"Kamu benar-benar di butakan oleh cinta, Bim.Sampai-sampai kamu tidak bisa melihat kalau kamu hanya akan di manfaatkan oleh si tua bangka itu. Sadar, Bim. Sadar!"


Amarah begitu besar dari Agus. Dia tak menyangka kalau Bimo akan semakin nekat seperti ini.


Awalnya Agus yang selalu tak suka dengan Tasya tapi sekarang? dia juga orang pertama yang tidak menyukai keputusan Bimo untuk Tasya.


"Kau!" Bimo begitu marah karena Agus begitu berani dan memukulnya.


"Ya, aku! kenapa? Kamu pikir aku tidak akan pernah berani kepadamu, iya!"


"Ingat ya, Bim. Kamu bisa melakukan apapun untuk bisa mendapatkan Tasya, tapi aku! aku tidak akan pernah membiarkan itu. Aku akan menjadi orang pertama yang akan menentang mu. Camkan itu baik-baik!"


"Oke, kita buktikan saja siapa yang akan berhasil dalam tujuan kita. Aku atau kamu!" tantang Bimo.


"Kamu akan menyesal, Bim. Aku pastikan kamu akan menyesal," Agus melenggang pergi begitu juga dengan Dadang dan Kipli yang sedati tadi diam mendengarkan perdebatan keduanya.


"Aku tidak akan pernah menyesal! tapi kalian yang akan menyesal! kalian akan hancur karena tidak mau ikut dengan ku! kalian akan hancur di tangan tuan Alex!"


Teriakan dari Bimo sama sekali tidak di pedulikan oleh Ketiganya bahkan menoleh pun mereka tidak.


"Argghhh!" teriak Bimo.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....