Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Belanja



🌾🌾🌾🌾🌾


Bukan hanya sembarang tempat perbelanjaan tetapi Faisal mengajak Tasya ke sebuah butik besar yang tentunya menyediakan berbagai macam pakaian.


Dari pakaian laki-laki juga perempuan. Dari yang paling sopan juga yang paling mini bahkan juga pakaian malam semua tersedia dalam satu tempat.


Tasya begitu terperangah melihat tempat itu yang begitu luas dan semuanya serba ada.


Masih dengan baju yang sama Tasya berusaha untuk terlihat biasa. Lagian bajunya juga tidak terlihat seperti baju laki-laki karena dia memakai jaket milik Faisal yang dulu pernah diberikan kepadanya. Tentunya Tasya juga memakai jilbab yang tadi untuk menutupi kepalanya.


Mereka berdua terus melangkah semakin ke dalam mencari-cari baju yang pantas untuk Tasya, Faisal juga tidak ingin mengharuskan Tasya untuk menggunakan baju pilihannya tetapi Faisal membiarkan Tasya memilih sendiri baju yang akan di pakai dan yang dia rasa sangat nyaman untuk dirinya sendiri. Faisal hanya mengingatkan saja jika baju itu pantas atau tidaknya dipakai di area pesantren.


Meski sudah menyerahkan semua pilihan kepada Tasya tetapi Faisal juga memilihkan beberapa baju yang di rasa nyaman jika dipakai di dalam kamar saja.


"Lihat ini," ucap Faisal dengan memperlihatkan baju yang dia pilih untuk Tasya.


Sebuah baju tidur berbahan satin yang begitu jatuh jika dipakai dan juga berlengan pendek dan jika dipakai bawahnya hanya panjang di bawah lutut.


Susah payah Tasya menelan ludah sendiri ketika melihat baju yang dipilih oleh Faisal, memang tidak terlalu terbuka juga dibilang sopan jika pakai hanya di kamar saja, tetapi saat dipakai pasti bentuk lekuk tubuhnya akan terlihat begitu jelas.


"Ini?" mata Tasya masih membulat.


Tetapi Faisal tidak berpikir sejauh apa yang Tasya pikirkan karena bagi Faisal baju itu akan sangat nyaman jika dipakai karena tidak akan terasa panas.


"Kenapa, apa ada masalah dengan bajunya? ini bisa dipakai saat di kamar saja Tasya bukan di luar kamar jadi kamu bebas memakainya karena tidak akan ada yang melihat."


"Lalu kamu sendiri? Apa kamu tidak akan melihat?" tanya Tasya.


Sekali lagi Faisal melihat baju tersebut hingga akhirnya dia sadar. Ternyata dia salah pilih baju. Tadi dia pikir bajunya panjang sampai bawah tapi ternyata tidak.Ternyata wanita lebih sensitif dengan beberapa pakaian.


"Maaf aku tidak bermaksud, Aku hanya berpikir kalau ini akan sangat nyaman jika kamu pakai karena bahannya sangat lembut. Kalau kamu tidak berkenan juga tidak apa-apa. jujur aku benar-benar tidak termaksud apa-apa," jawab Faisal.


'Astaghfirullah, kenapa bajunya begitu banget. Pasti Tasya akan berpikir macam-macam padaku,' batin Faisal.


Faisal kembali menaruh baju tersebut ke tempat semula dan sekarang benar-benar membiarkan Tasya memilih semua kebutuhannya sendiri Faisal tidak ingin salah lagi dan Tasya akan berpikir macam-macam pada dirinya.


Meski sudah dibebaskan untuk mencari seperti apapun dan seberapa banyak pun baju yang dipilih tetapi Tasya terlihat masih sangat bingung. Dia belum pernah belanja seperti ini.


Jika dia memilih banyak pasti akan menghabiskan uang yang banyak juga.


"Tidak usah ragu, ambil saja apa yang kamu mau. Semua kebutuhanmu adalah tanggung jawabku dan aku tidak mau kalau kamu merasa kekurangan," ucap Faisal.


Tasya hanya mengangguk kecil dan kembali memilih baju-baju yang sangat nyaman jika dipakai.


"Ambil ini, dan aku akan menunggu kamu di luar. Aku yakin kamu akan lebih leluasa jika sendiri," Faisal menyodorkan kartu ATM kepada Tasya dan dengan ragu Tasya menerimanya.


Setelah kepergian Faisal Tasya terlihat buru-buru memilih apa yang diperlukan semua komplit dia beli dan dia lebih buru-buru lagi saat memilih pakaian dalam.


Dengan cepat Tasya mengambil beberapa setel pakaian itu dan langsung menyembunyikannya di antara baju-baju yang lain supaya tidak terlihat apalagi kalau sampai dilihat oleh Faisal dia pasti akan sangat malu.


Bukan itu saja. Entah apa yang merasukinya tapi Tasya kembali mengambil baju yang Faisal pilih tadi bahkan bukan hanya satu tapi tiga sekaligus setelah warna yang berbeda.


"Terima kasih Mbak," ucap Tasya setelah menerima beberapa paper bag dan juga kartu ATM yang sudah dikembalikan.


Baru kali ini Tasya merasakan belanja dengan bungkus paper bag biasanya hanya berbungkus plastik kresek berwarna hitam atau putih karena dia hanya membeli di pasar saja.


"Su_sudah," ucap Tasya dan faisal langsung menoleh ke arahnya. Melihat tangan Tasya yang memegang beberapa paper bag juga masih memegang kartu ATM pemberiannya.


"Ini kartunya aku kembalikan. Maaf belanjaan ku sangat banyak satu juta lebih," ucap Tasya yang merasa sangat sungkan.


Baginya uang segitu sudah begitu banyak karena akan membutuhkan waktu panjang untuk bisa mendapatkan uang segitu, tapi entah jika untuk Faisal pasti uang segitu tidak ada apa-apanya.


"Itu kartu untukmu, pakailah untuk membeli semua keperluan mu, dan setiap bulan aku akan mengisinya. Anggap saja itu adalah uang nafkah untukmu," ucap Faisal.


Tasya terdiam. Ya! sangat tidak percaya kalau kartu itu untuknya. Entah berapa jumlah dia tidak tahu tapi yang jelas pasti isinya sangat banyak.


"Sekarang kita makan dulu baru pulang. Sini biar aku yang bawa."


Tanpa mendengar jawaban dari Tasya Faisal sudah lebih dulu bergerak untuk mengambil semua paper bag yang ada di tangannya. Pergerakannya sangat cepat sampai-sampai Tasya tidak sempat bisa untuk menolaknya.


"Ayo," Faisal meminta Tasya untuk berjalan dan mereka berdua pun berjalan dengan berdampingan menuju mobil.


🌾🌾🌾🌾🌾


Tidak pernah bermimpi bagi Tasya akan begitu dimanjakan seperti ini, tidak pernah terbesit sebuah angan akan menikah secepat ini dengan seorang pria yang begitu baik dan sangat perhatian, juga sangat mempedulikan semua kebutuhannya.


Tasya pikir dia akan selamanya menjadi gelandangan di kota ini dan hanya akan makan dari hasil kerja yang tak seberapa juga akan membeli baju setelah bekerja keras.


Tetapi, ternyata itu hanya sebuah perjalanan dan sekarang dia berada di jalan yang sangat baik. Tasya tidak perlu memikirkan apakah akan makan ataupun tidak, tidak berpikir apakah dia akan kehujanan atau kedinginan nanti malam karena semuanya telah terpenuhi dan sangat terjamin.


Dia akan selalu kenyang dan aman di tempat yang sekarang di rumah Faisal yang akan selalu menjadi tempat di mana dia kembali setelah dia pergi.


"Kita makan dulu di sini," mobil Faisal berhenti di salah satu restoran. Tidak terlalu besar tetapi sangat ramai akan pengunjung pastilah makanan yang disajikan di dalam pasti sangat enak hingga para pengunjung begitu banyak bahkan hampir penuh.


Tasya terlihat ragu untuk turun dia belum terbiasa untuk makan di tempat yang seperti itu, bersih dan nyaman. Semua yang terjadi adalah hal baru untuknya.


"Kenapa, apakah kamu tidak mau makan di sini?" tanya Faisal yang seolah tahu keraguan di wajah Tasya.


"Bagaimana kalau kita makan di sana saja," tangan Tasya menunjuk ke arah warung kecil di pinggir jalan. Tasya akan lebih nyaman makan di warung saja daripada berada di restoran besar.


"Tapi kalau kamu keberatan aku akan ikut kamu," ucap Tasya lagi.


Baiklah, kita makan di sana sekarang. Makan di mana pun tidak masalah untukku selama makanan itu halal kenapa tidak. Apalagi makannya ditemani oleh istri pasti di mana pun akan terasa nikmat daripada makan di tempat yang besar tapi sendiri, itu tidak akan enak," jawab Faisal.


Dengan cepat Faisal kembali menjalankan mobilnya hingga berhenti di depan warung kecil di pinggir jalan yang diinginkan oleh Tasya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....